Showing posts with label Sahabat Nabi. Show all posts
Showing posts with label Sahabat Nabi. Show all posts

SAHABAT NABI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

 


A. Nama dan Asal Usul Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan sangat tinggi dalam sejarah Islam. Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay al-Qurasyi at-Taimi. Beliau lebih dikenal dengan nama Abu Bakar. Beliau berasal dari suku Quraisy, tepatnya dari Bani Taim. Abu Bakar lahir di Makkah sekitar tahun 573 M, beberapa tahun setelah kelahiran Rasulullah ﷺ. Beliau berasal dari keluarga yang memiliki kedudukan baik di tengah masyarakat Quraisy dan dikenal sebagai orang yang memiliki akhlak terpuji, jujur, cerdas, serta memiliki hubungan sosial yang luas.

B. Gelar Ash-Shiddiq

Abu Bakar mendapatkan gelar Ash-Shiddiq, yang berarti orang yang sangat membenarkan atau orang yang sangat jujur. Gelar tersebut menunjukkan sifat beliau yang selalu membenarkan Rasulullah ﷺ dan memiliki keyakinan yang kuat terhadap kebenaran risalah Islam. Salah satu peristiwa yang sangat terkenal adalah ketika Rasulullah ﷺ menceritakan peristiwa Isra dan Mi'raj. Ketika sebagian masyarakat Quraisy meragukan peristiwa tersebut, Abu Bakar langsung membenarkan Rasulullah ﷺ. Sikap tersebut menunjukkan kuatnya keimanan dan kepercayaan beliau kepada Rasulullah ﷺ.

C. Kehidupan Sebelum Masuk Islam

Sebelum memeluk Islam, Abu Bakar dikenal sebagai seorang pedagang yang sukses. Beliau memiliki pengetahuan yang baik tentang nasab atau garis keturunan bangsa Arab dan dikenal sebagai orang yang berakhlak baik. Abu Bakar tidak dikenal sebagai orang yang suka menyembah berhala atau melakukan kebiasaan buruk yang dilakukan sebagian masyarakat jahiliah. Beliau juga dikenal memiliki sifat dermawan, jujur, dan mudah membantu orang lain. Hubungan Abu Bakar dengan Muhammad ﷺ telah terjalin sebelum Rasulullah ﷺ menerima wahyu. Keduanya dikenal memiliki hubungan persahabatan yang dekat dan saling mempercayai.

D. Abu Bakar sebagai Orang yang Awal Memeluk Islam

Ketika Rasulullah ﷺ menerima wahyu dan mulai menyampaikan dakwah Islam, Abu Bakar termasuk orang-orang yang paling awal menerima Islam. Beliau menerima dakwah Rasulullah ﷺ dengan penuh keyakinan tanpa banyak keraguan. Setelah masuk Islam, Abu Bakar tidak hanya beriman untuk dirinya sendiri, tetapi juga aktif mengajak orang-orang terdekatnya untuk mengenal dan menerima Islam. Melalui dakwah Abu Bakar, beberapa tokoh penting kemudian masuk Islam, di antaranya Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Mereka kemudian menjadi sahabat-sahabat besar yang memiliki peranan penting dalam perkembangan Islam.

E. Pengorbanan Abu Bakar dalam Dakwah Islam

Abu Bakar memberikan banyak pengorbanan untuk mendukung dakwah Rasulullah ﷺ. Beliau menggunakan harta, tenaga, pikiran, dan kedudukannya untuk membantu perjuangan Islam. Salah satu bentuk pengorbanannya adalah membebaskan sejumlah budak yang disiksa karena memeluk Islam. Salah satu yang terkenal adalah Bilal bin Rabah, yang disiksa oleh tuannya karena mempertahankan keimanannya. Abu Bakar membeli dan membebaskan Bilal serta beberapa orang lainnya. Tindakan tersebut menunjukkan bahwa Abu Bakar tidak hanya berbicara tentang keimanan, tetapi juga membuktikannya melalui tindakan nyata.

