Showing posts with label Kisah Sufi dan Tuladan. Show all posts
Showing posts with label Kisah Sufi dan Tuladan. Show all posts

Syekh Kuro

Syekh Kuro adalah seorang tokoh sufi yang terkenal di kalangan masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di daerah Sumatera. Ia dikenal sebagai seorang ulama yang mendalam ilmunya dan memiliki pengaruh besar dalam penyebaran ajaran Islam, khususnya dalam hal tasawuf dan pendidikan agama. Meskipun banyak kisah dan cerita mengenai kehidupan Syekh Kuro, sebagian besar sumber mengenai beliau masih bersifat lisan, yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat.

Perjalanan Spiritual dan Pembelajaran Islam

Syekh Kuro lahir di sebuah desa kecil di Sumatera pada abad ke-19. Sejak kecil, ia dikenal memiliki kecerdasan luar biasa dan rasa ingin tahu yang mendalam terhadap agama. Ayahnya, seorang guru agama, sering mengajarkan dasar-dasar ilmu agama, namun Syekh Kuro merasa ada yang lebih dalam yang perlu ia cari.

Pada usia muda, Syekh Kuro memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya dan melakukan perjalanan spiritual. Ia menuju ke berbagai tempat untuk mencari ilmu dari para ulama dan sufi terkemuka. Perjalanan ini membawanya ke berbagai penjuru dunia, dari Mekkah hingga ke Mesir, dan ia belajar dari banyak guru spiritual besar di zamannya.

Di Mekkah, Syekh Kuro mendalami ilmu tasawuf dan fiqih. Di sana, ia bertemu dengan sejumlah ulama besar yang memberikan pencerahan spiritual dan memperdalam pemahaman Syekh Kuro tentang makna kehidupan dan kedekatan kepada Tuhan. Setelah bertahun-tahun belajar, Syekh Kuro merasakan panggilan untuk kembali ke tanah air dan membagikan ilmu serta pengalamannya.

Kembali ke Indonesia, Syekh Kuro mendirikan sebuah pesantren di daerah Kuro, yang menjadi pusat pendidikan agama. Pesantren ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama secara tradisional, tetapi juga mengajarkan ilmu tasawuf yang mendalam, tentang cara mendekatkan diri kepada Tuhan dengan kesederhanaan hati dan keikhlasan.

Syekh Kuro juga dikenal sebagai seorang yang sangat disiplin dalam beribadah. Ia mengajarkan bahwa dalam setiap aspek kehidupan, seseorang harus selalu menjaga hubungan dengan Tuhan dan selalu bersikap tawadhu serta sabar. Dalam mengajarkan murid-muridnya, ia menekankan pentingnya menjaga hati dan membersihkan diri dari segala bentuk penyakit hati seperti sombong, iri, dan dengki.

Kisah mengenai Syekh Kuro juga dipenuhi dengan cerita tentang mukjizat kecil yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-harinya. Misalnya, ada yang bercerita bahwa ketika ia sedang mengajar, hujan lebat tiba-tiba turun dan membuat seluruh desa banjir. Namun, rumah dan pesantren yang ia dirikan tetap kering, seolah-olah dilindungi oleh kekuatan Tuhan.


Syekh Kuro juga dikenal memiliki sifat dermawan. Ia selalu membantu orang yang membutuhkan, baik itu dengan memberikan ilmu, materi, maupun nasihat yang membangun. Banyak orang yang datang kepadanya untuk meminta petunjuk hidup, dan Syekh Kuro dengan sabar memberikan solusi dengan cara yang lembut dan penuh kasih.

Pengaruh dan Legasi

Syekh Kuro meninggal dunia pada usia yang cukup tua, namun warisannya tetap hidup dalam bentuk ilmu dan pesan-pesan moral yang ia ajarkan. Pesantrennya menjadi salah satu tempat pendidikan agama yang terkemuka di Sumatera. Banyak ulama dan cendekiawan yang pernah belajar di bawah bimbingan beliau, dan mereka menyebarkan ajaran Syekh Kuro ke seluruh penjuru Indonesia.

