Showing posts with label BIOGRAFI. Show all posts
Showing posts with label BIOGRAFI. Show all posts

SAHABAT NABI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

 


A. Nama dan Asal Usul Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan sangat tinggi dalam sejarah Islam. Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay al-Qurasyi at-Taimi. Beliau lebih dikenal dengan nama Abu Bakar. Beliau berasal dari suku Quraisy, tepatnya dari Bani Taim. Abu Bakar lahir di Makkah sekitar tahun 573 M, beberapa tahun setelah kelahiran Rasulullah ﷺ. Beliau berasal dari keluarga yang memiliki kedudukan baik di tengah masyarakat Quraisy dan dikenal sebagai orang yang memiliki akhlak terpuji, jujur, cerdas, serta memiliki hubungan sosial yang luas.

B. Gelar Ash-Shiddiq

Abu Bakar mendapatkan gelar Ash-Shiddiq, yang berarti orang yang sangat membenarkan atau orang yang sangat jujur. Gelar tersebut menunjukkan sifat beliau yang selalu membenarkan Rasulullah ﷺ dan memiliki keyakinan yang kuat terhadap kebenaran risalah Islam. Salah satu peristiwa yang sangat terkenal adalah ketika Rasulullah ﷺ menceritakan peristiwa Isra dan Mi'raj. Ketika sebagian masyarakat Quraisy meragukan peristiwa tersebut, Abu Bakar langsung membenarkan Rasulullah ﷺ. Sikap tersebut menunjukkan kuatnya keimanan dan kepercayaan beliau kepada Rasulullah ﷺ.

C. Kehidupan Sebelum Masuk Islam

Sebelum memeluk Islam, Abu Bakar dikenal sebagai seorang pedagang yang sukses. Beliau memiliki pengetahuan yang baik tentang nasab atau garis keturunan bangsa Arab dan dikenal sebagai orang yang berakhlak baik. Abu Bakar tidak dikenal sebagai orang yang suka menyembah berhala atau melakukan kebiasaan buruk yang dilakukan sebagian masyarakat jahiliah. Beliau juga dikenal memiliki sifat dermawan, jujur, dan mudah membantu orang lain. Hubungan Abu Bakar dengan Muhammad ﷺ telah terjalin sebelum Rasulullah ﷺ menerima wahyu. Keduanya dikenal memiliki hubungan persahabatan yang dekat dan saling mempercayai.

D. Abu Bakar sebagai Orang yang Awal Memeluk Islam

Ketika Rasulullah ﷺ menerima wahyu dan mulai menyampaikan dakwah Islam, Abu Bakar termasuk orang-orang yang paling awal menerima Islam. Beliau menerima dakwah Rasulullah ﷺ dengan penuh keyakinan tanpa banyak keraguan. Setelah masuk Islam, Abu Bakar tidak hanya beriman untuk dirinya sendiri, tetapi juga aktif mengajak orang-orang terdekatnya untuk mengenal dan menerima Islam. Melalui dakwah Abu Bakar, beberapa tokoh penting kemudian masuk Islam, di antaranya Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Mereka kemudian menjadi sahabat-sahabat besar yang memiliki peranan penting dalam perkembangan Islam.

E. Pengorbanan Abu Bakar dalam Dakwah Islam

Abu Bakar memberikan banyak pengorbanan untuk mendukung dakwah Rasulullah ﷺ. Beliau menggunakan harta, tenaga, pikiran, dan kedudukannya untuk membantu perjuangan Islam. Salah satu bentuk pengorbanannya adalah membebaskan sejumlah budak yang disiksa karena memeluk Islam. Salah satu yang terkenal adalah Bilal bin Rabah, yang disiksa oleh tuannya karena mempertahankan keimanannya. Abu Bakar membeli dan membebaskan Bilal serta beberapa orang lainnya. Tindakan tersebut menunjukkan bahwa Abu Bakar tidak hanya berbicara tentang keimanan, tetapi juga membuktikannya melalui tindakan nyata.

F. Kedekatan Abu Bakar dengan Rasulullah ﷺ

Abu Bakar merupakan salah satu sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ. Beliau selalu mendampingi Rasulullah ﷺ dalam berbagai keadaan. Abu Bakar juga termasuk sahabat yang banyak memberikan bantuan kepada Rasulullah ﷺ dalam menghadapi tekanan dan ancaman kaum Quraisy. Hubungan keduanya bukan hanya hubungan antara seorang pemimpin dan pengikut, tetapi juga merupakan persahabatan yang sangat kuat dan penuh kepercayaan. Rasulullah ﷺ juga memberikan penghormatan yang besar kepada Abu Bakar karena keimanan, pengorbanan, dan kesetiaannya.

G. Abu Bakar dalam Peristiwa Hijrah

Ketika tekanan kaum Quraisy terhadap Rasulullah ﷺ semakin kuat, Rasulullah ﷺ mendapatkan izin untuk berhijrah dari Makkah menuju Madinah. Abu Bakar mendapatkan kehormatan untuk menjadi teman perjalanan Rasulullah ﷺ dalam hijrah tersebut. Dalam perjalanan, keduanya sempat bersembunyi di Gua Tsur untuk menghindari pengejaran kaum Quraisy. Peristiwa ini menunjukkan keberanian sekaligus kesetiaan Abu Bakar kepada Rasulullah ﷺ. Dalam keadaan yang sangat berbahaya, Abu Bakar tetap mendampingi Rasulullah ﷺ dan tidak meninggalkan beliau.

H. Peran Abu Bakar Setelah Hijrah ke Madinah

Setelah sampai di Madinah, Abu Bakar tetap aktif mendampingi Rasulullah ﷺ dalam membangun masyarakat Islam. Beliau ikut serta dalam berbagai peristiwa penting dan peperangan yang terjadi pada masa Rasulullah ﷺ. Abu Bakar juga selalu memberikan nasihat dan dukungan kepada Rasulullah ﷺ. Ketika umat Islam menghadapi berbagai persoalan, beliau termasuk sahabat yang sering dimintai pendapat. Keberadaan Abu Bakar sangat penting dalam membantu Rasulullah ﷺ menjalankan kehidupan pemerintahan dan dakwah di Madinah.

I. Abu Bakar dalam Perang dan Perjuangan Islam

Abu Bakar ikut serta dalam berbagai perjuangan umat Islam pada masa Rasulullah ﷺ. Beliau hadir dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan berbagai peristiwa penting lainnya. Keberanian Abu Bakar terlihat dari kesediaannya berada di sisi Rasulullah ﷺ dalam keadaan sulit dan berbahaya. Beliau tidak hanya dikenal sebagai orang yang lembut dan penyayang, tetapi juga memiliki keteguhan dan keberanian ketika menghadapi ancaman terhadap Islam.

J. Abu Bakar Menjadi Khalifah Pertama

Setelah Rasulullah ﷺ wafat pada tahun 11 Hijriah atau 632 Masehi, umat Islam menghadapi keadaan yang sangat berat. Para sahabat kemudian bermusyawarah untuk menentukan pemimpin umat. Setelah melalui proses musyawarah, Abu Bakar dipilih dan dibaiat sebagai khalifah pertama setelah Rasulullah ﷺ. Pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah menunjukkan tingginya kepercayaan para sahabat terhadap kemampuan, keimanan, dan kepemimpinan beliau.

K. Pidato Abu Bakar Setelah Menjadi Khalifah

Pada awal kepemimpinannya, Abu Bakar menyampaikan pidato yang menunjukkan sikap rendah hati dan tanggung jawabnya. Beliau tidak menganggap dirinya sebagai manusia yang sempurna. Abu Bakar menegaskan bahwa dirinya akan berusaha menjalankan amanah dengan benar dan meminta umat Islam untuk membantunya dalam kebaikan. Beliau juga menegaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin bukanlah ketaatan mutlak apabila pemimpin menyimpang dari kebenaran. Sikap tersebut menunjukkan bahwa Abu Bakar memahami kepemimpinan sebagai amanah, bukan sebagai kesempatan untuk memperoleh kekuasaan.

L. Tantangan pada Masa Kekhalifahan Abu Bakar

Masa pemerintahan Abu Bakar berlangsung sekitar dua tahun dan menghadapi berbagai tantangan besar. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, beberapa kelompok di Jazirah Arab memberontak dan menolak kewajiban membayar zakat. Ada pula orang-orang yang mengaku sebagai nabi. Situasi tersebut mengancam persatuan umat Islam. Abu Bakar mengambil sikap tegas untuk menghadapi berbagai pemberontakan tersebut. Beliau berusaha mengembalikan masyarakat kepada ajaran Islam dan menjaga agar umat Islam tetap bersatu.

M. Perang Riddah

Salah satu peristiwa penting pada masa pemerintahan Abu Bakar adalah Perang Riddah, yaitu serangkaian peperangan untuk menghadapi kelompok yang murtad, memberontak, atau menolak kewajiban tertentu setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Abu Bakar menunjukkan ketegasan dalam menghadapi persoalan tersebut. Beliau tidak membiarkan perpecahan semakin meluas karena hal itu dapat mengancam keberlangsungan masyarakat Islam. Melalui kepemimpinannya, berbagai pemberontakan berhasil ditangani dan wilayah Arab kembali berada dalam kesatuan politik Islam.

N. Pengumpulan Al-Qur'an

Salah satu jasa besar Abu Bakar adalah memulai proses pengumpulan Al-Qur'an dalam bentuk mushaf. Hal ini dilakukan setelah banyak penghafal Al-Qur'an gugur dalam peperangan, khususnya dalam Perang Yamamah. Umar bin Khattab mengusulkan agar ayat-ayat Al-Qur'an yang sebelumnya telah ditulis pada berbagai media dan dihafalkan oleh para sahabat dikumpulkan menjadi satu kumpulan yang terjaga. Abu Bakar kemudian menyetujui usulan tersebut dan memberikan tugas kepada Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkannya dengan sangat teliti. Langkah ini menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga keutuhan Al-Qur'an.

O. Perluasan Wilayah Islam

Pada masa Abu Bakar, perjuangan umat Islam tidak hanya dilakukan untuk menjaga stabilitas di Jazirah Arab, tetapi juga mulai dilanjutkan ke wilayah di luar Arab. Abu Bakar melanjutkan rencana pengiriman pasukan yang sebelumnya telah disiapkan oleh Rasulullah ﷺ. Salah satu pasukan tersebut dipimpin oleh Usamah bin Zaid. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa Abu Bakar berusaha melanjutkan kebijakan Rasulullah ﷺ sekaligus menjaga kekuatan dan keberlangsungan umat Islam.

P. Sifat-Sifat Terpuji Abu Bakar

Abu Bakar memiliki banyak sifat yang dapat dijadikan teladan. Beliau dikenal sebagai pribadi yang jujur, amanah, rendah hati, dermawan, penyayang, berani, sabar, dan teguh pendirian. Meskipun menjadi khalifah, beliau tetap hidup sederhana dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai sarana untuk memperoleh kemewahan. Abu Bakar juga sangat peduli terhadap masyarakat dan selalu berusaha menjalankan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya.

Q. Kedermawanan Abu Bakar

Kedermawanan merupakan salah satu sifat yang sangat menonjol dalam diri Abu Bakar. Beliau rela mengeluarkan hartanya untuk membantu Rasulullah ﷺ dan umat Islam. Harta yang dimilikinya tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk membantu orang-orang yang membutuhkan dan mendukung perjuangan Islam. Sikap tersebut mengajarkan bahwa kekayaan akan menjadi lebih bermanfaat apabila digunakan untuk kebaikan dan membantu sesama.

