Achmad ditinggal abahnya dalam usia 8 tahun.
Dan sebelumnya pada usia 4 tahun, Achmad sudah ditinggal ibu kandungnya
yang wafat ditengah perjalanan di laut, ketika pulang dari menunaikan
ibadah haji. Jadi, sejak usia anak-anak, Kyai Achmad sudah yatim piatu.
Karena itu, Kyai Mahfudz Shiddiq kebagian tugas mengasuh Achmad,
sedangkan Kyai Halim Shiddiq mengasuh Abdullah yang masih berumur10
tahun. Ada yang menduga, bahwa bila Achmad terkesan banyak mewarisi
sifat dan gaya berfikir kakaknya (Kyai Mahfudz Shiddiq). Kyai Achmad
memiliki watak sabar, tenang dan sangat cerdas. Wawasan berfilkirmya
amat luas baik dalam ilmu agama maupun pengetahuan umum.
Kyai
Achmad belajar mengajinya mula-mula kepada Abahnya sendiri, Kyai
Shiddiq. Kyai Shiddiq sebagaimana uraian-uraian sebelumnya, dalam
mendidik terkenal sangat ketat (strength) terutama dalam hal sholat.
Beliau wajibkan semua putra-putranya sholat berjama'ah 5 waktu. Selain
mengaji pada abahnya, Kyai Achmad juga banyak menimba ilmu dari Kyai
Machfudz, banyak kitab kuning yang diajarkan oleh kakaknya,
Sebagaimana
lazimnya putra kyai, lebih suka bila anaknya dikirim untuk ngaji pada
kyai-kyai lain yang masyhur kemampuannya. Kyai Mahfudzpun mengirim Kyai
Achmad menimba i1mu. di Tebuireng. Semasa di Tebuireng, Kyai Hasyim
melihat potensi kecerdasan pada Achmad, sehingga, kamarnya pun
dikhususkan oleh Kyai Hasyim. Achmad dan beberapa putra-putra kyai
dikumpulkan dalam satu. kamar. Pertimbangan tersebut bisa dimaklumi,
karena para putra kyai (dipanggil Gus atau lora atau Non) adalah putra
mahkota yang akan meneruskan pengabdian ayahnya di pesantren, sehingga
pengawasan, pengajaran dan pembinaannyapun cenderung dilakukan secara,
khusus/lain dari santri urnumnya.
Pribadinya yang
tenang itu. menjadikan Kyai Achmad disegani ol eh teman-temannya. Gaya
bicaranya yang khas dan memikat sehingga dalam setiap khitobah, banyak
santri yang mengaguminya. Selain itu, Kyai Achmad juga seorang kutu
buku/ kutu kitab (senang baca). Di pondok Tebuireng itu pula, Kyai
Achmad berkawan dengan Kyai Muchith Muzadi. Yang kemudian hari menjadi
mitra diskusinva dalam merumuskan konsep-konsep strategis, khususnya
menyangkut ke-NU-an, seperti buku Khittah Nandliyah, Fikroh Nandliyah,
dan sebagainya.
Kecerdasan dan kepiaNvaiannya berpidato, menjadikan Kyai Achmad sangat dekat hubungannya dengan Kyai Wahid Hasyim.
Kyai
Wahid telah membinbing Kyai Achmad dalam Madrasah Nidzomiyah.
Perhatian Gus Wahid pada. Achmad sangat besar. Gus Wahid juga mengajar
ketrampilan mengetik dan membimbing pembuatan konsep-konsep.
Bahkan
ketika Kyai Wahid Hasyim memegang jabatan ketua. MIAI, ketua NU dan
Menteri Agama, Kyai Achmad juga yang dipercaya sebagai sekretaris
pribadinya. Bagi Kyai Achmad Shiddiq, tidak hanya ilmu KH. Hasyim
Asy'ari yang diterima, tetapi juga ilmu dan bimbingan Kyai Wachid
Hasyim direnungkannya secara mendalam. Suatu pengalaman yang sangat
langka, bagi seorang santri.
