Showing posts with label ulama'. Show all posts
Showing posts with label ulama'. Show all posts

Biografi Syech Wasil Kediri

Pendahuluan

Di antara tokoh penyebar Islam yang sangat dihormati oleh masyarakat Kediri, nama Syekh Wasil Syamsuddin menempati posisi yang istimewa. Sosok yang juga dikenal dengan sebutan Mbah Wasil atau Pangeran Makkah ini diyakini sebagai salah satu perintis dakwah Islam di wilayah Kediri jauh sebelum masa Wali Songo. Hingga kini, makam beliau yang berada di kawasan Setono Gedong, Kediri, menjadi tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah.

Walaupun kisah hidup beliau masih menyimpan banyak perbedaan pendapat di kalangan sejarawan, masyarakat Kediri tetap mengenang Syekh Wasil sebagai ulama besar yang berjasa menanamkan nilai-nilai Islam melalui pendekatan yang damai, bijaksana, dan penuh kearifan.

Asal Usul dan Kedatangan ke Kediri

Riwayat mengenai asal-usul Syekh Wasil belum dapat dipastikan secara mutlak. Beberapa sumber menyebut beliau berasal dari Persia (Iran), sementara sumber lain menyatakan berasal dari wilayah Turki atau negeri Rum. Ada pula tradisi lisan yang menghubungkannya dengan Makkah sehingga beliau mendapat julukan "Pangeran Makkah".

Menurut berbagai kajian sejarah, Syekh Wasil datang ke Kediri pada masa pemerintahan Sri Aji Jayabaya, sekitar abad ke-10 hingga abad ke-12 Masehi. Kedatangannya diyakini bukan sekadar untuk berdakwah, tetapi juga untuk berdiskusi mengenai ilmu pengetahuan, terutama ilmu falak dan kitab Musarar yang berkaitan dengan ramalan Jayabaya.

Peran dalam Penyebaran Islam

Syekh Wasil dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan Islam dengan cara yang santun dan tidak memaksakan kehendak. Beliau memilih mendekati kalangan kerajaan dan masyarakat secara bertahap sehingga ajaran Islam dapat diterima tanpa menimbulkan konflik sosial.

Tradisi masyarakat Kediri meyakini bahwa beliau memiliki hubungan dekat dengan Raja Jayabaya. Bahkan, sebagian masyarakat menyebut beliau sebagai guru spiritual sang raja. Melalui kedekatan tersebut, nilai-nilai Islam mulai dikenal oleh lingkungan kerajaan dan kemudian menyebar ke masyarakat luas.

Keberadaan makam kuno Syekh Wasil beserta inskripsi yang ditemukan di kompleks makamnya menjadi salah satu bukti penting bahwa pengaruh Islam telah hadir di Kediri pada masa yang sangat awal, jauh sebelum berkembangnya dakwah Wali Songo.

Makam dan Peninggalan Sejarah

Makam Syekh Wasil terletak di kawasan Kompleks Makam Setono Gedong. Tempat ini menjadi salah satu situs sejarah Islam penting di Kediri dan ramai dikunjungi peziarah sepanjang tahun.

Di kompleks makam tersebut ditemukan sejumlah artefak dan inskripsi kuno yang menjadi bahan penelitian para sejarawan. Temuan-temuan tersebut memperkuat keyakinan bahwa Syekh Wasil merupakan tokoh penting dalam sejarah perkembangan Islam di wilayah Kediri dan Jawa Timur.

Warisan dan Pengaruh

Meskipun sejarah hidupnya belum sepenuhnya terungkap, pengaruh Syekh Wasil tetap terasa hingga sekarang. Namanya diabadikan sebagai simbol perkembangan Islam di Kediri dan menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam menjaga nilai-nilai keislaman yang damai dan toleran.

Penghormatan terhadap beliau juga tampak dari penamaan UIN Syekh Wasil Kediri, yang menjadikan sosok Syekh Wasil sebagai identitas dan inspirasi akademik bagi generasi masa kini.

Penutup

Syekh Wasil Syamsuddin merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam di Kediri. Walaupun banyak aspek kehidupannya masih menjadi bahan kajian sejarah, beliau dikenal luas sebagai ulama yang membawa ajaran Islam dengan kebijaksanaan dan pendekatan budaya. Melalui dakwah yang santun serta kedekatannya dengan Raja Jayabaya, Syekh Wasil meninggalkan warisan spiritual yang terus dikenang oleh masyarakat Kediri hingga saat ini.