R. Kesederhanaan Abu Bakar

Meskipun menjadi seorang khalifah, Abu Bakar tetap menjalani kehidupan yang sederhana. Beliau tidak menjadikan jabatan sebagai alasan untuk hidup bermewah-mewahan. Kesederhanaan tersebut menunjukkan bahwa seorang pemimpin seharusnya lebih mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan dirinya sendiri. Abu Bakar juga menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta atau tingginya jabatan, tetapi oleh iman, akhlak, dan amal kebaikannya.

S. Hubungan Abu Bakar dengan Keluarganya

Abu Bakar merupakan ayah dari Aisyah r.a., salah satu istri Rasulullah ﷺ. Aisyah dikenal sebagai salah satu perempuan yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang luas dan banyak meriwayatkan hadis. Hubungan keluarga antara Abu Bakar dan Rasulullah ﷺ semakin dekat karena pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Aisyah. Hal tersebut juga memperlihatkan semakin eratnya hubungan antara keluarga Abu Bakar dengan keluarga Rasulullah ﷺ.

T. Wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq wafat pada tahun 13 Hijriah atau 634 Masehi di Madinah setelah mengalami sakit. Sebelum wafat, beliau melakukan pertimbangan mengenai siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan umat Islam. Setelah melalui musyawarah dengan para sahabat, Umar bin Khattab kemudian menjadi khalifah berikutnya. Abu Bakar dimakamkan di samping Rasulullah ﷺ di kamar Aisyah r.a. Tempat peristirahatan beliau berada sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ yang selama hidupnya selalu beliau cintai dan perjuangkan.

U. Keteladanan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan banyak pelajaran bagi umat Islam. Dari beliau kita dapat belajar tentang kejujuran, karena beliau selalu berusaha berkata dan bertindak benar. Kita juga dapat belajar tentang kesetiaan, karena beliau tetap mendampingi Rasulullah ﷺ dalam keadaan senang maupun sulit. Dari perjuangannya kita belajar tentang keberanian dan keteguhan iman, sedangkan dari kedermawanannya kita belajar untuk menggunakan harta yang kita miliki dalam membantu orang lain. Dari kepemimpinannya kita belajar bahwa seorang pemimpin harus amanah, adil, sederhana, bertanggung jawab, dan mengutamakan kepentingan masyarakat.

V. Kesimpulan

Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Islam. Beliau adalah sahabat dekat Rasulullah ﷺ, orang yang pertama-tama menerima dakwah Islam dari kalangan laki-laki dewasa menurut riwayat yang masyhur, pendamping Rasulullah ﷺ dalam hijrah, serta khalifah pertama setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Selama hidupnya, Abu Bakar menunjukkan keimanan yang kuat, kejujuran, keberanian, kesetiaan, kedermawanan, dan kesederhanaan. Sebagai khalifah, beliau berhasil menjaga persatuan umat Islam pada masa yang sangat sulit dan mengambil langkah penting dalam pengumpulan Al-Qur'an. Oleh karena itu, kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan teladan yang sangat berharga bagi setiap Muslim, khususnya dalam membangun pribadi yang jujur, amanah, bertanggung jawab, berani membela kebenaran, dan senantiasa mengutamakan kepentingan bersama.

 

Biografi Syech Wasil Kediri

Pendahuluan

Di antara tokoh penyebar Islam yang sangat dihormati oleh masyarakat Kediri, nama Syekh Wasil Syamsuddin menempati posisi yang istimewa. Sosok yang juga dikenal dengan sebutan Mbah Wasil atau Pangeran Makkah ini diyakini sebagai salah satu perintis dakwah Islam di wilayah Kediri jauh sebelum masa Wali Songo. Hingga kini, makam beliau yang berada di kawasan Setono Gedong, Kediri, menjadi tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah.

Walaupun kisah hidup beliau masih menyimpan banyak perbedaan pendapat di kalangan sejarawan, masyarakat Kediri tetap mengenang Syekh Wasil sebagai ulama besar yang berjasa menanamkan nilai-nilai Islam melalui pendekatan yang damai, bijaksana, dan penuh kearifan.

Asal Usul dan Kedatangan ke Kediri

Riwayat mengenai asal-usul Syekh Wasil belum dapat dipastikan secara mutlak. Beberapa sumber menyebut beliau berasal dari Persia (Iran), sementara sumber lain menyatakan berasal dari wilayah Turki atau negeri Rum. Ada pula tradisi lisan yang menghubungkannya dengan Makkah sehingga beliau mendapat julukan "Pangeran Makkah".

Menurut berbagai kajian sejarah, Syekh Wasil datang ke Kediri pada masa pemerintahan Sri Aji Jayabaya, sekitar abad ke-10 hingga abad ke-12 Masehi. Kedatangannya diyakini bukan sekadar untuk berdakwah, tetapi juga untuk berdiskusi mengenai ilmu pengetahuan, terutama ilmu falak dan kitab Musarar yang berkaitan dengan ramalan Jayabaya.

Peran dalam Penyebaran Islam

Syekh Wasil dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan Islam dengan cara yang santun dan tidak memaksakan kehendak. Beliau memilih mendekati kalangan kerajaan dan masyarakat secara bertahap sehingga ajaran Islam dapat diterima tanpa menimbulkan konflik sosial.

Tradisi masyarakat Kediri meyakini bahwa beliau memiliki hubungan dekat dengan Raja Jayabaya. Bahkan, sebagian masyarakat menyebut beliau sebagai guru spiritual sang raja. Melalui kedekatan tersebut, nilai-nilai Islam mulai dikenal oleh lingkungan kerajaan dan kemudian menyebar ke masyarakat luas.

Keberadaan makam kuno Syekh Wasil beserta inskripsi yang ditemukan di kompleks makamnya menjadi salah satu bukti penting bahwa pengaruh Islam telah hadir di Kediri pada masa yang sangat awal, jauh sebelum berkembangnya dakwah Wali Songo.

Makam dan Peninggalan Sejarah

Makam Syekh Wasil terletak di kawasan Kompleks Makam Setono Gedong. Tempat ini menjadi salah satu situs sejarah Islam penting di Kediri dan ramai dikunjungi peziarah sepanjang tahun.

Di kompleks makam tersebut ditemukan sejumlah artefak dan inskripsi kuno yang menjadi bahan penelitian para sejarawan. Temuan-temuan tersebut memperkuat keyakinan bahwa Syekh Wasil merupakan tokoh penting dalam sejarah perkembangan Islam di wilayah Kediri dan Jawa Timur.

Warisan dan Pengaruh

Meskipun sejarah hidupnya belum sepenuhnya terungkap, pengaruh Syekh Wasil tetap terasa hingga sekarang. Namanya diabadikan sebagai simbol perkembangan Islam di Kediri dan menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam menjaga nilai-nilai keislaman yang damai dan toleran.

Penghormatan terhadap beliau juga tampak dari penamaan UIN Syekh Wasil Kediri, yang menjadikan sosok Syekh Wasil sebagai identitas dan inspirasi akademik bagi generasi masa kini.

Penutup

Syekh Wasil Syamsuddin merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam di Kediri. Walaupun banyak aspek kehidupannya masih menjadi bahan kajian sejarah, beliau dikenal luas sebagai ulama yang membawa ajaran Islam dengan kebijaksanaan dan pendekatan budaya. Melalui dakwah yang santun serta kedekatannya dengan Raja Jayabaya, Syekh Wasil meninggalkan warisan spiritual yang terus dikenang oleh masyarakat Kediri hingga saat ini.

"Nama Syekh Wasil bukan hanya bagian dari sejarah Kediri, tetapi juga simbol awal berkembangnya peradaban Islam di tanah Jawa."

 

Profil Pangeran Benowo




Latar Belakang Sejarah

Pada abad ke-16, berdirilah sebuah kerajaan Islam di tanah Jawa bernama Kesultanan Pajang. Rajanya adalah Hadiwijaya, yang juga dikenal sebagai Jaka Tingkir. Dari sang raja lahirlah seorang putra bernama Pangeran Benowo, pewaris tahta yang diharapkan meneruskan kejayaan Pajang.

Semasa ayahnya hidup, Benowo tumbuh sebagai bangsawan yang halus budi, cerdas, dan tidak gemar pamer kekuasaan. Namun takdir berubah saat Sultan Hadiwijaya wafat. Tahta yang seharusnya menjadi hak Benowo justru direbut oleh Arya Pangiri, menantu raja.

Pajang pun berada dalam kekacauan. Rakyat gelisah. Para bangsawan terpecah.

Benowo tidak gegabah. Ia tidak langsung mengangkat senjata. Ia merenung, menimbang langkah terbaik demi keselamatan rakyat dan masa depan kerajaan.

Akhirnya, Benowo memutuskan meminta bantuan kepada penguasa muda dari Mataram, yaitu Sutawijaya, yang kelak dikenal sebagai Panembahan Senopati. Saat itu, Mataram berada di bawah kekuasaan Pajang, tetapi Sutawijaya memiliki kekuatan militer yang besar.

Dengan strategi yang matang, pasukan Mataram bergerak. Arya Pangiri berhasil dikalahkan tanpa perlawanan panjang. Pajang kembali berada di tangan Benowo.

Namun inilah bagian paling mengagumkan dari kisahnya.

Setelah kemenangan diraih, Benowo tidak mempertahankan kekuasaan. Ia menyadari bahwa kekuatan Pajang telah melemah dan Mataram justru memiliki masa depan yang lebih besar. Demi kestabilan Jawa, ia menyerahkan kekuasaan kepada Sutawijaya.

Sejak saat itu, kejayaan beralih dari Pajang ke Kesultanan Mataram.

Keputusan Benowo menjadi peristiwa penting dalam sejarah Jawa: runtuhnya Pajang dan bangkitnya Mataram.

Setelah menyerahkan tahta, Pangeran Benowo memilih hidup sederhana. Ia menjauh dari hiruk-pikuk politik dan tidak lagi mengejar ambisi dunia. Dalam babad Jawa, ia dikenang sebagai sosok yang bijaksana, tidak haus kekuasaan, dan mengutamakan persatuan.

Keputusan Penting

Menariknya, setelah berhasil merebut kembali kekuasaan, Pangeran Benowo tidak mempertahankan tahta Pajang. Ia justru menyerahkan kekuasaan kepada Sutawijaya.

Peristiwa ini menjadi titik penting dalam sejarah Jawa karena:

  • Menandai runtuhnya Kesultanan Pajang
  • Menguatkan berdirinya Kesultanan Mataram sebagai kekuatan baru di Jawa

Setelah menyerahkan kekuasaan, Pangeran Benowo lebih memilih hidup sederhana dan menjauh dari ambisi politik. Dalam beberapa cerita babad Jawa, ia digambarkan sebagai sosok yang bijaksana dan tidak haus kekuasaan.

Silsilah Pangeran Benowo

 


Profil Sahabat Nabi: Umar bin Khattab r.a.













1. Identitas Singkat

  • Nama lengkap: Umar bin Khattab bin Nufail bin ‘Abdul ‘Uzza
  • Kunyah: Abu Hafsh
  • Gelar: Al-Fārūq (pembeda antara yang haq dan batil)
  • Suku: Quraisy, Bani ‘Adi
  • Tempat lahir: Makkah
  • Wafat: 23 H / 644 M (di Madinah)
  • Dimakamkan: Di samping Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar r.a.

2. Kehidupan Sebelum Islam

Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai:

  • Sosok tegas, berani, dan berwibawa
  • Ahli baca-tulis, hal yang langka saat itu
  • Pandai berpidato dan diplomasi
  • Termasuk penentang keras Islam di awal dakwah Nabi

Namun di balik ketegasannya, Umar memiliki kejujuran dan jiwa kepemimpinan yang kuat.