B. Ketokohan Kyai Achmad
Ketokohan
Kyai Achmad terbaca masyarakat sejak menyelesaikan belajar di pondok
di Tebuireng, Kyai Achmad Shiddiq muda mulai aktiv di GPII (Gabungan
Pemuda Islam Indonesia) Jember. Karirnya di GPII melejit sampai di
kepengurusan tingkat Jawa Timur, dan pada Pemilu 1955, Kyai Achmad
terpilih sebagai anggota DPR Daerah sementara di Jember.
Perjuangan
Kyai Achmad dalam mempertahankan kemerdekaan '45 dimulai dengan
jabatannya sebagai Badan Executive Pemerintah Jember, bersama A Latif
Pane (PNI), P. Siahaan. (PBI) dan Nazarudin Lathif (Masyumi). Pada saat
itu, bupati dijabat oleh "Soedarman, Patihnya R Soenarto dan Noto
Hadinegoro sebagai sekretaris Bupati.
Selain itu, Kyai
Achmad juga berjuang di pasukan Mujahidin (PPPR) pada tahun 1947. Saat
itu Belanda. melakukan Agresi Militer yang pertama. Belanda merasa
kesulitan membasmi PPPR, karena anggotanya adalah para Kyai. Agresi
tersebut kemudian menimbulkan kecaman internasional terhadap Belanda
sehingga muncullah Perundingan Renville. Renville memutuskan sebagai
berikut:
1. Mengakui daerah-daerah berdasar perjanjian Linggarjati
2. Ditambah daerah-daerah yang diduduki Belanda lewatAgresi harus diakui Indonesia.
Sebagai
konsekwensinya perjanjian Renville, maka pejuang-pejuang di daerah
kantong (termasuk Jember) harus hijrah. Para pejuang dari Jember
kebanyakan mengungsi ke Tulung Agung. Di sanalah Kyai Achmad
mempersiapkan pelarian bagi para pejuang yang mengungsi tersebut.
Pengabdiannya
di pemerintahan dimulai sebagai kepala KUA (Kantor Urusan Agama) di
Situbondo. Saat itu di departemen Agama dikuasai oleh tokoh-tokoh NU.
Menteri Agama adalah KH. Wahid Hasyim (NU). Dan karirnya di pemerintahan
melonjak cepat. Dalam waktu singkat, Kyai Achmad Shiddiq menjabat
sebagai kepala, kantor Wilayah Departemen Agama di Jawa Timur.
Di
NU sendiri, karir Kyai Achmad bermula di Jember. Tak berapa lama, Kyai
Achmad sudah aktiv di kepengurusan tingkat wilayah Jawa Timur,
sehingga di NU saat itu ada 2 bani Shiddiq yaitu: Kyai Achmad dan Kyai
Abdullah (kakaknya). Bahkan pada Konferensi NU wilayah berikutnya,
pasangan kakak beradik tersebut dikesankan saling bersaaing dan
selanjutnya Kyai Achmad Shiddiq muncul sebagai ketua wilayah NU Jawa
Timur
Tetapi Kyai Achmad merasa tidak puas dengan
kiprahnya selama ini. Panggilan suci untuk mengasuh pesantren
(tinggalan Kyai Shiddiq) menuntut kedua Shiddiq tersebut mengadakan
komitmen bersama. Keputusannya adalah Kyai Abdullah Shiddiq lebih
menekuni pengabdian di NU Jawa Timur, sedangkan Kyai Achmad Shiddiq
mengasuh pondok pesantrennya,
Kyai Achmad Shiddiq
termasuk ulama yang berpandangan moderat dan unik sebagai tokoh NU dan
kyai, ia tidak hanya alim tetapi juga memiliki apresiasi seni yang
mengagumkan. Beliau tidak hanya menyukai suara Ummi Kultsum, bahkan
juga suka suara musik Rock seperti dilantunkan Michael Jackson.