"Nama Syekh Wasil bukan hanya bagian dari sejarah Kediri, tetapi juga simbol awal berkembangnya peradaban Islam di tanah Jawa."

 

Profil KH Zainudin MZ

KH Zainudin MZ, atau yang sering dikenal sebagai Da’i Sejuta Umat, adalah seorang tokoh agama, mubalig, dan pendakwah terkenal di Indonesia. Lahir pada 2 Januari 1960 di Jakarta, beliau dikenal luas karena dakwahnya yang memadukan ilmu agama dengan cara yang sederhana dan mudah diterima oleh masyarakat luas.

Beliau memulai pendidikan agamanya di pesantren dan kemudian melanjutkan pendidikan di beberapa lembaga pendidikan Islam. Keahliannya dalam bidang agama Islam, terutama dalam hal tafsir, hadits, dan fiqh, menjadikannya sebagai salah satu da'i yang dihormati.

Sejak muda, KH Zainudin MZ sudah aktif menyampaikan dakwah lewat berbagai media, termasuk radio dan televisi. Beliau menjadi ikon dakwah di Indonesia, dikenal dengan cara penyampaian yang khas, penuh semangat, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Salah satu acara terkenal yang pernah dipandu olehnya adalah "Dai Sejuta Umat" yang disiarkan di TVRI.

KH Zainudin MZ mendapat gelar "Dai Sejuta Umat" karena popularitasnya yang sangat besar di kalangan masyarakat. Beliau memiliki gaya dakwah yang menggabungkan motivasi kehidupan sehari-hari dengan pesan agama. Ceramahnya sering kali dipenuhi humor dan kisah-kisah yang memotivasi pendengar

Selain sebagai mubalig, KH Zainudin MZ juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan. Beliau banyak memberikan kontribusi dalam memajukan pendidikan Islam di Indonesia serta memberi inspirasi bagi banyak generasi muda untuk lebih memahami ajaran agama Islam secara mendalam.

KH Zainudin MZ menikah dan memiliki beberapa anak. Beliau dikenal sebagai sosok yang sederhana, rendah hati, dan dekat dengan masyarakat. Meskipun dikenal luas, beliau tetap menjaga kesederhanaan dalam hidup sehari-hari.

KH Zainudin MZ juga dikenal sebagai penulis buku-buku agama yang banyak dibaca oleh umat Islam. Buku-buku tersebut sering kali memberikan pencerahan dalam kehidupan spiritual dan motivasi hidup berlandaskan ajaran agama Islam.

KH Zainudin MZ sebelumnya diketahui mengalami masalah kesehatan yang cukup serius. Menurut informasi yang beredar, Beliau  menderita penyakit jantung dan sempat menjalani beberapa perawatan medis untuk kondisinya tersebut. Meskipun dalam beberapa kesempatan beliau tampak aktif berdakwah, kondisi kesehatan yang menurun membuat beliau membutuhkan perawatan lebih intensif. Penyakit jantung yang beliau derita menjadi faktor utama yang mempengaruhi kesehatan dan menyebabkan beliau meninggal dunia.

Setelah wafatnya, jenazah KH Zainudin MZ dishalatkan di Masjid Al-Azhar, Jakarta, yang juga merupakan tempat beliau sering berceramah. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Pemakaman Karet Bivak, Jakarta, dengan prosesi pemakaman yang dihadiri oleh keluarga, sahabat, dan pengikut setia beliau.

Kabar wafatnya KH Zainudin MZ mengundang banyak reaksi dari masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam. Banyak tokoh agama, sahabat, dan pengikut beliau yang merasa kehilangan dan mengungkapkan rasa dukacita mereka melalui berbagai media sosial dan saluran komunikasi. Beliau dikenang sebagai seorang da’i yang tulus dalam mengajarkan agama Islam dan memberi inspirasi kepada banyak orang.

Meskipun sudah wafat, warisan dakwah dan ajaran beliau tetap hidup dalam ingatan umat. Beliau dikenal dengan ceramah-ceramah yang mengedepankan pesan moral dan kebajikan, serta pengajaran agama yang mudah dipahami oleh masyarakat umum. Salah satu karya besar beliau adalah acara dakwah yang diberi nama "Dai Sejuta Umat", yang menjadi salah satu program dakwah yang sangat populer pada masanya.