Hingga saat ini, masyarakat di daerah sekitar Kuro sering mengadakan peringatan untuk mengenang jasa dan perjuangan Syekh Kuro dalam menyebarkan ajaran Islam. Nama beliau terus dihormati, dan banyak orang yang datang ke makamnya untuk berziarah, meminta doa, dan memohon berkah.

Kisah Syekh Kuro adalah kisah tentang pencarian spiritual yang tak kenal lelah, pengabdian tanpa pamrih, dan perjuangan untuk menyebarkan kebaikan dan kedamaian melalui ajaran agama yang mendalam. Ia tetap menjadi teladan bagi banyak orang dalam menjalani hidup yang penuh dengan keimanan, kebijaksanaan, dan kesederhanaan.

Cerita Unik Abah Lutfi bin Yahya dengan Bocah Cilik

Ada sebuah pemandangan yang sangat indah di Dalem Noyontaan Pekalongan beberapa hari yang lalu

Ada salah satu seorang tamu menunggu untuk berjumpa & bertatap muka sekedar meminta barokah dari habib lutfi bin Yahya. Tamu itu duduk di ruang yang di sediakan oleh Abah (Habib Luthfi) sejak jam tujuh pagi. Dia menunggu dengan wajah yang penuh harapa agar berjumpa Sang panutan. Hingga salah seorang santri Abah melaporkan  bahwa ada tamu satu orang menunggu untuk menghadap. 

Setelah santri Abah mengajak tamu itu masuk, Abah menanyakan yang mana tamu yang di maksud, Ternyata yang menunggu menghadap penuh harapan kepada Abah itu adalah bocah laki-laki yang masih duduk di bangku kelas 5 SD. Ia berangkat dari rumahnya sebdirian mengayuh speda yang jaraknya kurang lebih 3KM. 

"Sekelas Habib Lutfi, Presiden Thoriqoh seluruh Dunia, di datangi bocah kelas 5 SD"

Semakin menarik peristiwa tersebut setelah Abah tersenyum dan mempersilahka bocah itu duduk di kursi tepat di sebelah Abah duduk. lalu percakapan di mulai. Hanya Abah santri dan tamu bocah tetangga desa itu  yang ada di dalam kamar Abah. 


Dialog Abah dengan si Bocah SD 

Abah   :Omahmu endi le? 

Bocah :  Nang kono Bah (Sambil menunjuk nama sebuah desa) 

Abah   : Lah adoh numpak opo mrene? 

Bocah : Spedah onthelku Bah Aku dewe. 

Abah   : Bapak nang endi Le? 

Bocah : Mangkat Kerjo

Abah sambil tersenyum meneruskan dialognya dengan si bocah itu. Santri Abah juga ikut tertawa mendengar jawaban dan melihat kepolosan bocah tersebut yang tanpa menggunakan bahasa halus. Bahasa yang di gunakan bahasa pekalongan (ngoko) Tapi bagi Abah, itu bukan masalah dan tidak sama sekali bermasalah

Dialog selanjutnya

Bocah: Bah jaluk dungone, aku engkok sore iki sunat

Abah   : Loh Iyo ta? Wis wani Sunat? 

Bocah: Wani Bah, Aku dewe sing jaluk, guduk bapak Bah

Abah   : hehe Iyo sing wani lah. 

Bocah: Engkok Abah tekoo ya nang omahku Bah. Acarane Bar Ashar. 

Abah   : oh iyo? Bar Ashar? Iyo engkok aku tak teko. 

Bocah: Tenan yo Bah, tak omongke mak ku Engkok Bah

Abah   : "Sambil terus tersenyum" Iyo ke engkok aku teko. 