"Manusia itu memiliki rasa keindahan, dan seni sebagai salah-satu jenis
kegiatan manusia tidak dapat dilepaskan dari pengaturan dan penilaian
agama (Islam). Oleh karena itu, apresiasi seni hendaknya ditingkatkan
mutunya. "Apresiasi seni itu harus diutamakan mutu dari seni yang hanya
mengandung keindahan menuju seni yang mengandung kesempurnaan, lalu
menuju seni yang mengandung keagungan.Selanjutnya Kyai Achmad memberikan
penjelasan sebagai berikut, Seni itu sebaiknya :
1 . Ada seni yang diutamakan seperti sastra dan kaligrafi.
2. Ada seni yang dianjurkan seperti irama lagu dan seni suara.
3. Ada seni yang dibatasi seperti seni tari.
4. Ada seni yang dihindari seperti pemahatan patung dan seni yang merangsang nafsu
Dalam
memberikan nama untuk anak-anak-nya, Kyai Achmad senantiasa
mengkaitkan calon nama yang bernuansa seni dengan pengabdian atau
peristiwa-penstiwa penting. Seperti kelahiran putranya yang lahir
bersamaan dengan karimya sebagai anggota DPR Gotong-Royong, yaitu
Mohammad Balya Firjaun Barlaman, demikian juga Ken Ismi Asiati Afrik
Rozana, lahir bertepatan dengan konferensi Asia Afrika.
Kyai Achmad menikah dengan Nyai H. Sholihah binti Kyai Mujib pada tanggal 23 Juni 1947, dan dikaruniai 5 orang anak, yaitu:
1. KH. Mohammad Farid Wajdi (Jember)
2. Drs. H. Mohammad Rafiq Azmi (Jember)
3. Hj. Fatati Nuriana (istri Mohammad Jufri Pegawai PEMDA Jember).
4. Mohammad Anis Fuaidi (wafat kecil), clan
5. KH. Farich Fauzi (pengasuh pondok pesantren Al-Ishlah Kediri).
Nyai
Sholihah tidak berumur panjang, Allah memanggilnya ketika
putra-putrinya masih kecil. Sehingga keempat anaknya itu di asuh oleh
Nyai Hj. Nihayah (adik kandung ketiga Nyai Sholihah). Melihat eratnya
hubungan anak-anak dengan bibinya, maka Nyai Zulaikho (kakaknya)
kemudian mendesak Kyai Achmad agar melamar Nihayah. Dan Kyai Mujib pun
menerima lamaran tersebut. Pernikahan Kyai Achmad Shiddiq dengan Nyai
Hj. Nihayah binti KH. Mujib (Tulung Agung) memnpunyai 8 orang putra,
yaitu:
1. Asni Furaidah (isteri Zainal Arifin, SE.)
2. Drs. H. Moh. Robith Hasymi (Jember).
3. Ir. H. Mohammad Syakib Sidqi (Dosen di Sumatra Barat)
4. H. Mohammad Hisyarn Rifqi (suami Tahta Alfina Pagelaran, Kediri).
5. Ken Ismi Asiati Afrik Rozana, BA (istri Drs. Nurfaqih, guru SMA Jember).
6. Dra. Nida, Dusturia (istri Tijani Robert Syaifun Nuwas bin Kyai Hamim Jazuli).
7. H. Mohammad Balya Firjaun Barlaman (pengasuh PP. Al Falah Ploso Kediri).
8. Mohammad Muslim Mahdi (wafat kecil)
Aktivitas
pengajian Kyai Achmad mendapatkan sambutan hangat di masyarakat.
Pesan-pesan agama disampaikannya dengan bahasa dan logika yang
sederhana sehingga mudah dicerna. semua kalangan.
Pengajian-pengajiannya dikemas secara khusus, seperti yang peruntukkan
untuk masyarakat umum (kalangan awam) pada setiap malam senin sudah
dirintisnya sejak tahun 1970-an dan tetap berlangsung hingga sekarang,
Pengajian setiap malam Selasa, yang diperuntukkan bagi kalangan
intelektual, sarjana, dosen dan tokoh-tokoh masyarakat membahas secara,
kontemporer dan apresiatif kitab Ihya' Ulumiddin karangan Imam
Ghozali.