Wafatnya KH Zainudin MZ meninggalkan duka yang mendalam bagi umat Islam Indonesia, tetapi juga meninggalkan warisan yang akan terus dikenang dan diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya.

KH. Abdullah Faqih Langitan

 KH. Abdullah Faqih Langitan adalah salah satu ulama besar dan tokoh penting dalam sejarah Islam di Indonesia, khususnya dalam kalangan pesantren. Beliau dikenal sebagai seorang kiai yang memiliki pengaruh besar di kalangan masyarakat pesantren, khususnya di wilayah Jawa Timur.

KH. Abdullah Faqih Langitan berasal dari keluarga yang sangat menghormati ilmu agama. Beliau lahir di Langitan, Tuban, Jawa Timur, dan lebih dikenal dengan nama "KH. Abdullah Faqih Langitan" sebagai identitas dari pesantren yang didirikannya. Langitan sendiri merupakan sebuah desa yang menjadi pusat pendidikan agama, terutama dalam bidang ilmu fiqh, tasawuf, dan ilmu-ilmu agama lainnya.

KH. Abdullah Faqih Langitan menimba ilmu agama sejak usia muda. Beliau belajar di berbagai pesantren ternama di Jawa, dan kemudian mendalami ilmu agama di beberapa ulama besar. Salah satu tempat yang sangat berpengaruh dalam pembentukan intelektualitasnya adalah pesantren yang ada di daerah Jawa Timur. Beliau juga mendapat bimbingan langsung dari sejumlah ulama dan kiai ternama.

Pendidikan awal beliau banyak didapatkan di lingkungan keluarganya yang sudah memiliki tradisi pesantren dan keturunan ulama.

Keluarga besar beliau berperan penting dalam memberikan dasar-dasar pengetahuan agama. Dalam konteks ini, KH. Abdullah Faqih Langitan memperoleh pendidikan dini dalam ilmu fikih, tafsir, hadis, dan aqidah yang diajarkan oleh para orang tua atau kiai di lingkungan keluarganya.

Sebagai seorang ulama yang sangat dihormati, KH. Abdullah Faqih Langitan kemudian melanjutkan pendidikannya ke beberapa pesantren besar di Jawa Timur, terutama pesantren-pesantren yang sudah memiliki reputasi tinggi dalam pengajaran ilmu agama. Di sini, beliau belajar di bawah bimbingan para kiai besar yang terkenal dengan kemampuan mereka dalam mengajarkan ilmu agama yang mendalam.

Beberapa pesantren yang dikenal memiliki pengaruh besar terhadap pendidikan beliau di antaranya adalah pesantren-pesantren yang ada di wilayah Jawa Timur. Namun, tidak semua detail mengenai pesantren tempat beliau belajar secara spesifik tercatat dalam sejarah.

Pendidikan KH. Abdullah Faqih Langitan sangat berfokus pada penguasaan kitab-kitab klasik (kitab kuning) yang menjadi rujukan utama dalam pesantren-pesantren tradisional. Kitab-kitab ini mencakup berbagai disiplin ilmu agama seperti fiqh (ilmu hukum Islam), tasawuf (ilmu kerohanian), aqidah (teologi Islam), dan hadis.

Kitab-kitab yang dipelajari oleh KH. Abdullah Faqih Langitan meliputi karya-karya ulama klasik yang digunakan dalam kurikulum pesantren, seperti:

  • Fathul Qarib dan Al-Muqaddimah dalam fiqh.
  • Al-Hikam dalam tasawuf.
  • Al-Bukhari dan Sahih Muslim dalam hadis.
  • Tafsir Ibnu Katsir dalam ilmu tafsir al-Qur'an.

Sebagai seorang santri, KH. Abdullah Faqih Langitan memiliki kemampuan mendalam dalam mengkaji kitab-kitab ini dan memahami pemikiran serta ajaran yang terkandung di dalamnya. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa beliau dihormati sebagai seorang ulama yang memiliki pemahaman luas tentang agama.

Selain itu KH. Abdullah Faqih Langitan juga mendapat bimbingan langsung dari sejumlah ulama besar yang terkenal pada zamannya. Dari para guru dan mentor inilah beliau mengasah pemahaman agamanya dan memperdalam ilmu dalam bidang fiqh, tasawuf, dan dakwah.