Bocah: Wis yo Bah, Aku tak moleh "sambil mencium tangan Abah & pergi"

Namanya juga sudah Cinta, tak kenal usia dan berani menampakkan secara langsung. Bocah tersebut diberi motivasi Abah untuk menjalankan salah satu syara' yakni Berkhitan semoga bocah tersebut menjadi salah satu Ulama, Sholihin dan Bermanfaat bagi Umat kelak

Sumber: Story Imohan Suratie

Biografi KH.Dimyati Rois

Kelahiran

KH. Dimyati Rois atau yang lebih dikenal dengan panggilan Abah Dim lahir pada 5 juni 1945 di Tegal Glagah Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra kelima dari sepuluh bersaudara yaitu dari pasangan KH. Rois dan Nyai Djusminah.

Saudara-saudara beliau diantaranya Ny. Khanifah, KH.Tohari Rois, KH. Masduki Rois, H. Murai Rois, KH. Saidi Rois, Ny. Khotijah, KH. Syatori Rois, Ny. Mukoyah dan Ny. Daroroh. KH. Dimyati Rois,

Latar belakang KH. Dimyati Rois adalah asli turunan petani dan santri baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Selain itu, kedua orang tuanya selalu mengajarkan dan melatih kepada putra-putrinya untuk senantiasa taat dalam beribadah.

Keluarga

Pada 1 Januari 1978, KH. Dimyati Rois melepas masa lajangnya dengan menikahi Hj. To’ah, putri tunggal dari pasangan KH. Ibadullah dan Hj. Fatimah.

Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai sepuluh putra-putri, yaitu, H. Gus Fadlullah, H. Gus Alamudin BA., Hj. Ning Lailatul Arofah, H. Gus Qomaruzzaman, Hj. Ning Lama’atus Sobah, H.Gus Hilmi, H.Gus Thoha Mubarok, H.Gus Husni Mubarok, H.Gus M. Iqbal dan Gus Abu Khafsin Almuktafa.

KH. Dimyati Rois membekali putra-putrinya dengan nilai-nilai agama Islam, mengajari putra-putrinya untuk menuntut ilmu dan terus belajar, karena menurut beliau bahwa seseorang tidak akan menjadi pandai tanpa adanya suatu proses pembelajaran.

Pendidikan

KH. Dimyati Rois sejak kecil memang sudah terlihat berbeda jika dibandingkan dengan para saudaranya yang lain, beliau begitu pendiam, tetapi rajin, disiplin dan ulet.

Dengan sikap rajinnya tersebut, beliau memulai pendidikannya dengan belajar di di SR (Sekolah Rakyat). Di sekolah formal tersebut KH. Dimyati Rois menyelesaikannya dan mendapatkan sertifikat sebagai tanda kelulusan.

Setelah selesai pendidikan formal, kemudian pada sekitar tahun 1956 beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren APIK, Kauman, Kaliwungu, Kendal yang diasuh oleh KH. Ahmad Ru’yat. Beliau mondok di Pondok Pesantren APIK selama kurang lebih 14-15 tahun.

Setelah selesai di Pondok Pesantren APIK, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya dengan berguru kepada KH. Mahrus Aly di Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, akan tetapi itu hanya sebentar dan setelah itu kemudian beliau melanjutkan berguru pada Mbah Imam, pengasuh Pondok Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah, di sana beliau hanya belajar kurang lebih sekitar 5 tahun.

Namun, setelah beberapa tahun berkelana menuntut ilmu di daerah Rembang, Tuban dan Kediri, pada akhirnya beliau kembali lagi ke Pondok Pesantren APIK, Kauman, Kaliwungu, Kendal. Tak berapa lama kemudian, beliau diangkat menjadi Lurah Pondok oleh Pengasuh Pondok Pesantren APIK, yaitu KH. Humaidullah Irfan (kakak KH. Ibadullah Irfan).