Pengajian-pengajian Kyai Achmad banyak
bernuansa Tasawwuf. Ada 3 unsur utarna dari tasawwuf yang dapat
menuntun seseorang untuk bertasawwuf dari tingkat rendah menuju
peningkatan diri secara bertahap, yaitu:
1. Al Istiqomah: yang
berarti; tekun, telaten, terus-menerus tidak bosan-bosan mengamalkan apa
saja yang dapat diamalkan Mungkin baca Yasin tiap malam Jum'at,
mungkin baca Istighfar sekian kali dalam setiap malam, dan sebagainya.
2.
Az Zuhd: yang berarti terlepas dari ketergantungan hati /batin dengan
harta benda kekuasaan, kesenangan, dan sebagainya, yang ada, di
tangannya sendiri, apalagi yang ada di tangan orang lain. Tidak
tergantung berbeda dengan tidak memiliki, berbeda, dengan tidak punya.
Seorang "Zahid" bisa saja kaya, tetapi hatinya tidak tergantung pada
kekayaannya. Barang siapa yang tidak berputus asa karena sesuatu yang
terlepas dari tangannya dan tidak bergembira, (melewati batas) dengan
sesuatu yang diterimanya dari Allah maka dia sudah mendapatkan zuhud
pada, kedua belah ujungnya.
3. Al Faqir: artinya, selalu menyadari
kebutuhan diri kepada Allah. Kesadaran yang mendalam dan
terus-menerus, tentang "dirinya membutuhkan Allah" tidak selalu ada
pada setiap orang. Pada suatu saat kesadarannya, akan tinggi tetapi
saat lain kesadarannya menurun.
C. Dzikrul Ghofilin
Pengajian
malam Senin tersebut itu dinamakan "Majlis Dzikrul Ghofilin" yang
artinya, majlis dzikirnya orang-orang lupa. Maksudnya orang-orang yang
lupa adalah sifat relatif pada manusia yang selalu lupa. (agar selalu
ingat Allah) sehingga perlu selalu diingatkan melalui Dzikir tersebut.
Pada acara-acara tersebut, selain mengamalkan sholat tasbih, dzikir,
Kyai Achmad biasanya mendahului menyampaikan ceramah agamanya.
Majlis
Dzikrul Ghafilin yang dirintis pada awal tahun 1970-an tersebut 20
tahun berikutnya telah dilkuti oleh sekitar 20.000 orang Jamaah yang
tersebar diseluruh Jawa, dan selanjutnya Jamaah pada setiap daerah
mengembangkannya lebih lanjut dikawasan masing-masing.Secara historis,
pada tahun 1973 Kyai Achmad mendapat ijazah dari Kyai Hamid untuk
membaca Fatihah 100 kali setiap hari. Selanjutnya. Kyai Achmad
mengadakan riyadlah di PPI. Ashtra beberapa tahun, baru setelah itu
bacaan fatihah 100 kali dipadukan dengan bacaan lain untuk diwiridkan
bersama-sama. Kemudian cara mernbacanya bisa dibagi dan dicicil dengan
ketentuan: Subuh 30 kali, Dhuhur 25 kali, Ashar 20 kali, Maghrib 15 kali
dan Isya' 10 kali. Dzikrul Ghafilin paling afdhal jika dibaca setelah
sholat dan dibaca dengan hati yang talus ikhlas. Ada ceritera menarik
antara Kyai Achmad dan Kyai Hamid: "Setiap memasuki tapal batas
Pasuruan, Kyai Achmad selalu mengucapkan salam kepada Kyai Harnid.
Ketika bertemu, Kyai Hamid menyatakan bahwa beliau selalu menjawab salam
Kyai Achmad".