3. Masuk Islam

Umar masuk Islam pada tahun ke-6 kenabian.
Peristiwa masuk Islamnya sangat terkenal ketika:

  • Ia berniat membunuh Rasulullah ﷺ
  • Namun hatinya luluh setelah mendengar QS. Thaha

Kisah Masuk Islamnya Umar bin Khattab r.a.

Pada masa awal dakwah Islam di Makkah, Umar bin Khattab dikenal sebagai salah satu penentang Islam paling keras. Ia bertubuh tinggi, berwatak tegas, dan disegani oleh kaum Quraisy. Umar sangat membenci ajaran yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ karena dianggap memecah persatuan kaumnya.

Suatu hari, Umar berangkat dengan pedang terhunus, berniat membunuh Rasulullah ﷺ. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Nu‘aim bin Abdullah yang mengetahui niat Umar. Nu‘aim berkata,

“Wahai Umar, apakah engkau mengira Bani Abdu Manaf akan membiarkanmu hidup jika engkau membunuh Muhammad? Mengapa tidak engkau periksa keluargamu sendiri? Saudaramu dan iparmu telah masuk Islam.”

Mendengar itu, Umar terkejut dan langsung menuju rumah saudarinya, Fathimah binti Khattab, dan suaminya Sa‘id bin Zaid, yang sedang belajar Al-Qur’an bersama Khabbab bin Al-Aratt.

Saat Umar tiba, terdengar bacaan Al-Qur’an dari dalam rumah. Umar marah, memukul iparnya dan bahkan menampar saudarinya hingga darah mengalir di wajah Fathimah. Namun dengan penuh keberanian, Fathimah berkata:

“Wahai Umar, lakukanlah apa yang engkau mau. Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Melihat darah di wajah saudarinya, hati Umar tersentuh. Amarahnya mereda dan ia berkata,

“Berikan kepadaku lembaran yang kalian baca itu.”

Fathimah menjawab,

“Engkau najis, dan Al-Qur’an tidak boleh disentuh kecuali oleh orang yang suci. Mandilah terlebih dahulu.”

Setelah membersihkan diri, Umar membaca ayat-ayat awal Surah Thaha:

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)

Ayat-ayat itu menggetarkan hati Umar. Ia berkata dengan suara lirih,

“Alangkah indah dan mulianya perkataan ini.”

Khabbab bin Al-Aratt pun keluar dari persembunyiannya dan berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdoa:

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan Umar bin Khattab atau dengan Abu Jahl.”

Umar pun segera berkata,

“Tunjukkan aku kepada Muhammad.”

Umar lalu menuju Darul Arqam, tempat Rasulullah ﷺ dan para sahabat berkumpul. Para sahabat ketakutan melihat Umar datang membawa pedang. Namun Rasulullah ﷺ dengan tenang menghampiri Umar, memegang bajunya, dan bersabda:

“Wahai Umar, apa yang engkau kehendaki?”

Dengan penuh keyakinan, Umar menjawab:

“Aku datang untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan engkau adalah utusan Allah.”

Para sahabat pun bertakbir dengan suara keras, menggema di seluruh penjuru Makkah. Sejak saat itu, Umar bin Khattab menjadi pembela Islam yang paling kuat, dan kaum Muslimin dapat berdakwah secara terbuka.

Masuk Islamnya Umar menjadi salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah Islam, karena dengannya Allah menguatkan barisan kaum Muslimin, karena:

Islam dapat disyiarkan secara terang-terangan

 

4. Keutamaan Umar bin Khattab

Beberapa keistimewaan Umar r.a.:

  • Dijuluki Al-Fārūq oleh Rasulullah ﷺ
  • Doanya sering sejalan dengan wahyu
  • Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seandainya ada nabi setelahku, maka Umar-lah orangnya.” (HR. Tirmidzi)

  • Setan lari jika berpapasan dengan Umar
  • Termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga

5. Peran di Masa Rasulullah ﷺ

  • Selalu berada di barisan terdepan dalam dakwah
  • Mengikuti seluruh peperangan besar
  • Menjadi penasihat utama Nabi
  • Tegas dalam menegakkan hukum, namun adil

6. Umar sebagai Khalifah (634–644 M)

Umar adalah Khalifah ke-2 setelah Abu Bakar r.a.
Prestasinya antara lain:

  • Memperluas wilayah Islam hingga Persia dan Romawi
  • Menata sistem pemerintahan dan administrasi
  • Membentuk Baitul Mal
  • Menetapkan kalender Hijriah
  • Menjamin kesejahteraan rakyat, termasuk non-Muslim

7. Sifat dan Akhlak

  • Sangat adil dan tegas
  • Hidup sederhana
  • Tak segan menangis karena takut kepada Allah
  • Pemimpin yang mengutamakan rakyat

8. Wafat

Umar wafat setelah ditikam oleh Abu Lu’lu’ah saat memimpin shalat Subuh.
Sebelum wafat, ia:

  • Menunjuk dewan syura untuk memilih khalifah
  • Tetap memikirkan umat Islam

9. Teladan dari Umar bin Khattab

  • Keberanian dalam kebenaran
  • Kepemimpinan yang adil
  • Kesederhanaan pemimpin
  • Ketegasan yang dilandasi iman

 

KH Badrus Sholeh Arif

 


Kediri, salah satu daerah di Jawa Timur, dikenal memiliki banyak pondok pesantren. Banyak pondok pesantren tumbuh dan berkembang di sini. Dan, dari sini pula banyak lahir ulama besar, kiai-kiai jaduk (jadug), santri-santri dengan patriotisme dan nasionalisme yang tinggi. Salah satunya adalah KH Badrus Sholeh Arif.

Nama Kiai Badrus memang tak sepopular kiai-kiai besar lainnya, seperti Kiai Mahrus Aly dari Lirboyo, Kediri, misalnya. Namun, kiprah, perjuangan, dan pengaruhnya dalam pengembangan pendidikan pesantren di Kediri sangat besar. Tak hanya itu, semasa hidupnya, perjuangan dan pengaruhnya dalam membangkitkan nasionalisme kaum santri dalam melawan penjajahan juga sangat besar —meskipun luput dari pencacatan sejarah.

Kiai Badrus Sholeh Arif merupakan putra ke-5 dari pasangan KH Moh Arif bin KH Hasan Alwi dan Nyai Sri’atun binti KH Hasan Muhyi. Ia dilahirkan di Kediri pada 10 November 1918. Berdasarkan beberapa sumber dan manuskirp terpercaya, ayah Kiai Badrus ini tercatat sebagai salah satu cucu dari Pangeran Diponegoro. Sebab, Kiai Hasan Alwi, kakek Kiai Badrus, merupakan putra dari Pangeran Diponegoro dari istri selir. Kiai Hasan Alwi merupakan ulama berpengaruh yang membuka Desa Banyakan, tempat kelahiran Kiai Badrus.

Darah Diponegoro yang mengalir dalam dirinya itulah yang menurunkan jiwa patriotisme dan nasionalisme dalam diri Kiai Badrus dalam berjuang melawan kaum penjajah. Pondok Pesantren Al Hikmah Kediri, yang didirikannya pada 1948, pernah menjadi tangsi para pejuang Merah Putih.

Sumber :Laduni

Biografi KH. Maemun Zubair


KH. Maemun Zubair, atau yang lebih akrab disapa Mbah Maemun, adalah seorang ulama besar asal Indonesia yang sangat dihormati, terutama di kalangan masyarakat Nahdlatul Ulama (NU). Beliau lahir pada 10 Oktober 1940 di Sarang, Rembang, Jawa Tengah. KH. Maemun Zubair dikenal sebagai salah satu tokoh ulama yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan agama Islam, khususnya dalam hal pendidikan, dakwah, dan pemikiran keagamaan di Indonesia.

A. Keluarga dan Latar Belakang

KH. Maemun Zubair berasal dari keluarga yang sangat menghormati ilmu agama. Ayah beliau, KH. Zubair bin Asy'ari, adalah seorang ulama yang juga dihormati di daerahnya. Sejak kecil, KH. Maemun Zubair sudah dibiasakan dengan lingkungan yang sarat dengan nilai-nilai keagamaan. Beliau menuntut ilmu sejak usia dini, baik di pesantren keluarga maupun di pesantren-pesantren lain yang terkenal di Jawa Tengah.

B. Pendidikan

KH. Maemun Zubair mengawali pendidikan agama di lingkungan pesantren yang sangat kental dengan tradisi kitab kuning. Beliau belajar di sejumlah pesantren ternama di Jawa Tengah, antara lain pesantren-pesantren di Rembang, Kudus, dan daerah sekitarnya. Dalam proses pendidikannya, beliau sangat mendalami ilmu fiqih, tafsir, hadits, serta ilmu-ilmu lainnya yang berkaitan dengan syariat Islam.

Selain pendidikan agama di pesantren, KH. Maemun Zubair juga mengembangkan pemahaman tentang berbagai disiplin ilmu Islam yang lebih luas. Beliau sempat menimba ilmu di luar negeri, yang turut memperkaya wawasan dan pengetahuan beliau dalam berbagai aspek kehidupan.

C. Peran dan Dakwah

KH. Maemun Zubair dikenal sebagai ulama yang sangat bijaksana dalam menyampaikan dakwah. Beliau sering memberikan pengajaran dan nasihat kepada masyarakat melalui kajian-kajian di pesantren dan masjid. Selain itu, Mbah Maemun juga dikenal sebagai sosok yang berperan aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU), bahkan beliau pernah menjabat sebagai salah satu pengasuh di Pesantren Al-Anwar, Sarang, yang merupakan pesantren besar di Jawa Tengah.

Dalam pandangan Mbah Maemun, pendidikan agama harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter dan akhlak. Beliau sangat menekankan pentingnya menjaga persatuan umat, tidak hanya dalam hal keagamaan, tetapi juga dalam aspek sosial dan kebangsaan. Beliau juga sering menyuarakan pentingnya toleransi antar umat beragama dan pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

D. Kehidupan Pribadi

KH. Maemun Zubair dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana dan penuh ketawadhuan. Beliau tidak hanya dihormati karena ilmu dan pengaruhnya, tetapi juga karena akhlak yang mulia. Banyak orang yang merasa dekat dengan beliau, baik kalangan ulama, santri, maupun masyarakat umum.

Selain sibuk dalam kegiatan dakwah, beliau juga aktif dalam memberikan pendidikan di pesantren yang beliau kelola. Di pesantren tersebut, beliau melahirkan banyak santri yang kini menjadi tokoh-tokoh penting di Indonesia.

Dalam dunia politik, KH. Maemun Zubair memiliki peran yang cukup signifikan, terutama dalam konteks politik Islam di Indonesia. Meskipun beliau lebih dikenal sebagai seorang ulama dan tokoh agama, kontribusi KH. Maemun Zubair dalam dunia politik terutama berkaitan dengan posisi beliau sebagai pemimpin dan pengaruhnya dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU), yang merupakan salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia,antara lain :

1. Peran dalam Organisasi Nahdlatul Ulama (NU)

Sebagai seorang ulama besar dan pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang, KH. Maemun Zubair memiliki pengaruh besar di NU, yang secara historis telah berperan aktif dalam perkembangan politik Indonesia, terutama dalam membentuk kebijakan yang berkaitan dengan umat Islam dan negara. NU secara tradisional memiliki hubungan yang erat dengan dunia politik, dengan banyak anggotanya yang terlibat dalam berbagai partai politik, termasuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang didirikan oleh Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) dan sejumlah tokoh NU lainnya.