Ilmu-ilmu yang beliau pelajari selama beliau di pondok antara lain ilmu nahwu, sorof, ushul fiqh, kitabnya Imam Al-Ghazali dan masih banyak lagi kitab-kitab yang lainnya. Kecerdasan KH. Dimyati Rois telah nampak diwaktu masih belajar di pondok yang beliau singgahi, selama beliau di pondok tidak ada waktu yang terlewati dengan sia-sia. Melainkan digunakan untuk belajar, maka tidak aneh jika KH. Dimyati Rois memiliki wawasan yang luas tentang keislaman.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Pada waktu Muktamar NU di Jombang, KH. Dimyati Rois terpilih menjadi salah satu ulama yang tergabung dalam tim Ahlul Hal Wal Aqdi (AHWA) yang berjumlah 9 ulama khos se-Indonesia.

Dalam ormas NU, kiprah beliau tidak diragukan lagi. Beliau pernah menduduki kepengurusan dari mulai tingkat PCNU Kendal, PWNU Jawa Tengah, hingga PBNU. Beliau pernah menjadi pengurus Tanfidziyah, Syuriyah hingga Mustasyar PBNU. Di samping sebagai ulama yang ‘alim, beliau juga dikenal sebagai mubaligh yang ulung. Maka tidaklah mengherankan jika beliau banyak dikenal di kalangan santri dan kaum nahdliyin.

Selain itu, dalam dunia politik, beliau juga pernah menjadi pengurus DPW PPP Jawa Tengah, DPP PKB dan DPP PKD. Pada masa Orde Baru, beliau pernah menjadi anggota MPR RI melalui jalur Utusan Golongan yang diajukan PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Setelah Orde Baru tumbang dan muncullah era Reformasi, para politisi dan pengurus PBNU bergerak membentuk partai baru sebagai usulan kaum nahdliyin yang ingin aspirasinya tertampung.

Beliau masuk dalam jajaran pengurus PBNU yang ikut mendeklarasikan lahirnya PKB. Beliau bersama KH. Cholil Bisri, KH. Mustofa Bisri, KH. Abdurrahman Wahid, KH. Munasir Ali, KH. Muchit Muzadi, KH. Ma’ruf Amin, KH. Ilyas Ruchiyat dan ulama lainnya menjadi Deklarator PKB. Setelah Gus Dur dilengserkan dalam Sidang Istimewa (SI MPR RI) dan memasuki pemilu kedua di era Reformasi, mulai muncullah riak-riak dalam dunia perpolitikan Indonesia termasuk menimpa PKB.

Dalam tubuh PKB terpecah belah menjadi beberapa partai, diantaranya PNU, PKNU dan Partai Kejayaan Demokrasi (PKD). Dalam kubu Pondok Pesantren Langitan, Pondok Pesantren Lirboyo dan Pondok Pesantren Tegalrejo melahirkan PKNU. Sedangkan kubu Matori Abdul Jalil melahirkan PKD dan Ketua Dewan Syuranya dipegang oleh beliau. Namun, PKD tidak masuk dalam parpol yang lolos verifikasi KPU sehingga dengan sendirinya bubar.

Setelah vakum dalam dunia politik beberapa tahun, beliau kembali didapuk oleh Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar, untuk menjadi pengurus Dewan Syura DPP PKB. Di kemudian hari, Ketua Dewan Syura DPP PKB kosong sepeninggal KH. Aziz Manshur. Tidak butuh waktu lama, Muhaimin Iskandar selaku Ketua Umum DPP PKB memohon agar beliau berkenan menjadi Ketua Dewan Syura DPP PKB menggantikan KH. Aziz Manshur. Dengan berat hati, beliau pun menyanggupinya demi kebesaran PKB.

Teladan

Sebagai seorang ulama KH. Dimyati Rois memiliki kepribadian yang sangat baik dan penuh kesederhanaan, baik dengan para pengikut (santrinya) maupun dengan masyarakat yang lain. Kesederhanaan beliau ditunjukan dengan berpakaian yang sederhana, dan beliau juga tidak akan makan apabila tidak benar-benar lapar.