Dzikrul Ghafilin yang namanya diambil
dari Al-Qur'an surat Al-'Araf 172 dan 265 menurut Kyai Achmad adalah
wirid biasa, bukan wirid. thariqat. Jika tariiqat dengan bai'at, kalau
tidak menegakkan pasti dosa, sedang dzikrul ghafilin adalah dengan
ijazah. Pengamalannya tanpa menimbulkan efek camping dan isi bacaannya
terdiri dari Al-Fatihah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Istighfar, Sholawat
dan tahlil
Ada 3 orang Kyai yang ikut meramu
bacaan-bacaan dalam dzikrul ghafilin, yaitu: KH. Abdul Hamid bin
Abdullah (Pasuruan), KH. Achmad Shiddiq (Jember) dan KH. Hamim Jazuli
(Gus Mik, Kediri). Bahkan menurut Gus Mik, ada tiga tokoh lagi yang
ikut andil dalam wirid dzikrul ghafilin, yaitu Mbah Kyai Dalhar (Gunung
Pring Muntilan Magelang), Mbah Kyai Mundzir (Banjar Kidul Kediri), dan
Mbah Kyai Hamid (Banjar Agung Magellang).
Tawashul bil Fatihah, dalam kitab dzikrul ghafilin ditujukan kepada:
1 . Rasulullah Muhammad Saw.
2. Malaikat Jibril, Mikail, Isrofil, Izroil, Penjaga Arsy, dan Malaikat Muqorrobin.
3. Nabi-nabi dan Rasul-rasul
4. Ulul Azmi (Nabi Nuh As, Nabi lbrohim As, Nabi Musa As, Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw)
5.
Istri-istri Nabi (Siti Aisyah, Siti Hafsoh. Siti Sa'udah, Siti
Shofiayh, Siti Maimunah, Siti Roulah, Siti Hindun,Siti Zainab, dan Siti
Zuwairiyah)
6. Putra-putri Nabi (Qosyim, Abdullah, Ibrohim, Fatimah, Zainab,Ruqoyyah dan Ummi Kultsum).
7. Keturunan (Dzurriyah) Nabi saw.
8. KeluargaNabi saw.
9. Shahabat Nabi saw, khususnya Ahli Badar (yang wafat saat perang Badar, dari Muhajirin dan Anchor)
10.
Pengikut Nabi saw yaitu para Syuhada', 'ulama, 'auliya', sholihin,
mushonniffin, muallifin, Mbah-mbah,orang tua (bapak dan ibu) dan
orang-orang yang benar.
11. Nabi Khodliri Abi Abbas Balya bin Malkan As.
12. Sultonil' Auhya' Awwal yaitu:
a. Abi Muhammad Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib
b. Sayyidina Husein ra.
c. Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra.
d. Sayyidatina. Fatimah Az-Zahro ra,
13. Sayyid Syech Muhyiddin Abu Muhammad (Sultonil' Auliya' Syech Abdul Qodir Al-Jilani ra) bin Abi Sholih Musa jangkadusat