Mbah Maemun Zubair sendiri tidak terlibat langsung dalam praktik politik praktis seperti menjadi anggota legislatif atau menduduki posisi eksekutif. Namun, beliau berperan sebagai penasihat dan pemberi arahan penting dalam arah kebijakan politik yang diambil oleh NU dan tokoh-tokoh politik yang berasal dari NU. Banyak politisi, baik dari PKB maupun partai lain, yang mendengarkan nasihat beliau, terutama terkait dengan persoalan-persoalan agama, sosial, dan kebangsaan.

2. Pemberi Arahan Moral dan Politik

Mbah Maemun Zubair dikenal sebagai sosok yang memberi arahan moral kepada politisi dan masyarakat. Sebagai seorang ulama, beliau sering memberikan nasihat terkait dengan pentingnya menjaga integritas, kejujuran, dan keharmonisan dalam kehidupan politik. Beliau juga menekankan pentingnya persatuan umat dan negara, serta menjaga keharmonisan antar umat beragama.

KH. Maemun Zubair juga sering memberikan pandangan tentang bagaimana Islam harus diposisikan dalam konteks negara demokratis seperti Indonesia. Beliau adalah seorang pendukung kuat bagi Pancasila sebagai dasar negara dan menekankan bahwa Pancasila adalah landasan yang tepat untuk menjaga keberagaman dan persatuan bangsa Indonesia. Dalam pandangan beliau, politik seharusnya digunakan sebagai alat untuk menegakkan keadilan sosial dan memajukan kesejahteraan umat, bukan untuk memecah belah.

3. Hubungan dengan Pemimpin Politik

KH. Maemun Zubair memiliki hubungan baik dengan sejumlah pemimpin politik di Indonesia. Salah satu yang paling terkenal adalah hubungan dekat beliau dengan Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid), Presiden Republik Indonesia ke-4 yang juga merupakan tokoh NU. Gus Dur sangat menghargai nasihat Mbah Maemun dalam berbagai masalah politik dan agama. Dalam banyak kesempatan, Mbah Maemun Zubair memberikan dukungan moral terhadap kebijakan-kebijakan Gus Dur yang pro-pluralisme dan demokrasi.

Selain Gus Dur, beliau juga dihormati oleh politisi lainnya dari berbagai latar belakang partai politik. Mbah Maemun Zubair menjadi rujukan bagi banyak politisi dalam mengambil keputusan-keputusan politik yang berkaitan dengan umat Islam dan kepentingan bangsa Indonesia secara umum.

4. Penyampaian Sikap Politik yang Bijaksana

Sebagai seorang ulama, KH. Maemun Zubair selalu mengedepankan prinsip-prinsip keagamaan dalam menyikapi dinamika politik. Beliau mengingatkan bahwa politik harus dijalankan dengan nilai-nilai moral dan etika yang tinggi, serta tidak boleh menjadikan agama sebagai alat untuk kepentingan politik praktis semata. Meski terlibat dalam dunia politik secara tidak langsung, beliau tetap menjaga sikap independen dan tidak terjebak dalam politik praktis yang mengutamakan kepentingan kelompok atau pribadi.

5. Pengaruh dalam Pemilu dan Pilkada

Dalam beberapa kesempatan, Mbah Maemun Zubair juga memberikan dukungan kepada calon-calon tertentu dalam pemilu atau pilkada. Namun, dukungan tersebut lebih bersifat kepada calon yang beliau anggap memiliki visi dan komitmen yang baik terhadap Islam, bangsa, dan negara. Dukungan Mbah Maemun Zubair tidak hanya berasal dari kalangan NU, tetapi juga dihargai oleh masyarakat luas karena beliau dilihat sebagai sosok yang arif dan bijaksana dalam memberikan pertimbangan politik.

E. Wafat

KH. Maemun Zubair wafat pada 6 Agustus 2019 di Mekkah, Arab Saudi, dalam usia 79 tahun. Kehilangannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi para santri dan warga Nahdlatul Ulama. Pemakaman beliau di tanah suci Mekkah menjadi momen yang sangat emosional bagi banyak orang, mengingat jasa dan kontribusinya yang besar terhadap perkembangan dakwah Islam di Indonesia.

F. Warisan dan Pengaruh

Warisan yang ditinggalkan oleh KH. Maemun Zubair tidak hanya dalam bentuk ilmu dan ajaran agama, tetapi juga dalam sikap hidup yang penuh dengan kasih sayang, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap masyarakat. Pesantren-pesantren yang beliau dirikan dan ajarkan terus berkembang, melahirkan generasi baru yang meneruskan perjuangan beliau dalam menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat, toleran, dan damai.

Mbah Maemun juga dikenang sebagai salah satu tokoh yang sangat menghormati tradisi, tetapi juga mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa mengorbankan prinsip-prinsip agama yang beliau anut. Beliau selalu menekankan bahwa agama Islam adalah agama yang penuh rahmat dan kasih sayang bagi seluruh umat manusia, dan itu tercermin dalam cara beliau berdakwah dan menjalani kehidupannya sehari-hari.

Profil KH Zainudin MZ

KH Zainudin MZ, atau yang sering dikenal sebagai Da’i Sejuta Umat, adalah seorang tokoh agama, mubalig, dan pendakwah terkenal di Indonesia. Lahir pada 2 Januari 1960 di Jakarta, beliau dikenal luas karena dakwahnya yang memadukan ilmu agama dengan cara yang sederhana dan mudah diterima oleh masyarakat luas.

Beliau memulai pendidikan agamanya di pesantren dan kemudian melanjutkan pendidikan di beberapa lembaga pendidikan Islam. Keahliannya dalam bidang agama Islam, terutama dalam hal tafsir, hadits, dan fiqh, menjadikannya sebagai salah satu da'i yang dihormati.

Sejak muda, KH Zainudin MZ sudah aktif menyampaikan dakwah lewat berbagai media, termasuk radio dan televisi. Beliau menjadi ikon dakwah di Indonesia, dikenal dengan cara penyampaian yang khas, penuh semangat, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Salah satu acara terkenal yang pernah dipandu olehnya adalah "Dai Sejuta Umat" yang disiarkan di TVRI.

KH Zainudin MZ mendapat gelar "Dai Sejuta Umat" karena popularitasnya yang sangat besar di kalangan masyarakat. Beliau memiliki gaya dakwah yang menggabungkan motivasi kehidupan sehari-hari dengan pesan agama. Ceramahnya sering kali dipenuhi humor dan kisah-kisah yang memotivasi pendengar

Selain sebagai mubalig, KH Zainudin MZ juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan. Beliau banyak memberikan kontribusi dalam memajukan pendidikan Islam di Indonesia serta memberi inspirasi bagi banyak generasi muda untuk lebih memahami ajaran agama Islam secara mendalam.

KH Zainudin MZ menikah dan memiliki beberapa anak. Beliau dikenal sebagai sosok yang sederhana, rendah hati, dan dekat dengan masyarakat. Meskipun dikenal luas, beliau tetap menjaga kesederhanaan dalam hidup sehari-hari.

KH Zainudin MZ juga dikenal sebagai penulis buku-buku agama yang banyak dibaca oleh umat Islam. Buku-buku tersebut sering kali memberikan pencerahan dalam kehidupan spiritual dan motivasi hidup berlandaskan ajaran agama Islam.

KH Zainudin MZ sebelumnya diketahui mengalami masalah kesehatan yang cukup serius. Menurut informasi yang beredar, Beliau  menderita penyakit jantung dan sempat menjalani beberapa perawatan medis untuk kondisinya tersebut. Meskipun dalam beberapa kesempatan beliau tampak aktif berdakwah, kondisi kesehatan yang menurun membuat beliau membutuhkan perawatan lebih intensif. Penyakit jantung yang beliau derita menjadi faktor utama yang mempengaruhi kesehatan dan menyebabkan beliau meninggal dunia.

Setelah wafatnya, jenazah KH Zainudin MZ dishalatkan di Masjid Al-Azhar, Jakarta, yang juga merupakan tempat beliau sering berceramah. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Pemakaman Karet Bivak, Jakarta, dengan prosesi pemakaman yang dihadiri oleh keluarga, sahabat, dan pengikut setia beliau.

Kabar wafatnya KH Zainudin MZ mengundang banyak reaksi dari masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam. Banyak tokoh agama, sahabat, dan pengikut beliau yang merasa kehilangan dan mengungkapkan rasa dukacita mereka melalui berbagai media sosial dan saluran komunikasi. Beliau dikenang sebagai seorang da’i yang tulus dalam mengajarkan agama Islam dan memberi inspirasi kepada banyak orang.

Meskipun sudah wafat, warisan dakwah dan ajaran beliau tetap hidup dalam ingatan umat. Beliau dikenal dengan ceramah-ceramah yang mengedepankan pesan moral dan kebajikan, serta pengajaran agama yang mudah dipahami oleh masyarakat umum. Salah satu karya besar beliau adalah acara dakwah yang diberi nama "Dai Sejuta Umat", yang menjadi salah satu program dakwah yang sangat populer pada masanya.

Wafatnya KH Zainudin MZ meninggalkan duka yang mendalam bagi umat Islam Indonesia, tetapi juga meninggalkan warisan yang akan terus dikenang dan diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya.

KH. Abdullah Faqih Langitan

 KH. Abdullah Faqih Langitan adalah salah satu ulama besar dan tokoh penting dalam sejarah Islam di Indonesia, khususnya dalam kalangan pesantren. Beliau dikenal sebagai seorang kiai yang memiliki pengaruh besar di kalangan masyarakat pesantren, khususnya di wilayah Jawa Timur.

KH. Abdullah Faqih Langitan berasal dari keluarga yang sangat menghormati ilmu agama. Beliau lahir di Langitan, Tuban, Jawa Timur, dan lebih dikenal dengan nama "KH. Abdullah Faqih Langitan" sebagai identitas dari pesantren yang didirikannya. Langitan sendiri merupakan sebuah desa yang menjadi pusat pendidikan agama, terutama dalam bidang ilmu fiqh, tasawuf, dan ilmu-ilmu agama lainnya.

KH. Abdullah Faqih Langitan menimba ilmu agama sejak usia muda. Beliau belajar di berbagai pesantren ternama di Jawa, dan kemudian mendalami ilmu agama di beberapa ulama besar. Salah satu tempat yang sangat berpengaruh dalam pembentukan intelektualitasnya adalah pesantren yang ada di daerah Jawa Timur. Beliau juga mendapat bimbingan langsung dari sejumlah ulama dan kiai ternama.

Pendidikan awal beliau banyak didapatkan di lingkungan keluarganya yang sudah memiliki tradisi pesantren dan keturunan ulama.

Keluarga besar beliau berperan penting dalam memberikan dasar-dasar pengetahuan agama. Dalam konteks ini, KH. Abdullah Faqih Langitan memperoleh pendidikan dini dalam ilmu fikih, tafsir, hadis, dan aqidah yang diajarkan oleh para orang tua atau kiai di lingkungan keluarganya.

Sebagai seorang ulama yang sangat dihormati, KH. Abdullah Faqih Langitan kemudian melanjutkan pendidikannya ke beberapa pesantren besar di Jawa Timur, terutama pesantren-pesantren yang sudah memiliki reputasi tinggi dalam pengajaran ilmu agama. Di sini, beliau belajar di bawah bimbingan para kiai besar yang terkenal dengan kemampuan mereka dalam mengajarkan ilmu agama yang mendalam.

Beberapa pesantren yang dikenal memiliki pengaruh besar terhadap pendidikan beliau di antaranya adalah pesantren-pesantren yang ada di wilayah Jawa Timur. Namun, tidak semua detail mengenai pesantren tempat beliau belajar secara spesifik tercatat dalam sejarah.