Di banyak pesantren tradisional, seorang santri tidak hanya belajar melalui pengajaran formal, tetapi juga melalui proses "nyantri" di mana hubungan antara kiai dan santri menjadi sangat penting. KH. Abdullah Faqih Langitan dikenal sangat dekat dengan guru-gurunya dan sering kali mengembangkan wawasan agama dari pengalaman langsung berdiskusi dengan mereka.

KH. Abdullah Faqih Langitan adalah pendiri dan pengasuh Pesantren Langitan yang terletak di Tuban, Jawa Timur. Pesantren Langitan menjadi tempat yang banyak melahirkan generasi penerus yang berkontribusi besar dalam pengembangan ilmu agama dan pendidikan Islam di Indonesia. Pesantren ini dikenal memiliki metode pengajaran yang mengedepankan penguasaan kitab kuning (kitab-kitab klasik), fiqh, serta akhlak dan tasawuf.

Selain sebagai pengasuh pesantren, beliau juga aktif dalam kegiatan sosial dan dakwah di berbagai daerah. KH. Abdullah Faqih Langitan juga dikenal sebagai seorang ulama yang memiliki kemampuan untuk menggabungkan antara tradisi pesantren dengan perkembangan zaman, membuat ajaran beliau relevan bagi masyarakat modern.

KH. Abdullah Faqih Langitan meninggal pada tahun 1997. Beliau meninggalkan warisan yang sangat besar, baik dalam bidang pendidikan agama maupun dakwah Islam, khususnya di kalangan pesantren dan masyarakat sekitar. Pesantren Langitan yang beliau dirikan terus berkembang hingga saat ini, menjadi tempat penting dalam pengajaran ilmu agama dan pembentukan akhlak para santri.

Profil KH. Mas Subadar

KH. Mas Subadar adalah seorang ulama terkemuka yang dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum di Besuk, Pasuruan, Jawa Timur. Beliau lahir pada tahun 1942 di Desa Besuk, Kejayan, Pasuruan, sebagai putra dari pasangan KH. Subadar dan Hj. Maimunah. Pada usia tiga bulan, beliau telah menjadi yatim piatu karena ditinggal wafat ayahanda. Sejak kecil, beliau diasuh dan dididik oleh ibundanya, Hj. Maimunah,yang menjadi panutan dan sumber inspirasi dalam hidupnya.  

Meskipun kehilangan ayah sejak dini, beliau mendapat didikan yang sangat kuat dari ibunya, Hj. Maimunah, yang sangat berperan dalam membentuk karakter dan pendidikannya. Ibundanya menjadi sosok yang sangat berpengaruh dalam kehidupannya, memberikan kasih sayang dan pendidikan yang sangat berharga, terutama dalam pendidikan agama. Ini membuat KH. Mas Subadar memiliki keteguhan dan semangat dalam menuntut ilmu sejak kecil.

Tumbuh dalam lingkungan yang religius, beliau mulai menghafal Al-Qur'an dan belajar berbagai ilmu agama sejak usia dini, yang nantinya membentuknya menjadi seorang ulama yang dihormati di daerahnya.

Dalam menuntut ilmu, KH. Mas Subadar menunjukkan dedikasi yang tinggi. Beliau belajar di berbagai pesantren, termasuk Pesantren Lirboyo di Kediri, di bawah bimbingan KH. Machrus Ali. Di sana, beliau mendalami berbagai cabang ilmu agama dan menjadi santri yang dikenal rajin dan cerdas.

Setelah menikah dengan Nyai Aisyah pada tahun 1969, beliau kembali aktif dalam kegiatan organisasi dan kepemimpinan pesantren. Pada tahun 1976, beliau memimpin Pondok Pesantren Raudlatul Ulum dan menjabat sebagai Rois Syuriah NU Cabang Pasuruan pada tahun 1980. Beliau juga terlibat dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial di masyarakat, menjadi panutan bagi banyak orang.

KH. Mas Subadar wafat pada Sabtu malam, 30 Juli 2016, pada usia 72 tahun. Kewafatan beliau menjadi momen yang sangat berduka bagi keluarga, santri, dan masyarakat luas, terutama di kawasan Pasuruan dan sekitarnya, di mana beliau dikenal sebagai sosok yang sangat dihormati dan berperan besar dalam dunia pendidikan agama serta kegiatan sosial.