14. Sayyid Syech Ali Muhammad Bahauddin Naqsabandi ra.
15. Sayyid Syech Abu Hamid Muhammad Al-Ghozali ra.
16. Sayyid Syech Achmad Ghozali (adik Imam Ghozali)
17. Sayyid Syech Abi Bakar As-Syibbli ra.
18. Sayyid Syech Qutub Ghowtsi Habib Abdillah bin Alwi Haddad ra.
19. Sayyid Syech Abi Yazid Toymuri bin lsa Bustomi ra.
20. Sayyid Syech Muhammad Hanafi.
21. Sayyid Syech Yusuf bin Ismail A-Nabhani ra.
22. Sayyid Syech Jalaluddin As-Suyuti ra.
23. Sayyid Syech Abu Zakariya Yahya bin Sarafinnawawi ra.
24. Sayyid Syech Abdul Wahhab As-Syaroni ra.
25. Sayyad Syech Ali Nuruddin Asy-Syowni ra.
26. Sayyid Syech Abi Abbas Achmad bin Ali Al-Buni ra.
27. Sayyid Svech Ibrohim bin Adhama ra.
28. Sayyid Syech Ibrohim. Ad-Dasuqi ra.
29. Sayyid Syech Abu Abbas Syihabuddin Achmad bin Umar Anshori Al-Anshori Al-Mursiy
30. Sayyid Syech Sa'id Abdul Karim Al-Bushiri.
31. Sayyid Syech Abu Hasan Al-Bakri.
32. Sayyid Syech Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Buchori.
33. Sayyid Syech Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani.
34. Sayyid Syech Tajuddin bin Athoillah Al-Askandari ra.
35. Mazhab Ernpat, Khususnya:
a. Sayyid Syech Imam Muhammad bin Idris As-Syafi'i
b. Sayyid Syech Abu Hafsin Umar As-Suhrawardi
c. Sayyid Syech Abi Madyan
d. Sayyid Syech Ibnu Maliki Al-Andalusi
e. Sayyid Syech Abu Abdulloh Muhammad bin SulaimanAl - Jazuli
f. Sayyid Syech Muhyiddin bin Al-Arabi
g. Sayyid Syech Imon bin Husayni ra.
36. Al Qutub Al Kabir Sayyid Syech Abdussalam 1bnu Masyisyi
37. Sayyid Syech Abu Hasani. Ali bin Abdillah bin Abdul Jabbar As-Syadzi1i
38. Sayyid Syech Abi Mahfudz Ma'ruf Al-Karkhiy
39. Sayyid Syech Abi Hasani Sari As-Saqofi
40. Sayyid Syech Abu Qosim Al-Imam Junaidi Al-Baghdadi
41. Sayyid Syech Abu `Abbas Ahmad Badawi
42. Sayyid Syech Abu Husain Rifa'i
43. Sayyid Syech Abu Abdillah Nu' man
44. Sayyid Syech Imam Hasani bin Abu Hasani Abi Sa'id Bashri
45. Sayyidati Robi'ah Al-Adawiyah ra.
46. Sayyidati Ubaidah binti Abi Kilab ra
47. Sayyid Syech Abu Sulaiman Ad-Daroni ra
48. Sayyid Syech Abu Abdillah Al-Harits bin Asadi Al-Muhasibi ra.
49. Sayyid Syech Abi Faydl dzinnun Al-Misry ra,
50. Sayyid Syech Abi Zakariyya. Yahya bin Mu'adz Ar-Rozy ra
51. Sayyid Syech Abi Sholih Hamdun an-Naisabur.
52. Sayyid Syech Husaini bin Mansur Al-Hallaj ra.
53. Sayyid Syech Jalaluddin Ar-Rumy ra.
54. Sayyid Syech Abi Hafsin Syarafiddin Umar bin Farid Al- Hamawiy Al-Mirsi ra.
55. Ikhwan Dzikrul Ghafilin
56. Orang yang hidup dan mati baik itu:
a. Orang-orang shalihin
b. Auliya Rijalillah
c. Orang-orang yang Arif
d. Ulama Amilin
e. Para Auliya Jawa dan Madura khususnya Wali Songo
f. Kaum Sufi Muhaqiqin
Tentang "Tawassul", Kyai Achmad memberikan penjelasan bahwa do' a tawashul ada dua macam:
1.
Doa yang harus "dikatrol", yaitu. Yaitu orang yang tidak faham dan
tidak maqbul do' anya akan dikatrol (ditolong) oleh orang faham dan
khusyu' dalam berdo'a Hal ini sama dengan sholat berjama'ah tersebut.
Bila salah satu diterima amal sholatnya maka diterima semua yang
berjama'ah tersebut. Karena itu sholat berjama'ah lebih baik dari
sholat sendiri. Bahkan Imam Hambali menghukumi Fardlu Ain. Ada Hadits
Nabi sebagai berikut: "Nabi didatangi seorang sahabat. Sahabat
menyampaikan bahwa ia sering lupa do'a yang sudah diajarkan Nabi. Lalu
Nabi mengatakan, "Bacalah do'a di bawah ini" maka nilainya sama".
"Ya
Allah aku tidak tabu apa yang di doakan oleh Nabi Tapi aku juga ikut
mohon doa itu. Dan apa yang diminta NAbi untuk dijauhkan dari bahaya,
aku juga mohon ya Allah".