Pendidikan KH. Abdullah Faqih Langitan sangat berfokus pada penguasaan kitab-kitab klasik (kitab kuning) yang menjadi rujukan utama dalam pesantren-pesantren tradisional. Kitab-kitab ini mencakup berbagai disiplin ilmu agama seperti fiqh (ilmu hukum Islam), tasawuf (ilmu kerohanian), aqidah (teologi Islam), dan hadis.

Kitab-kitab yang dipelajari oleh KH. Abdullah Faqih Langitan meliputi karya-karya ulama klasik yang digunakan dalam kurikulum pesantren, seperti:

  • Fathul Qarib dan Al-Muqaddimah dalam fiqh.
  • Al-Hikam dalam tasawuf.
  • Al-Bukhari dan Sahih Muslim dalam hadis.
  • Tafsir Ibnu Katsir dalam ilmu tafsir al-Qur'an.

Sebagai seorang santri, KH. Abdullah Faqih Langitan memiliki kemampuan mendalam dalam mengkaji kitab-kitab ini dan memahami pemikiran serta ajaran yang terkandung di dalamnya. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa beliau dihormati sebagai seorang ulama yang memiliki pemahaman luas tentang agama.

Selain itu KH. Abdullah Faqih Langitan juga mendapat bimbingan langsung dari sejumlah ulama besar yang terkenal pada zamannya. Dari para guru dan mentor inilah beliau mengasah pemahaman agamanya dan memperdalam ilmu dalam bidang fiqh, tasawuf, dan dakwah.

Di banyak pesantren tradisional, seorang santri tidak hanya belajar melalui pengajaran formal, tetapi juga melalui proses "nyantri" di mana hubungan antara kiai dan santri menjadi sangat penting. KH. Abdullah Faqih Langitan dikenal sangat dekat dengan guru-gurunya dan sering kali mengembangkan wawasan agama dari pengalaman langsung berdiskusi dengan mereka.

KH. Abdullah Faqih Langitan adalah pendiri dan pengasuh Pesantren Langitan yang terletak di Tuban, Jawa Timur. Pesantren Langitan menjadi tempat yang banyak melahirkan generasi penerus yang berkontribusi besar dalam pengembangan ilmu agama dan pendidikan Islam di Indonesia. Pesantren ini dikenal memiliki metode pengajaran yang mengedepankan penguasaan kitab kuning (kitab-kitab klasik), fiqh, serta akhlak dan tasawuf.

Selain sebagai pengasuh pesantren, beliau juga aktif dalam kegiatan sosial dan dakwah di berbagai daerah. KH. Abdullah Faqih Langitan juga dikenal sebagai seorang ulama yang memiliki kemampuan untuk menggabungkan antara tradisi pesantren dengan perkembangan zaman, membuat ajaran beliau relevan bagi masyarakat modern.

KH. Abdullah Faqih Langitan meninggal pada tahun 1997. Beliau meninggalkan warisan yang sangat besar, baik dalam bidang pendidikan agama maupun dakwah Islam, khususnya di kalangan pesantren dan masyarakat sekitar. Pesantren Langitan yang beliau dirikan terus berkembang hingga saat ini, menjadi tempat penting dalam pengajaran ilmu agama dan pembentukan akhlak para santri.

Profil KH. Mas Subadar

KH. Mas Subadar adalah seorang ulama terkemuka yang dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum di Besuk, Pasuruan, Jawa Timur. Beliau lahir pada tahun 1942 di Desa Besuk, Kejayan, Pasuruan, sebagai putra dari pasangan KH. Subadar dan Hj. Maimunah. Pada usia tiga bulan, beliau telah menjadi yatim piatu karena ditinggal wafat ayahanda. Sejak kecil, beliau diasuh dan dididik oleh ibundanya, Hj. Maimunah,yang menjadi panutan dan sumber inspirasi dalam hidupnya.  

Meskipun kehilangan ayah sejak dini, beliau mendapat didikan yang sangat kuat dari ibunya, Hj. Maimunah, yang sangat berperan dalam membentuk karakter dan pendidikannya. Ibundanya menjadi sosok yang sangat berpengaruh dalam kehidupannya, memberikan kasih sayang dan pendidikan yang sangat berharga, terutama dalam pendidikan agama. Ini membuat KH. Mas Subadar memiliki keteguhan dan semangat dalam menuntut ilmu sejak kecil.

Tumbuh dalam lingkungan yang religius, beliau mulai menghafal Al-Qur'an dan belajar berbagai ilmu agama sejak usia dini, yang nantinya membentuknya menjadi seorang ulama yang dihormati di daerahnya.

Dalam menuntut ilmu, KH. Mas Subadar menunjukkan dedikasi yang tinggi. Beliau belajar di berbagai pesantren, termasuk Pesantren Lirboyo di Kediri, di bawah bimbingan KH. Machrus Ali. Di sana, beliau mendalami berbagai cabang ilmu agama dan menjadi santri yang dikenal rajin dan cerdas.

Setelah menikah dengan Nyai Aisyah pada tahun 1969, beliau kembali aktif dalam kegiatan organisasi dan kepemimpinan pesantren. Pada tahun 1976, beliau memimpin Pondok Pesantren Raudlatul Ulum dan menjabat sebagai Rois Syuriah NU Cabang Pasuruan pada tahun 1980. Beliau juga terlibat dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial di masyarakat, menjadi panutan bagi banyak orang.

KH. Mas Subadar wafat pada Sabtu malam, 30 Juli 2016, pada usia 72 tahun. Kewafatan beliau menjadi momen yang sangat berduka bagi keluarga, santri, dan masyarakat luas, terutama di kawasan Pasuruan dan sekitarnya, di mana beliau dikenal sebagai sosok yang sangat dihormati dan berperan besar dalam dunia pendidikan agama serta kegiatan sosial.

Sebelum meninggal, beliau memang sudah dalam kondisi yang cukup lemah karena faktor usia. Namun, meskipun demikian, beliau tetap menjalani aktivitas keagamaan dan memimpin Pondok Pesantren Raudlatul Ulum dengan penuh dedikasi. KH. Mas Subadar dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana, tegas, dan teguh dalam pendirian. Beliau juga sangat dekat dengan para santri dan masyarakat, yang menjadikan kepergiannya sangat dirasakan oleh banyak orang.

Setelah meninggal dunia, jenazah KH. Mas Subadar dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, yang terletak di Desa Besuk, Kejayan, Pasuruan. Pemakaman beliau di pesantren yang beliau pimpin selama bertahun-tahun ini menjadi simbol pengabdian dan dedikasi beliau dalam dunia pendidikan agama, khususnya di pesantren tersebut.

Kepergian beliau meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang, dan pondok pesantren yang beliau pimpin terus menjadi tempat pendidikan dan pengajaran bagi generasi selanjutnya.


KH. Ilyas Ruhiat

Setelah belajar di Cipasung, beliau memperdalam ilmu agama di beberapa pesantren ternama di Jawa Barat dan sekitarnya.

Di pesantren-pesantren tersebut, beliau semakin mendalami ilmu syariat dan pemikiran Islam.Selain menempuh pendidikan di pesantren, KH. Ilyas Ruhiat juga mendapatkan pendidikan formal di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati, Bandung.

Di kampus ini, beliau semakin memperkaya wawasan keislaman dan memperkuat jaringan dengan ulama serta akademisi Islam.Selama perjalanan intelektualnya, KH. Ilyas Ruhiat banyak berguru kepada ulama-ulama besar di Jawa Barat dan luar daerah.

Pemikiran dan keilmuan beliau juga dipengaruhi oleh tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang kuat dalam lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).

Setelah menyelesaikan pendidikannya, KH. Ilyas Ruhiat tidak hanya menjadi ulama besar, tetapi juga berperan sebagai pendidik dan pengasuh Pondok Pesantren Cipasung.

Beliau aktif dalam mengembangkan sistem pendidikan pesantren agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Mendorong integrasi pendidikan agama dan pendidikan formal agar santri memiliki wawasan luas.

Berkontribusi dalam pembinaan kader-kader ulama NU di tingkat nasional.

KH. Ilyas Ruhiat wafat pada 18 Desember 2007 dalam usia 73 tahun di kediamannya di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Beliau meninggal dunia setelah mengalami sakit dalam beberapa waktu sebelumnya. Sebagai seorang ulama besar yang dihormati, kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, para santri, masyarakat pesantren, dan warga Nahdlatul Ulama (NU).Jenazah beliau dimakamkan di Kompleks Pemakaman Keluarga Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, tempat di mana ayahnya, KH. Ruhiat, juga dimakamkan.

  • Pemakaman KH. Ilyas Ruhiat dihadiri oleh:
  • Para ulama dan kiai dari berbagai daerah
  • Pimpinan Nahdlatul Ulama (PBNU dan PWNU)
  • Santri dan alumni Pesantren Cipasung
  • Tokoh-tokoh nasional dan masyarakat umum

Ribuan orang dari berbagai kalangan datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada beliau. Prosesi pemakaman berjalan dengan penuh penghormatan dan doa, mencerminkan besarnya jasa dan pengaruh beliau dalam dunia pesantren dan organisasi Islam di Indonesia.

Meski telah wafat, KH. Ilyas Ruhiat meninggalkan warisan besar berupa:

  •  Pendidikan pesantren yang terus berkembang melalui Pondok Pesantren Cipasung.
  •  Pemikiran Islam moderat yang tetap relevan dalam Nahdlatul Ulama dan masyarakat luas.
  •  Kepemimpinan yang menjadi teladan bagi generasi ulama dan santri berikutnya.


Kepergian KH. Ilyas Ruhiat tidak hanya menjadi kehilangan bagi keluarga dan santrinya, tetapi juga bagi umat Islam di Indonesia, terutama warga Nahdlatul Ulama yang mengenang beliau sebagai ulama yang bijak, sederhana, dan penuh dedikasi dalam membimbing umat.

Raden Prabu Kian Santang

Raden Prabu Kian Santang merupakan putra dari Prabu Siliwangi, raja Kerajaan Pajajaran, dan Nyi Rahi Lulut. Ia lahir dalam lingkungan kerajaan yang besar dan berkuasa, yang memberinya pendidikan tinggi dan keterampilan kepemimpinan sejak usia muda. Raden Kian Santang juga memiliki ikatan darah dengan tokoh-tokoh besar lainnya, termasuk dengan Mahapatih Niskala Wastu Kancana, yang menjadi penasihat penting di kerajaan tersebut.

Nama lengkapnya adalah Raden Prabu Kian Santang, tetapi ada juga yang menyebutnya dengan nama Raden Kian Santang atau Prabu Kian Santang. "Kian Santang" sendiri memiliki makna yang mendalam, yakni "Kian" yang berarti terus atau semakin, dan "Santang" yang melambangkan ketenangan, kebijaksanaan, dan keteguhan hati.

Sebagai seorang pahlawan, Raden Kian Santang dikenal memiliki kemampuan bela diri yang luar biasa dan keahlian dalam strategi peperangan. Ia juga dihormati karena keteguhan imannya dan kebijaksanaannya dalam memimpin pasukan dan menjaga keharmonisan kerajaan. Salah satu kisah terkenal adalah ketika ia bertempur melawan musuh-musuh kerajaan dan memenangkan pertempuran besar yang memastikan kelangsungan kerajaan Pajajaran.