F. Kedekatan Abu Bakar dengan Rasulullah ﷺ

Abu Bakar merupakan salah satu sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ. Beliau selalu mendampingi Rasulullah ﷺ dalam berbagai keadaan. Abu Bakar juga termasuk sahabat yang banyak memberikan bantuan kepada Rasulullah ﷺ dalam menghadapi tekanan dan ancaman kaum Quraisy. Hubungan keduanya bukan hanya hubungan antara seorang pemimpin dan pengikut, tetapi juga merupakan persahabatan yang sangat kuat dan penuh kepercayaan. Rasulullah ﷺ juga memberikan penghormatan yang besar kepada Abu Bakar karena keimanan, pengorbanan, dan kesetiaannya.

G. Abu Bakar dalam Peristiwa Hijrah

Ketika tekanan kaum Quraisy terhadap Rasulullah ﷺ semakin kuat, Rasulullah ﷺ mendapatkan izin untuk berhijrah dari Makkah menuju Madinah. Abu Bakar mendapatkan kehormatan untuk menjadi teman perjalanan Rasulullah ﷺ dalam hijrah tersebut. Dalam perjalanan, keduanya sempat bersembunyi di Gua Tsur untuk menghindari pengejaran kaum Quraisy. Peristiwa ini menunjukkan keberanian sekaligus kesetiaan Abu Bakar kepada Rasulullah ﷺ. Dalam keadaan yang sangat berbahaya, Abu Bakar tetap mendampingi Rasulullah ﷺ dan tidak meninggalkan beliau.

H. Peran Abu Bakar Setelah Hijrah ke Madinah

Setelah sampai di Madinah, Abu Bakar tetap aktif mendampingi Rasulullah ﷺ dalam membangun masyarakat Islam. Beliau ikut serta dalam berbagai peristiwa penting dan peperangan yang terjadi pada masa Rasulullah ﷺ. Abu Bakar juga selalu memberikan nasihat dan dukungan kepada Rasulullah ﷺ. Ketika umat Islam menghadapi berbagai persoalan, beliau termasuk sahabat yang sering dimintai pendapat. Keberadaan Abu Bakar sangat penting dalam membantu Rasulullah ﷺ menjalankan kehidupan pemerintahan dan dakwah di Madinah.

I. Abu Bakar dalam Perang dan Perjuangan Islam

Abu Bakar ikut serta dalam berbagai perjuangan umat Islam pada masa Rasulullah ﷺ. Beliau hadir dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan berbagai peristiwa penting lainnya. Keberanian Abu Bakar terlihat dari kesediaannya berada di sisi Rasulullah ﷺ dalam keadaan sulit dan berbahaya. Beliau tidak hanya dikenal sebagai orang yang lembut dan penyayang, tetapi juga memiliki keteguhan dan keberanian ketika menghadapi ancaman terhadap Islam.

J. Abu Bakar Menjadi Khalifah Pertama

Setelah Rasulullah ﷺ wafat pada tahun 11 Hijriah atau 632 Masehi, umat Islam menghadapi keadaan yang sangat berat. Para sahabat kemudian bermusyawarah untuk menentukan pemimpin umat. Setelah melalui proses musyawarah, Abu Bakar dipilih dan dibaiat sebagai khalifah pertama setelah Rasulullah ﷺ. Pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah menunjukkan tingginya kepercayaan para sahabat terhadap kemampuan, keimanan, dan kepemimpinan beliau.

K. Pidato Abu Bakar Setelah Menjadi Khalifah

Pada awal kepemimpinannya, Abu Bakar menyampaikan pidato yang menunjukkan sikap rendah hati dan tanggung jawabnya. Beliau tidak menganggap dirinya sebagai manusia yang sempurna. Abu Bakar menegaskan bahwa dirinya akan berusaha menjalankan amanah dengan benar dan meminta umat Islam untuk membantunya dalam kebaikan. Beliau juga menegaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin bukanlah ketaatan mutlak apabila pemimpin menyimpang dari kebenaran. Sikap tersebut menunjukkan bahwa Abu Bakar memahami kepemimpinan sebagai amanah, bukan sebagai kesempatan untuk memperoleh kekuasaan.