4. Doa yang bersifat
"dorongan" yaitu: orang yang berdoa tidak maqbul karna jiwanya tidak
bersih, sehingga perlu didorong atau di amini oleh orang yang maqbul
doanya dan bersih hatinya ,Ada hadits sebagai berikut "Ada tiga orang
sahabat yang sedang berzikir di masjid. Salah satunya adalah Abu
Hurairah yang masih muda usia. Lalu masuklah Nabi sambil bersabda:
berdoalah kamu dan aku mengamininya. Satu persatu mereka berdoa dan di
amini oleh Nabi. Giliran ketiga pada Abu Hurairah berdoa sebagai
berikut: "Ya Allah semua yang diminta sahabat yang pertama, aku mohon
juga. Begitu pula yang diminta sahabat yang kedua aku mohon juga
Sekarang aku mohon untuk diriku sendiri. Ya Allah sejak kecil aku ini
pelupa, aku mohon agar dapat hafal semua yang diajarkan Nabi". Doa Abu
Hurairah inipun di amini Nabi, maka sejak itulah la menjadi
penghafal/perawi Hadits terbanyak. Ini karena dorongan amin Nabi yang
langsung di terima Allah".
Pengajian Dzikrul Ghafilin
ini semakin lengkap dan dilkuti oleh ribuan muslimin/muslimat, setelah
digabung dengan sema'an Al-Qur'an Mantab" yang dirintis oleh Gus Mik,
dan kini dikoordinasi oleh KH. Farid Wajdi (putra Sulung Kyai Achmad).
Pengajian "Dzikrul Ghafillin dan Istima'ul Qur'an" ini tidak hanya
dilakukan di Jember, bahkan hampir semua Kabupaten di Jawa Timur dan
Jawa Tengah (ternasuk Kraton Yogya dan kantor-kantor pemerintah pun)
sudah mengadakan kegiatan ini secara rutin.
Kedekatan
KH. Achmad Shiddiq dengan Gus Mik tidak hanya pada penggabungan Dzikrul
Ghofilin dengan sema' an Qur' an Mantab saja. Bahkan eratnya hubungan
itu terikat rapat setelah kedua tokoh itu "besanan". Putra Kyai Achmad
(Gus Hisyam Rifqi) menikah dengan putri Gus Mik (Tahta Alfina
Pagelaran) sedang Ning Nida Dusturia (Putri Kyai Achmad) Dinikahkan
dengan Gus Robert Syaifun Nuwas (putra Gus Mik), lebih dari itu Gus
Firjaun (putera Bungsu Kyai Achmad) menikah dengan Ning Sofratul
Lailiyah (Ponaan Gus Mik).
Dengan dzikrul ghafilin
Kyai Achmad berikhtiar menciptakan suasana religius guna membentengi
masyarakat dalam memasuki kehidupan modern, karena modernisasi menurut
Kyai Achma cenderung membawa mudirrunisasi. yakni suatu proses yan
mengarah kepada sesuatu yang memudharatkan, sehingga pengembangan
suasana religius merupakan kondisi yang harus mendapatkan prioritas.
D. Bintang Kyai Achmad
Pada
Munas Ulama NU di Situbondo pada bulan Desember 1983, KH. Achmad
Shiddiq menjelaskan makalahnya tentang "Penerimaan Azas Tunggal
Pancasila bagi NU". Beliau menyampaikan pokok-pokok fikiran dan
berdialog tanpa kesan apolog: Beliau ungkap argumentasi secara mendasar
dan rasional dari segi agama, historis maupun politik. "Pancasila dan
Islam adalah hal yang dapat sejalan dan saling menunjang. Keduanya
tidak bertentangan dan jangan dipertentangkan",kata Kyai Achmad.
Lebih
lanjut ditegaskan: "NU menerima Pancasila berdasar pandangan syari'ah.
bukan semata-mata berdasar pandangan politik. Dan NU tetap berpegang
pada ajaran aqidah dan syariat Islam. Ibarat makanan, Pancasila itu
sudah kita makan selama 38 tahun, kok baru sekarang kita persoalkan
halal dan haramnya katanya setengah bergurau penuh diplomatic. Sungguh
luar biasa, ratusan kyai yang sejak awal menampik Pancasila sebagai
satu-satunya Azas organisasi, berangsur-angsur berobah sikap dan
menyepakatinya. Sejak saat itulah, sejarah mencatat NU menjadi ormas
keagamaan yang pertama menerima Pancasila sebagai satu-satunya Azas.