Raden Kian Santang sering dikaitkan dengan berbagai cerita mistis dan legenda. Salah satunya adalah kisah perjalanannya untuk mencari ilmu dan penguatan spiritual di Gunung Sanggabuana, di mana ia bertemu dengan berbagai tokoh dan makhluk gaib yang menguji keberaniannya. Selain itu, ia juga dikenal karena hubungan dekatnya dengan para tokoh agama dan spiritual, seperti Wali Songo, yang turut mempengaruhi pandangannya mengenai keagamaan dan kehidupan.

Selain menjadi pahlawan yang berjasa dalam melindungi kerajaan, ia juga dikaitkan dengan pembangunan budaya Sunda, serta nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebagai seorang pemimpin, Raden Kian Santang mengajarkan pentingnya kebijaksanaan, keberanian, dan tanggung jawab dalam memimpin.

Peninggalan Raden Prabu Kian Santang, meskipun tidak sekuat peninggalan fisik seperti candi atau bangunan besar, tetap dapat ditemukan dalam berbagai bentuk budaya dan cerita yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Sunda. Berikut adalah beberapa peninggalan yang dikaitkan dengan Raden Prabu Kian Santang:

1. Cerita Rakyat dan Legenda

Peninggalan paling nyata dari Raden Prabu Kian Santang adalah cerita-cerita rakyat yang menceritakan tentang kepahlawanan, kebijaksanaan, dan perjuangannya. Kisah-kisah ini terus diceritakan melalui berbagai bentuk seni seperti sastra, wayang golek, dan tradisi lisan di kalangan masyarakat Sunda. Cerita-cerita ini tidak hanya menggambarkan dirinya sebagai pahlawan fisik, tetapi juga sebagai simbol nilai-nilai moral dan spiritual yang tinggi.

2. Situs Sejarah dan Tempat yang Dihormati

Beberapa tempat di Jawa Barat, khususnya di sekitar daerah Priangan, sering dikaitkan dengan perjalanan hidup dan kisah Raden Prabu Kian Santang. Salah satunya adalah Gunung Sanggabuana, yang dalam cerita rakyat dipercaya sebagai tempat di mana Raden Kian Santang melakukan pencarian ilmu dan bertemu dengan tokoh-tokoh gaib. Gunung ini menjadi salah satu situs yang dihormati oleh masyarakat Sunda karena kaitannya dengan tokoh legendaris tersebut.

3. Prabu Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran

Raden Prabu Kian Santang adalah putra dari Prabu Siliwangi, raja legendaris dari Kerajaan Pajajaran. Banyak peninggalan sejarah dan budaya Kerajaan Pajajaran yang tetap ada, meskipun kerajaan itu sudah runtuh. Misalnya, Candi Cangkuang dan Candi Padalarang, yang merupakan peninggalan budaya yang erat kaitannya dengan masa kejayaan kerajaan Sunda. Walaupun bukan peninggalan langsung dari Raden Kian Santang, situs-situs ini mengingatkan kita pada zaman di mana ia hidup dan berjuang.

4. Wujud dalam Kesenian dan Pertunjukan

Peninggalan lainnya bisa ditemukan dalam kesenian tradisional Sunda seperti wayang golek dan tari-tarian, di mana tokoh Raden Kian Santang sering dijadikan bagian dari cerita atau pertunjukan. Dalam wayang golek, ia sering digambarkan sebagai seorang pahlawan yang memiliki kebijaksanaan dan kekuatan, serta hubungan dengan dunia spiritual. Peninggalan budaya ini terus hidup dan berkembang hingga kini.

5. Nama Tempat dan Monumen

Beberapa daerah di Jawa Barat mengadopsi nama-nama yang terkait dengan Raden Kian Santang, baik dalam nama desa, gunung, atau tempat-tempat bersejarah yang dianggap memiliki kaitan dengan kehidupannya. Monumen atau prasasti yang mengingatkan kita akan tokoh-tokoh legendaris seperti Kian Santang juga sering dibangun oleh masyarakat untuk mengenang perjuangan mereka.

6. Ajaran Moral dan Filosofi

Selain peninggalan fisik, salah satu warisan terbesar dari Raden Kian Santang adalah ajaran moral dan filosofinya, terutama yang berkaitan dengan kepemimpinan, keberanian, dan keagamaan. Ajaran-ajaran tersebut menjadi pedoman bagi banyak pemimpin dan masyarakat Sunda dalam kehidupan mereka sehari-hari. Nilai-nilai yang ia tinggalkan sangat menginspirasi dan dianggap sebagai panduan hidup yang penuh kebijaksanaan.

Tidak banyak yang diketahui pasti tentang akhir kehidupan Raden Prabu Kian Santang. Namun, cerita-cerita dalam legenda menyebutkan bahwa ia akhirnya meninggalkan dunia fana untuk berguru lebih dalam tentang kehidupan spiritual dan ketuhanan. Ia menjadi simbol perjuangan dan keberanian dalam sejarah Sunda.

Warisan yang ditinggalkannya tidak hanya terbatas pada cerita-cerita kepahlawanan, tetapi juga pada ajaran moral dan spiritual yang sangat dihargai oleh masyarakat Sunda. Hingga kini, namanya masih dikenang sebagai tokoh yang penuh inspirasi bagi banyak orang di tanah Pasundan.

KH. Ahmad Djazuli Utsman, Pendiri PP. Al Falah Ploso Kediri Jawa Timur

KH. Ahmad Djazuli Utsman, Pendiri PP. Al Falah Ploso Kediri yang mempunyai julukan Sang Blawong Pewaris Keluhuran. Nama asli beliau adalah Mas’ud. Julukan tersebut diberikan oleh KH. Zainuddin. Kelak dikemudian hari ia lebih dikenal dengan nama KH. Achmad Djazuli Utsman, pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Al-Falah , Ploso, Kediri.

Ia lahir di awal abad XIX, tepatnya tanggal 16 Mei 1900 M. Ia adalah anak Raden Mas M. Utsman seorang Onder Distrik (penghulu kecamatan). Sebagai anak bangsawan, Mas’ud beruntung, karena ia bisa mengenyam pendidikan sekolah formal seperti SR, MULO, HIS bahkan sampai dapat duduk di tingkat perguruan tinggi STOVIA (Fakultas Kedokteran UI sekarang) di Batavia.

Belum lama Mas’ud menempuh pendidikan di STOVIA, tak lama berselang Pak Naib, demikian panggilan akrab RM. Utsman kedatangan tamu, KH. Ma’ruf (Kedunglo) yang dikenal sebagai murid Kyai Kholil, Bangkalan (Madura).

Mas’ud mengawali rihlah ilmiyahnya dengan di pesantren Gondanglegi Nganjuk yang diasuh oleh KH. Ahmad Sholeh. Di pesantren ini ia mendalami ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an, khususnya tajwid dan kitab Jurumiyah yang berisi gramatika Arab dasar (Nahwu) selama 6 bulan. 

Setelah menguasai ilmu Nahwu, Mas’ud yang dikenal sejak usia muda itu gemar menuntut ilmu kemudian memperdalam pelajaran tashrifan (ilmu Shorf) selama setahun di Pondok Sono (Sidoarjo). Ia juga sempat mondok di Sekarputih, Nganjuk yang diasuh KH. Abdul Rohman. Hingga akhirnya ia nyantri ke pondok yang didirikan oleh KH. Ali Imron di Mojosari, Nganjuk yang pada waktu itu diasuh oleh KH. Zainuddin. Kiai Zainuddin Mojosari dikenal banyak melahirkan ulama besar, diantaranya adalah KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Pendiri NU dan Rais Am setelah KH. Hasyim Asy’ari), Mas’ud yang waktu itu telah kehabisan bekal untuk tinggal di dalam pondok kemudian mukim di langgar pucung (musala yang terletak tidak jauh pondok). 

Selama di Pondok Mojosari, Mas’ud hidup sangat sederhana. Bekal lima rupiah sebulan, dirasa sangat jauh dari standar kehidupan santri yang pada waktu itu rata-rata Rp 10,-. Setiap hari, ia hanya makan satu lepek (piring kecil) dengan lauk pauk sayur ontong (jantung) pisang atau daun luntas yang dioleskan pada sambal kluwak. Sungguh jauh dikatakan nikmat apalagi lezat.

Di tengah kehidupan yang makin sulit itu, Pak Naib Utsman, ayah tercinta meninggal. Untuk menopang biaya hidup di pondok, Mas’ud membeli kitab-kitab kuning yang masih kosong lalu ia memberi makna yang sangat jelas dan mudah dibaca. Satu kitab kecil semacam Fathul Qorib, ia jual Rp 2,5,-(seringgit), hasil yang lumayan untuk membiayai hidup selama 15 hari di pondok itu.

Setelah sempat mondok di Mojosari, Mas’ud berangkat haji sekaligus menuntut ilmu langsung di Mekkah. H. Djazuli, demikian nama panggilan namanya setelah sempurna menunaikan ibadah haji. Selama di tanah suci, ia berguru pada Syeikh Al-‘Alamah Al-Alaydrus di Jabal Hindi. Namun, ia di sana tidak begitu lama, hanya sekitar dua tahun saja, karena ada kudeta yang dilancarkan oleh kelompok Wahabi pada tahun 1922 yang diprakasai Pangeran Abdul Aziz As-Su’ud. 

Di tengah berkecamuknya perang saudara itu, H. Djazuli bersama 5 teman lainnya berziarah ke makam Rasulullah SAW di Madinah. Sampai akhirnya H. Djazuli dan kawan-kawannya itu ditangkap oleh pihak keamanan Madinah dan dipaksa pulang lewat pengurusan konsulat Belanda.

Sepulang dari tanah suci, Mas’ud kemudian pulang ke tanah kelahirannya, Ploso dan hanya membawa sebuah kitab yakni Dalailul Khairat. Selang satu tahun kemudian, 1923 ia meneruskan nyantri ke Tebuireng Jombang untuk memperdalam ilmu hadits di bawah bimbingan langsung Hadirotusy Syekh KH. Hasjim Asya’ri.

Tatkala H. Djazuli sampai di Tebuireng dan sowan ke KH. Hasjim Asya’ri untuk belajar, Hadrotusy Syekh sudah tahu siapa Djazuli yang sebenarnya, ”Kamu tidak usah mengaji, mengajar saja di sini.” H. Djazuli kemudian mengajar Tafsir Jalalain, bahkan ia kerap mewakili Tebuireng dalam bahtsul masa’il (seminar) yang diselenggarakan di Kenes, Semarang, Surabaya dan sebagainya. 

Setelah dirasa cukup, ia kemudian melanjutkan ke Pesantren Tremas yang diasuh KH. Ahmad Dimyathi (adik kandung Syeikh Mahfudz Attarmasiy). Tak berapa lama kemudian ia pulang ke kampung halaman, Ploso. Sekian lama H. Djazuli menghimpun “air keilmuan dan keagamaan”. Ibarat telaga, telah penuh. Saatnya mengalirkan air ilmu pegetahuan ke masyarakat.

Sampai di akhir hayat, KH. Ahmad Djazuli Utsman dikenal istiqomah dalam mengajar kepada santri-santrinya. Saat memasuki usia senja, Kyai Djazuli mengajar kitab Al-Hikam (tasawuf) secara periodik setiap malam Jum’at bersama KH. Abdul Madjid dan KH. Mundzir. Bahkan sekalipun dalam keadaan sakit, beliau tetap mendampingi santri-santri yang belajar kepadanya. Riyadloh yang beliau amalkan memang sangat sederhana namun mempunyai makna yang dalam. Beliau memang tidak mengamalkan wiridan-wiridan tertentu. Thoriqoh Kyai Djazuli hanyalah belajar dan mengajar “Ana thoriqoh ta’lim wa ta’allum” ,dawuh beliau berulangkali kepada para santri.