L. Tantangan pada Masa Kekhalifahan Abu Bakar

Masa pemerintahan Abu Bakar berlangsung sekitar dua tahun dan menghadapi berbagai tantangan besar. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, beberapa kelompok di Jazirah Arab memberontak dan menolak kewajiban membayar zakat. Ada pula orang-orang yang mengaku sebagai nabi. Situasi tersebut mengancam persatuan umat Islam. Abu Bakar mengambil sikap tegas untuk menghadapi berbagai pemberontakan tersebut. Beliau berusaha mengembalikan masyarakat kepada ajaran Islam dan menjaga agar umat Islam tetap bersatu.

M. Perang Riddah

Salah satu peristiwa penting pada masa pemerintahan Abu Bakar adalah Perang Riddah, yaitu serangkaian peperangan untuk menghadapi kelompok yang murtad, memberontak, atau menolak kewajiban tertentu setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Abu Bakar menunjukkan ketegasan dalam menghadapi persoalan tersebut. Beliau tidak membiarkan perpecahan semakin meluas karena hal itu dapat mengancam keberlangsungan masyarakat Islam. Melalui kepemimpinannya, berbagai pemberontakan berhasil ditangani dan wilayah Arab kembali berada dalam kesatuan politik Islam.

N. Pengumpulan Al-Qur'an

Salah satu jasa besar Abu Bakar adalah memulai proses pengumpulan Al-Qur'an dalam bentuk mushaf. Hal ini dilakukan setelah banyak penghafal Al-Qur'an gugur dalam peperangan, khususnya dalam Perang Yamamah. Umar bin Khattab mengusulkan agar ayat-ayat Al-Qur'an yang sebelumnya telah ditulis pada berbagai media dan dihafalkan oleh para sahabat dikumpulkan menjadi satu kumpulan yang terjaga. Abu Bakar kemudian menyetujui usulan tersebut dan memberikan tugas kepada Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkannya dengan sangat teliti. Langkah ini menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga keutuhan Al-Qur'an.

O. Perluasan Wilayah Islam

Pada masa Abu Bakar, perjuangan umat Islam tidak hanya dilakukan untuk menjaga stabilitas di Jazirah Arab, tetapi juga mulai dilanjutkan ke wilayah di luar Arab. Abu Bakar melanjutkan rencana pengiriman pasukan yang sebelumnya telah disiapkan oleh Rasulullah ﷺ. Salah satu pasukan tersebut dipimpin oleh Usamah bin Zaid. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa Abu Bakar berusaha melanjutkan kebijakan Rasulullah ﷺ sekaligus menjaga kekuatan dan keberlangsungan umat Islam.

P. Sifat-Sifat Terpuji Abu Bakar

Abu Bakar memiliki banyak sifat yang dapat dijadikan teladan. Beliau dikenal sebagai pribadi yang jujur, amanah, rendah hati, dermawan, penyayang, berani, sabar, dan teguh pendirian. Meskipun menjadi khalifah, beliau tetap hidup sederhana dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai sarana untuk memperoleh kemewahan. Abu Bakar juga sangat peduli terhadap masyarakat dan selalu berusaha menjalankan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya.

Q. Kedermawanan Abu Bakar

Kedermawanan merupakan salah satu sifat yang sangat menonjol dalam diri Abu Bakar. Beliau rela mengeluarkan hartanya untuk membantu Rasulullah ﷺ dan umat Islam. Harta yang dimilikinya tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk membantu orang-orang yang membutuhkan dan mendukung perjuangan Islam. Sikap tersebut mengajarkan bahwa kekayaan akan menjadi lebih bermanfaat apabila digunakan untuk kebaikan dan membantu sesama.

R. Kesederhanaan Abu Bakar

Meskipun menjadi seorang khalifah, Abu Bakar tetap menjalani kehidupan yang sederhana. Beliau tidak menjadikan jabatan sebagai alasan untuk hidup bermewah-mewahan. Kesederhanaan tersebut menunjukkan bahwa seorang pemimpin seharusnya lebih mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan dirinya sendiri. Abu Bakar juga menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta atau tingginya jabatan, tetapi oleh iman, akhlak, dan amal kebaikannya.