Selain itu beliau juga suka bergaul dengan siapapun, baik dengan pedagang, pejabat, orang kaya, orang miskin, buruh bahkan anak-anak. Beliau terkenal sebagai seorang yang sabar, pemurah dan ramah, disamping itu beliau tidak mengajarkan sesuatu yang tidak beliau kerjakan, dengan kata lain segala sesuatu yang beliau ajarkan atau berikan pada muridnya sudah atau sedang ia kerjakan sendiri.

Hal ini merupakan salah satu faktor yang membuat para santri maupun jamaahnya simpatik terhadap kepribadian beliau, sehingga petuah dan ajaran-ajarannya dapat diterima dan sangat diperhatikan oleh para jamaah pada umumnya dan oleh para santri pada khususnya.

Salah satu kelebihan yang tidak banyak dimiliki kiai lain adalah kemampuannya dalam kewirausahaan. Tak hanya mengajar mengaji, beliau memiliki berbagai usaha yang menghasilkan uang sekaligus melatih para santrinya untuk bisa berwirausaha, terutama dalam bidang pertanian dan perikanan. Beliau juga dikenal sebagai kiai yang banyak memiliki ilmu hikmah atau ilmu kesaktian. Hal ini menambah kewibawaannya di kalangan masyarakat.

Beliu meninggal pada tanggal 10 Juni 2022 di usia 77 tahun.

Syeikh Jumadil Kubro

    Syeikh Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yang hidup sebelum walisongo. Seorang penyebar Islam pertama yang mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit.

 Syeikh Jumadil Kubro bernama lengkap Syeikh Jamaluddin al-Husain al-Akbar. Beliau adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad SAW dari garis Syyidah Fatimah Az Zahrah al-Battul. Ayahnya bernama Syeikh Jalal yang karena kemuliaan akhlaknya mampu meredam pertikaian Raja Campa dengan rakyatnya. Sehingga, Syeikh Jalal diangkat sebagai raja dan penguasa yang memimpin Negara Campa.

    Syeikh Jamaluddin tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayahnya sendiri. Setelah dewasa, beliau mengembara ke negeri neneknya di Hadramaut. Di sana beliau belajar dan mendalami beragam ilmu dari beberapa ulama yang terkenal di zamannya. Bahkan keilmuan yang beliau pelajari meliputi Ilmu Syari’ah dan Tasawwuf, di samping ilmu-ilmu yang lain.

Selanjutnya, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam rangka mencari ilmu dan terus beribadah ke Mekkah dan Madinah. Tujuannya adalah mendalami beragam keilmuan, terutama ilmu Islam yang sangat variatif. Setelah sekian lama belajar dari berbagai ulama terkemuka, kemudian beliau pergi menuju Gujarat untuk berdakwah dengan jalur perdagangan. Melalui jaringan perdagangan itulah beliau bergumul dengan ulama lainnya yang juga menyebarkan Islam di Jawa.
Kemudian beliau dakwah bersama para ulama’ termasuk para putra-putri dan santrinya menuju tanah Jawa. Mereka menggunakan tiga kendaraan laut, sekaligus terbagi dalam tiga kelompok dakwah. Kelompok pertama dipimpin Syeikh Jumadil Kubro memasuki tanah Jawa melalui Semarang dan singgah beberapa waktu di Demak. Selanjutnya perjalanan menuju Majapahit dan berdiam di sebuah desa kecil bernama Trowulan yang berada di dekat kerajaan Majapahit. Kemudian jamaah tersebut membangun sejumlah padepokan untuk mendidik dan mengajarkan beragam ilmu kepada siapa saja yang hendak mendalami ilmu keislaman.