Hadratus Syaikh KH. A. Djazuli Utsman menghadap kepada yang kuasa pada jam 15.30 wib hari Sabtu wage 10 januari 1976 bertepatan dengan 10 Muharam 1396 H.

Sumber : alfalahploso

Biografi Kanjeng Mas Raden Tumenggung Soebroto

Pencak Silat merupakan seni bela diri tradisional yang berasal dari Indonesia. Salah satu organisasi pencak silat yang terkenal adalah Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), yang didirikan oleh Kanjeng Mas Raden Tumenggung (KMR) Soebroto pada tahun 1922 di Madiun, Jawa Timur.

Kanjeng Mas Raden Tumenggung Soebroto Lahir pada tanggal 23 Februari 1897 di  Madiun, Jawa Timur.

Beliau Wafat pada tahun 1972, Makam Kanjeng Mas Raden Tumenggung Soebroto terletak di Madiun, Jawa Timur. Tepatnya, makamnya berada di kawasan desa yang dekat dengan tempat ia dilahirkan dan mengembangkan PSHT. Makamnya menjadi salah satu tempat ziarah bagi anggota PSHT dan masyarakat yang menghormatinya sebagai pendiri dan pelopor pencak silat.

KMR Soebroto lahir dari keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai seni dan budaya. Sejak kecil, ia sudah terpapar dengan berbagai ajaran seni bela diri. Ia sangat tertarik pada pencak silat dan mengembangkan teknik-teknik bela diri yang efisien dan efektif.

Pada tahun 1922, Soebroto mendirikan PSHT sebagai wadah untuk melestarikan dan mengembangkan seni bela diri pencak silat. PSHT bukan hanya mengajarkan teknik-teknik bertarung, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan etika kepada para anggotanya, seperti disiplin, kesopanan, dan persaudaraan.

KMR Soebroto mengajarkan bahwa pencak silat bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang pengendalian diri dan pengembangan karakter. Melalui PSHT, ia berusaha menjadikan pencak silat sebagai alat untuk membangun jati diri dan meningkatkan kepercayaan diri masyarakat.

PSHT berkembang pesat dan memiliki banyak cabang di seluruh Indonesia dan bahkan di luar negeri. Hingga saat ini, organisasi ini terus melestarikan ajaran dan nilai-nilai yang diajarkan oleh KMR Soebroto. Dia dikenang sebagai tokoh yang tidak hanya mengembangkan seni bela diri, tetapi juga sebagai sosok yang memperkuat persatuan dan kesatuan di antara anggotanya.

Kanjeng Mas Raden Tumenggung Soebroto tetap dihormati dan dikenang sebagai pelopor dan pendiri PSHT, yang telah berkontribusi besar dalam perkembangan pencak silat di Indonesia.

profil Singkat Nur Cholis Majid

Nur Cholis Majid, lahir pada 17 Maret 1953, adalah seorang cendekiawan Muslim, sastrawan, dan pemikir terkemuka di Indonesia. Ia dikenal luas sebagai intelektual yang banyak berkontribusi dalam bidang agama, sosial, dan kebudayaan.

Majid menempuh pendidikan di beberapa institusi, termasuk Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan melanjutkan studi di luar negeri, khususnya di Al-Azhar, Mesir. Ia banyak menulis tentang isu-isu kontemporer yang berkaitan dengan Islam, termasuk pluralisme, toleransi, dan demokrasi.

Sebagai seorang sastrawan, Nur Cholis Majid juga dikenal melalui karya-karyanya yang menggugah, baik dalam bentuk esai, cerpen, maupun puisi. Ia aktif dalam dunia literasi dan sering terlibat dalam diskusi-diskusi publik mengenai pemikiran Islam dan masalah-masalah sosial.

Majid juga pernah menjabat dalam berbagai organisasi, termasuk menjadi anggota di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia sering kali menyuarakan pentingnya moderasi dalam beragama dan pentingnya dialog antarumat beragama.

Nur Cholis Majid adalah sosok yang dihormati sebagai pemikir yang berupaya menjembatani tradisi dan modernitas dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk. Karya dan pemikirannya terus memberikan inspirasi bagi banyak orang hingga saat ini.

Nur Cholis Majid wafat pada 28 September 2021. Ia meninggalkan warisan pemikiran dan karya yang terus dikenang dan dihargai dalam dunia intelektual dan sastra Indonesia.

Nur Cholis Majid dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Makamnya menjadi tempat ziarah bagi banyak orang yang menghormati kontribusinya dalam dunia pemikiran dan sastra di Indonesia.

Profil Singkat Buya Hamka

 Buya Hamka, atau Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lahir pada 17 Februari 1908 di Tanah Datar, Sumatera Barat. Ia adalah seorang ulama, sastrawan, dan aktivis yang sangat berpengaruh di Indonesia. Buya Hamka dikenal sebagai tokoh yang memperjuangkan pendidikan Islam dan kebangkitan umat Islam di Indonesia.

Sejak muda, Hamka telah menekuni dunia literasi dan dakwah. Ia menulis banyak karya, baik dalam bentuk novel, puisi, dan esai. Salah satu karyanya yang terkenal adalah novel "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck," yang menggambarkan konflik budaya dan sosial di masyarakat Minangkabau.

Buya Hamka juga aktif dalam organisasi Islam, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Ia menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan turut berkontribusi dalam berbagai gerakan sosial dan politik di tanah air. Selain itu, Hamka dikenal sebagai seorang orator ulung dan pemikir yang moderat.

Sepanjang hidupnya, Buya Hamka berupaya untuk mengharmoniskan antara ajaran agama dan perkembangan zaman. Ia wafat pada 24 Juli 1981 di Jakarta, meninggalkan warisan pemikiran dan karya yang masih relevan hingga kini. Sebagai tokoh penting dalam sejarah Indonesia, Buya Hamka dikenang sebagai seorang intelektual yang mencintai bangsa dan agama.

Biografi KH. Mustofa Bisri

 KH. Mustofa Bisri, yang akrab disapa Gus Mus lahir di Rembang Jawa Tengah Indonesia,pada tanggal 10 Agustus 1944,Beliau adalah seorang ulama terkemuka dan tokoh agama di Indonesia. Beliau lahir dalam keluarga pesantren, yang membentuk fondasi keagamaan dan intelektualnya sejak dini. Ayahnya, KH. Bisri Syansuri, adalah pendiri Pesantren Raudlatut Thalibin di Rembang, tempat Gus Mus menempuh pendidikan awal.

Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren keluarga, Gus Mus melanjutkan studi ke berbagai pesantren di Jawa, termasuk di bawah bimbingan ulama-ulama besar. Beliau juga sempat belajar di Universitas Al-Azhar, Mesir, yang semakin memperluas wawasan keagamaannya.

Setelah menamatkan pendidikannya, KH. Mustofa Bisri diangkat sebagai pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin, tempat ia mengajar dan membina ribuan santri. Selain aktif di dunia pendidikan, beliau juga dikenal sebagai seorang penulis dan penyair. Karya-karyanya sering kali mengangkat tema keagamaan, sosial, dan budaya, dengan bahasa yang puitis dan mudah dipahami.

Gus Mus juga terlibat dalam berbagai organisasi keagamaan, termasuk Nahdlatul Ulama (NU), di mana beliau menjadi salah satu tokoh sentral dalam mengembangkan pemikiran moderat Islam di Indonesia. Ia dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi toleransi antaragama dan memperjuangkan perdamaian serta keadilan sosial.

KH. Mustofa Bisri bukan hanya seorang ulama, tetapi juga seorang budayawan yang mencintai seni dan sastra. Beliau sering mengekspresikan pemikiran dan perasaannya melalui puisi, dan banyak karyanya yang dihargai oleh masyarakat. Gus Mus juga aktif dalam kegiatan sosial dan sering memberikan ceramah serta diskusi di berbagai forum.

Selama hidupnya, KH. Mustofa Bisri menerima banyak penghargaan, baik dari pemerintah maupun lembaga swasta, sebagai pengakuan atas kontribusinya terhadap pendidikan, sosial, dan budaya. Beliau dihormati tidak hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki pandangan progresif terhadap isu-isu sosial.

Gus Mus dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan selalu mendengarkan pandangan orang lain. Ia memiliki keluarga yang mendukung aktivitasnya sebagai ulama dan pendidik. Meskipun sibuk dengan berbagai kegiatan, beliau selalu menyempatkan waktu untuk keluarga dan santrinya.

KH. Mustofa Bisri meninggalkan warisan yang berharga dalam dunia pendidikan dan keagamaan di Indonesia. Ajaran-ajarannya yang menekankan pentingnya cinta kasih, toleransi, dan pengembangan diri terus menginspirasi generasi muda untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Beliau masih aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial, dan nama beliau akan selalu dikenang sebagai salah satu pilar Islam moderat di Indonesia.

Biografi KH. Said Aqil Siraj

KH. Said Aqil Siraj adalah seorang ulama besar dan tokoh Islam Indonesia yang sangat dihormati. Lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada tanggal 3 November 1953, beliau adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam dunia keagamaan dan sosial di Indonesia. KH. Said Aqil Siraj dikenal luas sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.

KH. Said Aqil Siraj mengawali pendidikan agamanya di lingkungan pesantren. Beliau menimba ilmu di pesantren-pesantren tradisional yang ada di sekitar Cirebon dan Jawa Barat. Pendidikan beliau berlanjut ke Madrasah Aliyah (setara dengan SMA) sebelum akhirnya melanjutkan studi ke pondok pesantren yang lebih besar. Salah satu pesantren yang memberikan pengaruh besar bagi perkembangan keilmuannya adalah Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur.

Setelah mendalami ilmu agama di berbagai pesantren, KH. Said Aqil Siraj kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar, Mesir, yang terkenal dengan kajian ilmu agama Islam. Di Al-Azhar, beliau mendapatkan kesempatan untuk belajar dari berbagai ulama ternama di dunia Islam.

KH. Said Aqil Siraj dikenal sebagai ulama yang sangat menguasai berbagai disiplin ilmu Islam, mulai dari fiqh (hukum Islam), tafsir (penafsiran Al-Qur'an), hadis, hingga sejarah Islam. Beliau juga sangat mendalami pemikiran-pemikiran keislaman moderat dan mempromosikan Islam yang ramah dan inklusif, jauh dari kekerasan dan intoleransi.

Karir beliau semakin mencuat ketika terpilih sebagai Ketua PBNU pada tahun 2010. Sebagai Ketua PBNU, KH. Said Aqil Siraj memimpin organisasi ini dengan penuh dedikasi, memperjuangkan nilai-nilai moderasi Islam, toleransi, dan kebhinekaan. Di bawah kepemimpinan beliau, NU semakin dikenal sebagai organisasi yang memperjuangkan Islam yang rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi seluruh alam), menjunjung tinggi perdamaian, dan mendukung keberagaman di Indonesia.

KH. Said Aqil juga dikenal sebagai tokoh yang vokal dalam menyuarakan pentingnya persatuan umat Islam, serta mengajak masyarakat Indonesia untuk menjaga kerukunan antar umat beragama. Beliau juga sangat aktif dalam memperjuangkan hak-hak minoritas dan menentang segala bentuk radikalisasi yang merusak kedamaian dan keberagaman di Indonesia.

Pemikiran KH. Said Aqil Siraj banyak dipengaruhi oleh pemikiran Islam tradisional yang mengedepankan moderasi dan toleransi. Beliau selalu menekankan pentingnya menghindari ekstremisme dalam beragama, baik dalam bentuk fundamentalisme agama maupun radikalisasi ideologi. KH. Said Aqil juga percaya bahwa Islam harus mampu beradaptasi dengan zaman dan menjawab tantangan sosial, politik, serta ekonomi dunia modern.