S. Hubungan Abu Bakar dengan Keluarganya

Abu Bakar merupakan ayah dari Aisyah r.a., salah satu istri Rasulullah ﷺ. Aisyah dikenal sebagai salah satu perempuan yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang luas dan banyak meriwayatkan hadis. Hubungan keluarga antara Abu Bakar dan Rasulullah ﷺ semakin dekat karena pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Aisyah. Hal tersebut juga memperlihatkan semakin eratnya hubungan antara keluarga Abu Bakar dengan keluarga Rasulullah ﷺ.

T. Wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq wafat pada tahun 13 Hijriah atau 634 Masehi di Madinah setelah mengalami sakit. Sebelum wafat, beliau melakukan pertimbangan mengenai siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan umat Islam. Setelah melalui musyawarah dengan para sahabat, Umar bin Khattab kemudian menjadi khalifah berikutnya. Abu Bakar dimakamkan di samping Rasulullah ﷺ di kamar Aisyah r.a. Tempat peristirahatan beliau berada sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ yang selama hidupnya selalu beliau cintai dan perjuangkan.

U. Keteladanan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan banyak pelajaran bagi umat Islam. Dari beliau kita dapat belajar tentang kejujuran, karena beliau selalu berusaha berkata dan bertindak benar. Kita juga dapat belajar tentang kesetiaan, karena beliau tetap mendampingi Rasulullah ﷺ dalam keadaan senang maupun sulit. Dari perjuangannya kita belajar tentang keberanian dan keteguhan iman, sedangkan dari kedermawanannya kita belajar untuk menggunakan harta yang kita miliki dalam membantu orang lain. Dari kepemimpinannya kita belajar bahwa seorang pemimpin harus amanah, adil, sederhana, bertanggung jawab, dan mengutamakan kepentingan masyarakat.

V. Kesimpulan

Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Islam. Beliau adalah sahabat dekat Rasulullah ﷺ, orang yang pertama-tama menerima dakwah Islam dari kalangan laki-laki dewasa menurut riwayat yang masyhur, pendamping Rasulullah ﷺ dalam hijrah, serta khalifah pertama setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Selama hidupnya, Abu Bakar menunjukkan keimanan yang kuat, kejujuran, keberanian, kesetiaan, kedermawanan, dan kesederhanaan. Sebagai khalifah, beliau berhasil menjaga persatuan umat Islam pada masa yang sangat sulit dan mengambil langkah penting dalam pengumpulan Al-Qur'an. Oleh karena itu, kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan teladan yang sangat berharga bagi setiap Muslim, khususnya dalam membangun pribadi yang jujur, amanah, bertanggung jawab, berani membela kebenaran, dan senantiasa mengutamakan kepentingan bersama.

 

Profil Sahabat Nabi: Umar bin Khattab r.a.













1. Identitas Singkat

  • Nama lengkap: Umar bin Khattab bin Nufail bin ‘Abdul ‘Uzza
  • Kunyah: Abu Hafsh
  • Gelar: Al-Fārūq (pembeda antara yang haq dan batil)
  • Suku: Quraisy, Bani ‘Adi
  • Tempat lahir: Makkah
  • Wafat: 23 H / 644 M (di Madinah)
  • Dimakamkan: Di samping Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar r.a.

2. Kehidupan Sebelum Islam

Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai:

  • Sosok tegas, berani, dan berwibawa
  • Ahli baca-tulis, hal yang langka saat itu
  • Pandai berpidato dan diplomasi
  • Termasuk penentang keras Islam di awal dakwah Nabi

Namun di balik ketegasannya, Umar memiliki kejujuran dan jiwa kepemimpinan yang kuat.

3. Masuk Islam

Umar masuk Islam pada tahun ke-6 kenabian.
Peristiwa masuk Islamnya sangat terkenal ketika:

  • Ia berniat membunuh Rasulullah ﷺ
  • Namun hatinya luluh setelah mendengar QS. Thaha

Kisah Masuk Islamnya Umar bin Khattab r.a.

Pada masa awal dakwah Islam di Makkah, Umar bin Khattab dikenal sebagai salah satu penentang Islam paling keras. Ia bertubuh tinggi, berwatak tegas, dan disegani oleh kaum Quraisy. Umar sangat membenci ajaran yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ karena dianggap memecah persatuan kaumnya.