Kelompok kedua, terdapat cucunya yang bernama al-Imam Ja’far Ibrahim Ibn Barkat Zainal Abidin dibantu saudaranya yakni MalikIbrahim menuju kota Gresik. Dan kelompok ketiga adalah jamaah yang dipimpin putranya yakni al-Imam al-Qutb Sayyid Ibrahim Asmoro Qondy menuju Tuban. Namanya masyhur dengan sebutan “Pandhito Ratu” karena beliau memperoleh Ilmu Kasyf (transparansi dan keserba jelasan ilmu/ilmu yang sulit dipahami orang awam, beliau diberi kelebihan memahaminya).

Perjalanan dakwah Syeikh Jumadil Kubro berakhir di Trowulan, Mojokerto. Beliau wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H. diperkirakan hidup di antara dua Raja Majapahit (awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk). Bermula dari usul yang diajukan Syeikh Jumadil Kubro kepada penguasa Islam di Turki (Sultan Muhammad I) untuk menyebarkan Agama Islam si wilayah Kerajaan Majapahit. Pada saat itu wilayah Majapahit sangat kuat pengaruh Agama Hindu di samping keyakinan masyarakat pada arwah leluhur dan benda-benda suci. Keberadaannya di tanah Majapahit hingga ajal menjelang menunjukkan perjuangan Sayyid Jumadil Kubro untuk menegakkan Agama Islam melawan penguasa Majapahit sangatlah besar.

Karena pengaruh beliau dalam memberikan pencerahan bekehidupan yang berperadaban, Syeikh Jumadil Kubro dikenal dekat dengan pejabat Kerajaan Majapahit. Cara dakwah yang pelan tapi pasti, menjadikan beliau amat disegani. Tak heran, bila pemakaman beliau berada di antara beberapa pejabat kerajaan di antaranya adalah makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu, Anjasmoro, Sunana Ngudung (ayah Sunan Kudus), dan beberapa patih dan senopati yang dimakamkan bersamanya.

Lokasi kompleks makam ini berdekatan dengan Pendopo Agung Majapahit dan Pusat Informasi Majapahit yang pembangunannya menuai kontroversi. Hal itu karena proses pembangunannya diindikasikan merusak situs-situs peninggalan Majapahit yang diyakini hingga kini masih terkubur di dalam tanah kawasan Trowulan. Sekali dayung, maka semua tujuan napak tilas sejarah Majapahit bisa terpenuhi.

Silsilah::
Sayyid Jumadil Kubro bin Sayyid Zainul Khusen bin Sayyid Zainul Kubro bin Sayyid Zainul Alam bin Sayyid Zainal Zainal Abidin bin Sayyid Khusen bin Siti Fatimah binti Rasulullah Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushoyi bin Kilab bin Murota bin Kaáb bin Luayyi bin Gholib bin Fihri bin Maliki bin Nadri bin Kinana bin Khuzaimah bin Mudrika bin Ilyas bin Mudhoro bin Nizar bin Maad bin Adnan bin Uddi bin Udada bin Mukowami bin Nakhuro bin Tairokhi bin Ya’rub bin Yasjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim bin Tarokha bin Nakhuro bin Syarukho bin Arghu bin Falakho bin Abaro bin Syalakho bin Arfakhsan bin Sami bin Nukh bin Lamaka bin Mutawaslikh bin Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qoinani bin Yanasy bin Syits bin Adam Alaihi Sholatuwassalam.