Sebelum meninggal, beliau memang sudah dalam kondisi yang cukup lemah karena faktor usia. Namun, meskipun demikian, beliau tetap menjalani aktivitas keagamaan dan memimpin Pondok Pesantren Raudlatul Ulum dengan penuh dedikasi. KH. Mas Subadar dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana, tegas, dan teguh dalam pendirian. Beliau juga sangat dekat dengan para santri dan masyarakat, yang menjadikan kepergiannya sangat dirasakan oleh banyak orang.

Setelah meninggal dunia, jenazah KH. Mas Subadar dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, yang terletak di Desa Besuk, Kejayan, Pasuruan. Pemakaman beliau di pesantren yang beliau pimpin selama bertahun-tahun ini menjadi simbol pengabdian dan dedikasi beliau dalam dunia pendidikan agama, khususnya di pesantren tersebut.

Kepergian beliau meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang, dan pondok pesantren yang beliau pimpin terus menjadi tempat pendidikan dan pengajaran bagi generasi selanjutnya.


KH. Ilyas Ruhiat

Setelah belajar di Cipasung, beliau memperdalam ilmu agama di beberapa pesantren ternama di Jawa Barat dan sekitarnya.

Di pesantren-pesantren tersebut, beliau semakin mendalami ilmu syariat dan pemikiran Islam.Selain menempuh pendidikan di pesantren, KH. Ilyas Ruhiat juga mendapatkan pendidikan formal di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati, Bandung.

Di kampus ini, beliau semakin memperkaya wawasan keislaman dan memperkuat jaringan dengan ulama serta akademisi Islam.Selama perjalanan intelektualnya, KH. Ilyas Ruhiat banyak berguru kepada ulama-ulama besar di Jawa Barat dan luar daerah.

Pemikiran dan keilmuan beliau juga dipengaruhi oleh tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang kuat dalam lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).

Setelah menyelesaikan pendidikannya, KH. Ilyas Ruhiat tidak hanya menjadi ulama besar, tetapi juga berperan sebagai pendidik dan pengasuh Pondok Pesantren Cipasung.

Beliau aktif dalam mengembangkan sistem pendidikan pesantren agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Mendorong integrasi pendidikan agama dan pendidikan formal agar santri memiliki wawasan luas.

Berkontribusi dalam pembinaan kader-kader ulama NU di tingkat nasional.

KH. Ilyas Ruhiat wafat pada 18 Desember 2007 dalam usia 73 tahun di kediamannya di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Beliau meninggal dunia setelah mengalami sakit dalam beberapa waktu sebelumnya. Sebagai seorang ulama besar yang dihormati, kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, para santri, masyarakat pesantren, dan warga Nahdlatul Ulama (NU).Jenazah beliau dimakamkan di Kompleks Pemakaman Keluarga Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, tempat di mana ayahnya, KH. Ruhiat, juga dimakamkan.

  • Pemakaman KH. Ilyas Ruhiat dihadiri oleh:
  • Para ulama dan kiai dari berbagai daerah
  • Pimpinan Nahdlatul Ulama (PBNU dan PWNU)
  • Santri dan alumni Pesantren Cipasung
  • Tokoh-tokoh nasional dan masyarakat umum

Ribuan orang dari berbagai kalangan datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada beliau. Prosesi pemakaman berjalan dengan penuh penghormatan dan doa, mencerminkan besarnya jasa dan pengaruh beliau dalam dunia pesantren dan organisasi Islam di Indonesia.

Meski telah wafat, KH. Ilyas Ruhiat meninggalkan warisan besar berupa:

  •  Pendidikan pesantren yang terus berkembang melalui Pondok Pesantren Cipasung.
  •  Pemikiran Islam moderat yang tetap relevan dalam Nahdlatul Ulama dan masyarakat luas.
  •  Kepemimpinan yang menjadi teladan bagi generasi ulama dan santri berikutnya.


Kepergian KH. Ilyas Ruhiat tidak hanya menjadi kehilangan bagi keluarga dan santrinya, tetapi juga bagi umat Islam di Indonesia, terutama warga Nahdlatul Ulama yang mengenang beliau sebagai ulama yang bijak, sederhana, dan penuh dedikasi dalam membimbing umat.

KH. Ahmad Djazuli Utsman, Pendiri PP. Al Falah Ploso Kediri Jawa Timur

KH. Ahmad Djazuli Utsman, Pendiri PP. Al Falah Ploso Kediri yang mempunyai julukan Sang Blawong Pewaris Keluhuran. Nama asli beliau adalah Mas’ud. Julukan tersebut diberikan oleh KH. Zainuddin. Kelak dikemudian hari ia lebih dikenal dengan nama KH. Achmad Djazuli Utsman, pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Al-Falah , Ploso, Kediri.