Suatu hari, Umar berangkat dengan pedang terhunus, berniat membunuh Rasulullah ﷺ. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Nu‘aim bin Abdullah yang mengetahui niat Umar. Nu‘aim berkata,

“Wahai Umar, apakah engkau mengira Bani Abdu Manaf akan membiarkanmu hidup jika engkau membunuh Muhammad? Mengapa tidak engkau periksa keluargamu sendiri? Saudaramu dan iparmu telah masuk Islam.”

Mendengar itu, Umar terkejut dan langsung menuju rumah saudarinya, Fathimah binti Khattab, dan suaminya Sa‘id bin Zaid, yang sedang belajar Al-Qur’an bersama Khabbab bin Al-Aratt.

Saat Umar tiba, terdengar bacaan Al-Qur’an dari dalam rumah. Umar marah, memukul iparnya dan bahkan menampar saudarinya hingga darah mengalir di wajah Fathimah. Namun dengan penuh keberanian, Fathimah berkata:

“Wahai Umar, lakukanlah apa yang engkau mau. Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Melihat darah di wajah saudarinya, hati Umar tersentuh. Amarahnya mereda dan ia berkata,

“Berikan kepadaku lembaran yang kalian baca itu.”

Fathimah menjawab,

“Engkau najis, dan Al-Qur’an tidak boleh disentuh kecuali oleh orang yang suci. Mandilah terlebih dahulu.”

Setelah membersihkan diri, Umar membaca ayat-ayat awal Surah Thaha:

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)

Ayat-ayat itu menggetarkan hati Umar. Ia berkata dengan suara lirih,

“Alangkah indah dan mulianya perkataan ini.”

Khabbab bin Al-Aratt pun keluar dari persembunyiannya dan berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdoa:

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan Umar bin Khattab atau dengan Abu Jahl.”

Umar pun segera berkata,

“Tunjukkan aku kepada Muhammad.”

Umar lalu menuju Darul Arqam, tempat Rasulullah ﷺ dan para sahabat berkumpul. Para sahabat ketakutan melihat Umar datang membawa pedang. Namun Rasulullah ﷺ dengan tenang menghampiri Umar, memegang bajunya, dan bersabda:

“Wahai Umar, apa yang engkau kehendaki?”

Dengan penuh keyakinan, Umar menjawab:

“Aku datang untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan engkau adalah utusan Allah.”

Para sahabat pun bertakbir dengan suara keras, menggema di seluruh penjuru Makkah. Sejak saat itu, Umar bin Khattab menjadi pembela Islam yang paling kuat, dan kaum Muslimin dapat berdakwah secara terbuka.

Masuk Islamnya Umar menjadi salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah Islam, karena dengannya Allah menguatkan barisan kaum Muslimin, karena:

Islam dapat disyiarkan secara terang-terangan

 

4. Keutamaan Umar bin Khattab

Beberapa keistimewaan Umar r.a.:

  • Dijuluki Al-Fārūq oleh Rasulullah ﷺ
  • Doanya sering sejalan dengan wahyu
  • Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya ada nabi setelahku, maka Umar-lah orangnya.” (HR. Tirmidzi)

  • Setan lari jika berpapasan dengan Umar
  • Termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga

5. Peran di Masa Rasulullah ﷺ

  • Selalu berada di barisan terdepan dalam dakwah
  • Mengikuti seluruh peperangan besar
  • Menjadi penasihat utama Nabi
  • Tegas dalam menegakkan hukum, namun adil

6. Umar sebagai Khalifah (634–644 M)

Umar adalah Khalifah ke-2 setelah Abu Bakar r.a.
Prestasinya antara lain:

  • Memperluas wilayah Islam hingga Persia dan Romawi
  • Menata sistem pemerintahan dan administrasi
  • Membentuk Baitul Mal
  • Menetapkan kalender Hijriah
  • Menjamin kesejahteraan rakyat, termasuk non-Muslim

7. Sifat dan Akhlak

  • Sangat adil dan tegas
  • Hidup sederhana
  • Tak segan menangis karena takut kepada Allah
  • Pemimpin yang mengutamakan rakyat

8. Wafat

Umar wafat setelah ditikam oleh Abu Lu’lu’ah saat memimpin shalat Subuh.
Sebelum wafat, ia:

  • Menunjuk dewan syura untuk memilih khalifah
  • Tetap memikirkan umat Islam

9. Teladan dari Umar bin Khattab

  • Keberanian dalam kebenaran
  • Kepemimpinan yang adil
  • Kesederhanaan pemimpin
  • Ketegasan yang dilandasi iman

 

Kisah Sahabat: Abu Bakar Ash-Shiddiq

Profil Singkat

Nama lengkap: Abdullah bin Abi Quhafah

Gelar: Ash-Shiddiq (yang membenarkan)

Lahir: 573 M di Mekah

Wafat: 634 M di Madinah

Kedudukan: Sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW, khalifah pertama setelah wafatnya Rasulullah.

1. Awal Keislaman

Abu Bakar adalah salah satu orang pertama yang memeluk Islam. Ia masuk Islam tanpa ragu setelah mendengar dakwah Nabi Muhammad SAW, yang merupakan sahabatnya sejak kecil. Ia dikenal sebagai orang yang lembut hati, jujur, dan dermawan.

Keistimewaannya: Banyak sahabat besar seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash masuk Islam lewat dakwah Abu Bakar.

2. Mendampingi Rasulullah dalam Hijrah

Salah satu kisah paling terkenal adalah saat Abu Bakar menemani Rasulullah dalam perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah. Mereka bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari untuk menghindari kejaran kaum Quraisy. Saat itu, Abu Bakar sangat khawatir, bukan karena dirinya, tetapi karena keselamatan Nabi.

Allah mengabadikan momen ini dalam Al-Qur’an:

 

اِلَّا تَـنۡصُرُوۡهُ فَقَدۡ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذۡ اَخۡرَجَهُ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا ثَانِىَ اثۡنَيۡنِ اِذۡ هُمَا فِى الۡغَارِ اِذۡ يَقُوۡلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَا‌ ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰهُ سَكِيۡنَـتَهٗ عَلَيۡهِ وَاَ يَّدَهٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوا السُّفۡلٰى‌ ؕ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِىَ الۡعُلۡيَا ؕ وَاللّٰهُ عَزِيۡزٌ حَكِيۡمٌ

Illa tansuruhu faqad nasarahullahu iz akhrajahul-lazina kafaru saniyasnaini iz huma fil-gari iz yaqulu lisahibihi la tahzan innallaha ma'ana, fa anzalallahu sakinatahu 'alaihi wa ayyadahu bijunudil lam tarauha wa ja'ala kalimatal-lazina kafarus-sufla, wa kalimatullahi hiyal-'ulya, wallahu 'azizun hakim

Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, "Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (QS. At-Taubah: 40)

3. Gelar “Ash-Shiddiq

Gelar ini diberikan karena Abu Bakar langsung membenarkan peristiwa Isra’ Mi’raj, bahkan ketika banyak orang Mekah meragukannya. Ia berkata:

"Jika Muhammad yang mengatakannya, maka aku membenarkannya."

 Keimanan dan kepercayaannya pada Nabi tak tergoyahkan.

4. Kepemimpinan Sebagai Khalifah Pertama

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, banyak umat Islam mengalami keguncangan. Abu Bakar dengan tegas berdiri dan berkata:

"Barang siapa menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa Muhammad telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati."


Sebagai khalifah, ia memerangi kaum murtad dalam Perang Riddah, menyatukan kembali umat Islam, dan memulai kodifikasi Al-Qur’an atas saran Umar bin Khattab.

5. Wafatnya Sang Sahabat Mulia

Abu Bakar wafat dua tahun setelah menjadi khalifah, pada usia 63 tahun, usia yang sama dengan Rasulullah. Ia dimakamkan di samping makam Nabi di Madinah.


Warisan Abu Bakar

* Teladan iman dan kesetiaan.

* Pemimpin bijak yang menjaga kesatuan umat.

* Sahabat yang mencintai Nabi lebih dari dirinya sendiri.


"Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai dalam persahabatan selain Abu Bakar."

Rasulullah SAW



SAHABAT NABI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

  A. Nama dan Asal Usul Abu Bakar Ash-Shiddiq Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan sanga...