1. Sayyid Jumadil Kubro dikaruniai tiga putra. Adapun ketiga putra beliau itu adalah :
Sayyid Ibrahim (Ibrahim As-Samarkhandi)
Maulana Iskha’
Sunan Aspadi yang dikawin oleh Raja Rum

2. Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Candrawulan Binti Raja Kuntoro Chempa mempunyai 2 orang anak :
Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel)
Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandhito) R. Santri

3. Maulana Iskhak Bin Jumadil Kubro menikah dengan Raden Ayu Retno Kusumo Binti Raja Mundiwangi Pajajaran mempunyai 2 orang anak :
Sayyid Abdul Qodir atau disebut Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
Dewi Saroh (Istri Sunan Kalijogo)

4. Maulana Iskhak Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sekardadu Binti Prabu Minak Sembuyu Blambangan mempunyai seorang anak bernama : Raden Paku atau (Sunan Giri)

5. Sunan Aspadi tidak diketahui karena berada di Kerajaan Rum

6. Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) Bin Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Candrawati Binti Ariyotejo Adipati Tuban mempunyai 5 orang anak :
Siti Sariáh (Istri Haji Usman) Sunan Manyuran
Siti Mutmainnah (Istri Sayyid Muhsin)
Siti Khofsoh (Istri Sayyid Ahmad)
Sayyid Maqdum Ibrohim (Sunan Bonang)
Raden Qosim (Sunan Drajat)

7. Sayyid Ali Rahmatullah juga menikah dengan Dewi Karimah Binti Ki Bang Kuning, mempunyai 2 orang anak :
Dewi Murtasimah (Istri Raden Patah)
Dewi Murtasiyah (Istri Sunan Giri)

8. Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandhito) Raden Santri Bin Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Raden Ayu Maduretno Binti Prabu Ariyo Bariben mempunyai 3 orang anak :
Haji Usman (Sunan Manyuran) Mandalika
Usman Haji (Sunan Ngudung)
Nyai Gede Tundo (Istri Sunan Kertoyoso)

9. Sayyid Abdul Qodir atau disebut Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) Bin Maulana Iskhak Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Haisah Binti Raden Jakender (Sunan Malaka) Madura mempunyai 2 orang anak :
Raden Abdul Jalil disebut Syeikh Siti Jenar tidak mau beristri
Dewi Sofiyah (Istri Raden Qosim) Sunan Drajat

10. Sayyid Maqdum Ibrahim (Sunan Bonang) Bin Raden Rahmad (Sunan Ampel) Bin sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Hiroh Binti Raden Jakender (juga mertuanya Syarif Hidayatullah) mempunyai seorang anak bernama : Dewi Rukhilah (Istri Sunan Kudus).

11. Raden Qosim (Sunan Drajat) Bin Raden Rahmad bin sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sofiyah Binti Sunan Cirebon mempunyai 3 orang anak :
Pangeran Trenggono
Pangeran Sandi
Dewi Rouyan

12. Haji Usman (Sunan Manyuran) Bin Raja Pandhito Bin sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Siti Sariah Binti Sunan Ampel mempunyai seorang anak bernama : Amir Khasan

13. Usman Haji (Sunan Ngudung) Bin Raja Pandhito Bin Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sari Binti Tumenggung Wilatikta mempunyai 2 orang anak :
Dewi Sujinah (Istri Sunan Muria)
Amir Haji (Sayyid Ja’far Sodiq) Sunan Kudus

14. Dewi Murtasimah Binti Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro dinikah oleh Raden Patah Bin Kertawijaya (Brawijaya) mempunyai 5 orang anak :
Pangeran Purbo
Pangeran Trenggono
Raden Bagos Sedokali
Raden Kenduruhan
Dewi Ratih

15. Nyai Gede Tundo Binti Raja Pandito Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah oleh Khalifah Khusen (Sunan Kertoyoso) Madura mempunyai seorang anak bernama : Khalifah Sughro.

16. Siti Mutmainah Binti Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah oleh Sayyid Muhsin (dari Yaman) beliau adalah murid Sunan Ampel atas perkawinannya mempunyai seorang anak bernama : Amir Khamzah.