Nama
Kyai Achmad melejit bak "Bintang Kejora", dalam Munas NU itu. Dan tak
heran, dalam Muktamar NU ke 27 di Situbondo itu, Kyai Achmad Shiddiq
terpilih sebagai Ro'is Aam PBNU, sedang KH. Abdurrahman Wahid sebagai
Ketua Umum Tanfidziahnya, bentuk pasangan yang, ideal.
Duet
Kyai Achmad dan Gus Dur temyata marnpu mengangkat pamor NU ke
permukaan. Beberapa. kali NU bisa selamat ketika menghadapi setiap
persoalan besar dan pelik berkat kepemimpinan keduanya. Semisal
goncangan, ketika Kyai As' ad yang kharismatik mengguncang NU dengan
sikap mufaroqohnya terhadap kepemimpinan Gus Dur. Dalam Munas NU di
cilacap tahun 1987, Kyai As' ad menginginkan Gus Dur dijadikan agenda
Munas, dan diganti. Namur demikian, Kyai Achmad Shiddiq dan Kyai Ali
Ma'shum tampil membelanya.
Kyai Achmad dalam posisi
sulit dan menentukan itu mampu meyakinkan warga NU untuk tetap kukuh
dengan khittah NU 1926. Pada Muktamar ke-28 di Yogyakarta pada tahun
1989 Kyai Achmad menegaskan pendiriannya tentang Khittah. "NU ibarat
kereta, api, bukan taksi yang bisa, dibawa, sopirya, ke mana, saja. Rel
NU sudah tetap", ujarnya bertamsil. Dengan tamsil ini pula Muktamar
Yogyakarta dapat mempertahankan duet Kyai Achmad dengan Gus Dur.
Dan
kepulangan Kyai Achmad dari Muktamar Yogyakarya, Kyai Achmad sakit
Diabetes Melitus (kencing manis yang parsh). Kyai Achmad dirawat di RS.
Dr. Sutomo, Surabaya.
"Tugasku di NU sudah selesai", kata Kyai
Achmad Shiddiq pada rombongan PBNU yang membesuknya di RSU Dr. Sutomo,
Ternyata isyarat itu benar. Tanggal 23 Januari 1991, Kyai Achmad
Shiddiq wafat. Rois Aam PBNU yang berwajah sejuk itu menanggalkan
beberapa jabatan penting:
1. Anggota DPA (Dewan Pertimbanzan Agung)
2. Anggota BPPN (Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional)
KH
Achmad Shiddiq dimakamkan di kompleks makam Auliya, Tambak Mojo,
Kediri. Di makam itu juga sudah dimakamkan 2 orang Auliya sebelumnya.
"Aku seneng di sini Besok kalau aku mati dikubur sini saja", wasiat
Kyai Achmad pada istri dan anak-anaknya. Walaupun berat hati karena
jauhn dari Jember, keluarganyapun merelakannya sebagai penghormatan
pada bapak yang sangat di cintainya
Ribuan muslimin
dan muslimat melayat ke pemakaman Kyai Achmad Shiddiq. Jenazah terlebih
dulu disemayamkan di rumah duka (kompleks Pesantren Ashtra.
Talangsari) dan keesok harinya, barulah beriring-iringan mobil yang
berjumlah seratus itu mengantarkannya di tempat yang jauh, tetapi
menyenangkannya. Sang Bintang Kejora itu jauh dari Jember tetapi
sinarnya tetap cemerlang dari pemakaman Tambak Ngadi Mojo Kediri Jawa
Timur.
Sekitar 5 tahun setelah wafatnva, tepatnya pada
tanggal 9 Nopember 1995, Kyai Achmad masih mendapatkan penghargaan
"Bintang Maha Putera NARARYA, dari Pemerintah dan beliau tercatat
sebagai Pahlawan Nasional Mantan Tokoh NU. (pondokpesantren)