Selain itu, beliau juga dikenal sebagai pendukung kuat pendidikan Islam yang berbasis pada nilai-nilai kesederhanaan, moralitas, dan etika. Melalui berbagai forum, beliau terus mengajak masyarakat Indonesia untuk menghidupkan tradisi keilmuan Islam yang lebih inklusif dan modern.

KH. Said Aqil Siraj berasal dari keluarga yang sangat mengutamakan pendidikan agama. Beliau adalah anak dari pasangan H. Aqil Siraj dan Hj. Siti Qomariyah. Seperti halnya para ulama besar, beliau juga menanamkan pentingnya pendidikan kepada anak-anaknya, dan beberapa di antaranya mengikuti jejak beliau dalam dunia keagamaan.

KH. Said Aqil Siraj merupakan salah satu tokoh yang telah memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan Islam di Indonesia, baik dalam bidang pendidikan, sosial, maupun politik. Dedikasi beliau terhadap ajaran Islam yang moderat dan cinta damai menjadikannya sebagai panutan bagi umat Islam, terutama bagi kalangan Nahdlatul Ulama. KH. Said Aqil Siraj terus berperan aktif dalam membentuk wajah Islam Indonesia yang toleran, berkeadilan, dan rahmatan lil-‘alamin.



Biografi KH. Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah)

 

Nama Lengkap: Miftah Maulana Habiburrahman 
Nama Populer: Gus Miftah
Tempat dan Tanggal Lahir: Kudus, Jawa Tengah, 10 Agustus 1976
Agama: Islam
Pekerjaan: Dai, Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Pengusaha, Penulis
Kewarganegaraan: Indonesia

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Gus Miftah adalah seorang ulama muda yang dikenal sebagai sosok yang inspiratif dan memiliki pendekatan yang terbuka terhadap dakwah Islam. Ia lahir di Kudus, Jawa Tengah, dan berasal dari keluarga yang religius. Sejak kecil, Gus Miftah sudah dikenalkan dengan dunia pesantren, berawal dari pendidikan formal di pondok pesantren dan di sekolah umum.

Setelah menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah, Gus Miftah melanjutkan pendidikan di Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Namun, dunia pesantren dan dakwah menjadi jalan hidup yang akhirnya ia pilih, mengikuti jejak banyak ulama besar.

Kiprah Dakwah

Gus Miftah dikenal sebagai dai yang aktif dalam mengajarkan Islam dengan pendekatan yang tidak kaku dan lebih santai, namun tetap menjaga nilai-nilai ajaran agama. Ia dikenal dekat dengan kalangan muda dan mampu berkomunikasi dengan mereka melalui cara yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Salah satu pencapaian besar Gus Miftah adalah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji yang berlokasi di Sleman, Yogyakarta. Pondok pesantren ini terkenal dengan pendekatannya yang modern, mengkombinasikan ajaran Islam dengan kearifan lokal dan kultur modern.

Gus Miftah juga terkenal dengan dakwahnya yang inklusif, tidak membedakan latar belakang orang yang mendengar dakwahnya, termasuk mereka yang berasal dari kalangan yang sebelumnya mungkin kurang mendapatkan perhatian dalam dunia dakwah mainstream. Ia aktif berdakwah di berbagai tempat, termasuk di media sosial, untuk menyebarkan pesan-pesan kedamaian, toleransi, dan kesederhanaan hidup dalam Islam.

Aktivitas di Dunia Sosial

Selain sebagai pendakwah, Gus Miftah juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Ia kerap melakukan pengajian di berbagai kalangan, termasuk di kalangan artis, komunitas, dan masyarakat umum. Gus Miftah dikenal memiliki karakter yang santai, humoris, dan penuh kasih sayang, yang membuatnya diterima luas oleh masyarakat berbagai kalangan.

Ia juga dikenal sebagai sosok yang tidak segan untuk berbicara tentang isu-isu sosial yang tengah berkembang di masyarakat, seperti toleransi, pemahaman agama yang moderat, dan pentingnya menjaga ukhuwah islamiyah.

Karya dan Buku

Gus Miftah tidak hanya aktif di dunia dakwah, tetapi juga menulis buku-buku yang berisi tentang kehidupan spiritual dan dakwah Islam yang moderat. Buku-bukunya banyak menginspirasi para pembaca untuk lebih memahami agama dengan cara yang lebih ringan dan tidak menghakimi.

Kehidupan Pribadi

Gus Miftah menikah dan memiliki anak, meskipun ia sering kali memilih untuk menjaga privasi keluarganya. Sebagai seorang pemuka agama muda, ia tetap menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan dakwah, serta selalu berusaha menginspirasi orang untuk hidup dengan kasih sayang dan penuh kebaikan.

Pengaruh dan Kontroversi

Gus Miftah sering menjadi pembicara di berbagai forum, baik di dalam negeri maupun internasional. Namun, pendekatan dakwahnya yang tidak selalu tradisional kadang menuai kontroversi, terutama bagi mereka yang lebih konservatif dalam pandangan agama. Meskipun demikian, ia tetap dikenal luas sebagai sosok yang dapat mendamaikan perbedaan dan membawa banyak orang kepada pemahaman agama yang lebih ramah dan toleran.

Kesimpulan

Gus Miftah adalah salah satu dai muda yang berhasil membawa perubahan dalam cara pandang masyarakat terhadap agama, terutama dalam hal bagaimana agama Islam dapat dipahami secara lebih inklusif, ramah, dan moderat. Melalui pesan-pesan dakwahnya yang selalu relevan dengan perkembangan zaman, Gus Miftah menjadi salah satu tokoh yang patut diperhitungkan dalam dunia dakwah Indonesia.

Syekh Zakaria al-Anshari

Dikutip dari laman NU online nama lengkap Syekh Zakaria al-Anshari adalah Zakaria bin Muhammad bin Ahmad bin Zakaria al-Anshari as-Saniki adz-Dzahiri asy-Syafi'i atau dikenal Zainuddin al-Hafizh, seorang qadhi al-qudhah (hakim para hakim). 

Kelahiran Syekh Zakaria al-Anshari


Beliau lahir dan dibesarkan di daerah Sanikah pada tahun 826 H. Ketika masih muda, beliau di samping hafal al-Qur'an, juga hafal kitab Umdatul Ahkam dan beberapa bagian kitab Mukhtashar at-Tabrizi. 

Sesudah itu, beliau pindah ke Kairo dan tinggal di Masjid al-Azhar. Di tempat ini, beliau menghafal beberapa kitab lain, seperti Al-Minhajul Fari, Alfiyah Ibnu Malik, Asy-Syathibiyah (qira'at), dan sebagian Al-Minhaj al-Ashli.

Dari sana, Syekh Zakariya al-Anshari kembali lagi ke negerinya untuk menekuni dan mendalami ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Beliau populer pada masanya. Sejumlah ulama besar ditemuinya untuk berguru. Mereka antara lain al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Kafiji, Ibnu Hummam, asy-Syamni, Syamsuddin al-Qayati, al-Bulqini, Syarafuddin al-Munawi, Syamsuddin al-Hijazi, dan Ibnu Majdi. (Syekh Zakariya al-Anshari, Manhajut Thullab, Tahqiq: Muhammad Zainudin Dzulkifli, [Jakarta: Darul Kutub al-Islamiyyah: 2012], hal. 6)

Murid Syekh Zakaria al-Anshari 

Sebagai ulama besar, Syekh Zakariya al-Anshari mempunyai banyak murid yang sulit untuk dihitung. Beberapa yang bisa disebut adalah Ibnu Hajar al-Haitami.  Dalam kitab mengenai guru-gurunya, al- Haitami mengatakan: "Aku datang ke tempat guru kami, Syekh Zakaria. Hal ini karena dalam pandanganku, beliau merupakan ulama besar yang konsisten dan salah seorang imam terkemuka Dari beliau, aku mendapat hadits-hadits dengan tingkatan akurasi yang tinggi. Demikian pula untuk ilmu Fiqih. Beliau termasuk pilar para ulama terkemuka, hujjah Allah (argumentator Tuhan), dan pemegang bendera Mazhab Syafi'i. Di tangannya, segala kesulitan dalam masalah-masalah fiqih teratasi. Beliau memiliki jaringan transmisi keilmuan yang tak terputus. Beliaulah satu-satunya ulama pada masa itu yang memiliki jalur hadits (sanad) yang tinggi." (Syekh Zakariya al-Anshari, Manhajut Thullab, Tahqiq: Muhammad Zainudin Dzulkifli, [Jakarta: Darul Kutub al-Islamiyyah: 2012], hal. 7)

Beberapa Karya Syekh Zakaria al-Anshari 

Syekhul Islam Zakaria al-Anshari berhasil menulis banyak sekali buku dalam berbagai bidang. Karyanya yang terkenal antara lain sebagai berikut:

1. Asnal Mathalib fi Syarhi Raudhatut Thalib, 
2. Al-Adhwal Bahiyyah fi Ibrazi Daqa’iqil Munfarijah, 
3.Tahrir Tanqih al-Lubab (fiqh), 
4.Tuhfatul Bari 'ala Shahih al-Bukhari (hadits), 
5.Tuhfatut Thullab bi Syarh Tahririn Niqab, 
6.Ta'riful Alfazh al-Ishthilahiyah fil 'Ulum, 
7.Ad-Daqa’iqul Muhakkamah fi Syarhil Muqaddimah (fiqh), 
8.Isaghuji (manthiq), 
9.Syarhusy Syafiyah karya Ibnu al-Hajib (nahwu),
10. Al-Ghurarul Bahiyyah fi Syarhil Bahjah al-Wardiyah (fiqh),  
11.Fathur Rahman bi Kasyf ma Yaltabis fil Qur'an (tafsir), 
12.Fathur Rahman li Syarh Risalah al-Maula Ruslan (tauhid), 
13.Futuhul Manzil al-Mabani li Syarh Aqsha al-Amani (balaghah) 
14.Al-Mulakhash min Talklhishil Miftah (balaghah),
15.Manhajut Thullab (fiqh). 
16.Hasyiyah at-Talwih, 
17.Ghayatul Wushul Syarh Lubbul Ushul (ushul fiqh), 
18.Rahman 'ala Matni Luqthah al-‘Ijlan, dan 
19.Lubbul Ushul Mukhtashar Jam'ul Jawami’ 

Membaca sekilas kitab-kitab karyanya, akan dapat diketahui dengan pasti bahwa tokoh ini benar-benar pantas untuk diberikan predikat sebagai Syekhul Islam, Qadhil Qudhah, al-Hafizh, dan Zainuddin (hiasan agama). Seakan-akan tidak ada satu ilmu pengetahuan pun yang tidak mendapatkan perhatian dan keahliannya.

 Wafatnya Syekh Zakaria al-Anshari 

Pada akhir hidupnya, Syekh al-Islam Zakariya al-Anshari mengalami kebutaan. Meskipun demikian, beliau tetap tekun dan aktif dengan profesinya sebagai ulama dan terus menulis. Beliau wafat pada hari Jumat, tanggal 4 Dzulhijjah tahun 926 H di Kairo. Jasad mulia beliau dikebumikan di samping makam Imam asy-Syafi'i di daerah Qarafah. (Syekh Zakariya al-Anshari, Manhajut Thullab, Tahqiq: Muhammad Zainudin Dzulkifli, [Jakarta: Darul Kutub al-Islamiyyah: 2012], hal. 8)

SAHABAT NABI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

  A. Nama dan Asal Usul Abu Bakar Ash-Shiddiq Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan sanga...