17. Siti Khofsoh Binti Sunan Ampel Bin sayyid Ibrahim bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah Sayyid Ahmad (Sunan Malaka) beliau adalah murid Sunan Ampel, atas perkawinannya tidak mempunyai anak.
18. Raden Paku (Sunan Giri) Bin Maulana Ishak Bin Sayyid Jumadil Kubro kelahiran Blambangan menikah dengan Dewi Murtasiyah Binti Sunan Ampel mempunyai 4 orang anak :
Raden Prabu
Raden Milyani
Raden Kuwo
Dewi Retnowati

19. Raden Sahid (Sunan Kalijogo) Bin Raden Sahur Tumenggung Wilatikta. Beliau adalah murid Sunan Ampel, menikah dengan Dewi Saroh Binti Maulana Ishak Bin Sayyid Jumadil Kubro, mempunyai 3 orang anak :
Raden Said (Sunan Muria)
Dewi Rukoiyah
Dewi Sofiyah

20. Raden Said (Sunan Muria) Bin Raden Sahid (Sunan Kalijogo) menikah dengan Dewi Sujinah Binti Usman Haji (Sunan Ngudung) Bin Raja Pandhito Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro mempunyai seorang putra bernama : Pangeran Santri (Sunan Kadilangu).

21. Raden Amir Haji atau disebut Sayyid Ja’far Sodiq (Sunan Kudus) Bin Usman Haji (sunan Ngudung) Bin Raja Pandhito Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Rukhila Binti Sayyid Maqdum Ibrahim (Sunan Bonang) Bin Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro mempunyai seorang anak bernama : Raden Amir Khasan.

22. Raden Sahur Tumenggung Wilatikta (Tuban) menikah dengan Dewi Nawang Arum Binti Ki Ageng Tarup mempunyai 2 orang anak :
Dewi Sari (Istri Sunan Ngudung)
Raden Sahid (Sunan Kalijogo)

23. Raden Jakender (Sunan Malaka) Madura menikah dengan Dewi Nawang Sari Binti Ki Ageng Tarup mempunyai 2 orang anak :
Dewi Hisah (Istri Sunan Gunung Jati)
Dewi Hiroh (Istri Sunan Bonang)

24. Prabu Kertawijaya (Brawijaya I) mempunyai istri banyak dan anaknya juga banyak sekali, namun yang terkenal dari istri Chempa mempunyai 3 orang anak :
Prabu Hadi (Istri Adipati Doyoningrat)
Lembu Peteng Madura
Raden Kukur
Dari istri Ponorogo mempunyai anak :
Betoro Katong (Ponorogo)
Ariyodamar (Adipati Palembang)
Dari istri Chempo yang lain mempunyai anak bernama : Raden Husen (Raden Patah) yang mendirikan kerajaan Islam Demak.
Dari istri dari Bakilen mempunyai anak bernama : Jaran Panoleh di Sampang Madura

Sumber :sejarah.kompasiana

Kisah Tentang Miras dan Narkoba

Ibnu Umar ra. berkata : Abu Bakar ra,bersama Umar ra dan beberapa orang sahabat berkumpul membicarakan apakah dosa yang terbesar,namun tidak ada kata sepakat.mereka mengutusku pergi dan bertanya kepada Abdullah bin Amr ra.

Abdullah bin Amr menjawab : "Sesungguhnya dosa yang terbesar adalah minum khamr"

Ketika aku kembali dan memberitahu.Mereka menolak dan langsung mendatangi Abdullah bin Amr,maka diberitahu bahwa Rasululah saw.Bersabda :
"Dahulu ada seorang raja dari bani Isra'il menangkap seseorang,lalu raja menyuruh orang tersebut memilih salah satu dari beberapa pilihan "Minum khamr,membunuh anak,berzina,makan daging babi,atau di bunuh",maka dia memilih minum khamr karena dianggap paling ringan,dan ternyata setelah ia mabuk,maka tanpa disuruh semua perbuatan itu dilakukannya"( HR.Thabrani dan Hakim )
 

SAHABAT NABI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

  A. Nama dan Asal Usul Abu Bakar Ash-Shiddiq Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan sanga...