KH. Ilyas Ruhiat

Setelah belajar di Cipasung, beliau memperdalam ilmu agama di beberapa pesantren ternama di Jawa Barat dan sekitarnya.

Di pesantren-pesantren tersebut, beliau semakin mendalami ilmu syariat dan pemikiran Islam.Selain menempuh pendidikan di pesantren, KH. Ilyas Ruhiat juga mendapatkan pendidikan formal di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati, Bandung.

Di kampus ini, beliau semakin memperkaya wawasan keislaman dan memperkuat jaringan dengan ulama serta akademisi Islam.Selama perjalanan intelektualnya, KH. Ilyas Ruhiat banyak berguru kepada ulama-ulama besar di Jawa Barat dan luar daerah.

Pemikiran dan keilmuan beliau juga dipengaruhi oleh tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang kuat dalam lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).

Setelah menyelesaikan pendidikannya, KH. Ilyas Ruhiat tidak hanya menjadi ulama besar, tetapi juga berperan sebagai pendidik dan pengasuh Pondok Pesantren Cipasung.

Beliau aktif dalam mengembangkan sistem pendidikan pesantren agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Mendorong integrasi pendidikan agama dan pendidikan formal agar santri memiliki wawasan luas.

Berkontribusi dalam pembinaan kader-kader ulama NU di tingkat nasional.

KH. Ilyas Ruhiat wafat pada 18 Desember 2007 dalam usia 73 tahun di kediamannya di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Beliau meninggal dunia setelah mengalami sakit dalam beberapa waktu sebelumnya. Sebagai seorang ulama besar yang dihormati, kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, para santri, masyarakat pesantren, dan warga Nahdlatul Ulama (NU).Jenazah beliau dimakamkan di Kompleks Pemakaman Keluarga Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, tempat di mana ayahnya, KH. Ruhiat, juga dimakamkan.

  • Pemakaman KH. Ilyas Ruhiat dihadiri oleh:
  • Para ulama dan kiai dari berbagai daerah
  • Pimpinan Nahdlatul Ulama (PBNU dan PWNU)
  • Santri dan alumni Pesantren Cipasung
  • Tokoh-tokoh nasional dan masyarakat umum

Ribuan orang dari berbagai kalangan datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada beliau. Prosesi pemakaman berjalan dengan penuh penghormatan dan doa, mencerminkan besarnya jasa dan pengaruh beliau dalam dunia pesantren dan organisasi Islam di Indonesia.

Meski telah wafat, KH. Ilyas Ruhiat meninggalkan warisan besar berupa:

  •  Pendidikan pesantren yang terus berkembang melalui Pondok Pesantren Cipasung.
  •  Pemikiran Islam moderat yang tetap relevan dalam Nahdlatul Ulama dan masyarakat luas.
  •  Kepemimpinan yang menjadi teladan bagi generasi ulama dan santri berikutnya.


Kepergian KH. Ilyas Ruhiat tidak hanya menjadi kehilangan bagi keluarga dan santrinya, tetapi juga bagi umat Islam di Indonesia, terutama warga Nahdlatul Ulama yang mengenang beliau sebagai ulama yang bijak, sederhana, dan penuh dedikasi dalam membimbing umat.

No comments:

Post a Comment

Kisah Sahabat: Abu Bakar Ash-Shiddiq

Profil Singkat Nama lengkap: Abdullah bin Abi Quhafah Gelar: Ash-Shiddiq (yang membenarkan) Lahir: 573 M di Mekah Wafat: 634 M di Madinah Ke...