Ia lahir di awal abad XIX, tepatnya tanggal 16 Mei 1900 M. Ia adalah anak Raden Mas M. Utsman seorang Onder Distrik (penghulu kecamatan). Sebagai anak bangsawan, Mas’ud beruntung, karena ia bisa mengenyam pendidikan sekolah formal seperti SR, MULO, HIS bahkan sampai dapat duduk di tingkat perguruan tinggi STOVIA (Fakultas Kedokteran UI sekarang) di Batavia.

Belum lama Mas’ud menempuh pendidikan di STOVIA, tak lama berselang Pak Naib, demikian panggilan akrab RM. Utsman kedatangan tamu, KH. Ma’ruf (Kedunglo) yang dikenal sebagai murid Kyai Kholil, Bangkalan (Madura).

Mas’ud mengawali rihlah ilmiyahnya dengan di pesantren Gondanglegi Nganjuk yang diasuh oleh KH. Ahmad Sholeh. Di pesantren ini ia mendalami ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an, khususnya tajwid dan kitab Jurumiyah yang berisi gramatika Arab dasar (Nahwu) selama 6 bulan. 

Setelah menguasai ilmu Nahwu, Mas’ud yang dikenal sejak usia muda itu gemar menuntut ilmu kemudian memperdalam pelajaran tashrifan (ilmu Shorf) selama setahun di Pondok Sono (Sidoarjo). Ia juga sempat mondok di Sekarputih, Nganjuk yang diasuh KH. Abdul Rohman. Hingga akhirnya ia nyantri ke pondok yang didirikan oleh KH. Ali Imron di Mojosari, Nganjuk yang pada waktu itu diasuh oleh KH. Zainuddin. Kiai Zainuddin Mojosari dikenal banyak melahirkan ulama besar, diantaranya adalah KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Pendiri NU dan Rais Am setelah KH. Hasyim Asy’ari), Mas’ud yang waktu itu telah kehabisan bekal untuk tinggal di dalam pondok kemudian mukim di langgar pucung (musala yang terletak tidak jauh pondok). 

Selama di Pondok Mojosari, Mas’ud hidup sangat sederhana. Bekal lima rupiah sebulan, dirasa sangat jauh dari standar kehidupan santri yang pada waktu itu rata-rata Rp 10,-. Setiap hari, ia hanya makan satu lepek (piring kecil) dengan lauk pauk sayur ontong (jantung) pisang atau daun luntas yang dioleskan pada sambal kluwak. Sungguh jauh dikatakan nikmat apalagi lezat.

Di tengah kehidupan yang makin sulit itu, Pak Naib Utsman, ayah tercinta meninggal. Untuk menopang biaya hidup di pondok, Mas’ud membeli kitab-kitab kuning yang masih kosong lalu ia memberi makna yang sangat jelas dan mudah dibaca. Satu kitab kecil semacam Fathul Qorib, ia jual Rp 2,5,-(seringgit), hasil yang lumayan untuk membiayai hidup selama 15 hari di pondok itu.

Setelah sempat mondok di Mojosari, Mas’ud berangkat haji sekaligus menuntut ilmu langsung di Mekkah. H. Djazuli, demikian nama panggilan namanya setelah sempurna menunaikan ibadah haji. Selama di tanah suci, ia berguru pada Syeikh Al-‘Alamah Al-Alaydrus di Jabal Hindi. Namun, ia di sana tidak begitu lama, hanya sekitar dua tahun saja, karena ada kudeta yang dilancarkan oleh kelompok Wahabi pada tahun 1922 yang diprakasai Pangeran Abdul Aziz As-Su’ud. 

Di tengah berkecamuknya perang saudara itu, H. Djazuli bersama 5 teman lainnya berziarah ke makam Rasulullah SAW di Madinah. Sampai akhirnya H. Djazuli dan kawan-kawannya itu ditangkap oleh pihak keamanan Madinah dan dipaksa pulang lewat pengurusan konsulat Belanda.

Sepulang dari tanah suci, Mas’ud kemudian pulang ke tanah kelahirannya, Ploso dan hanya membawa sebuah kitab yakni Dalailul Khairat. Selang satu tahun kemudian, 1923 ia meneruskan nyantri ke Tebuireng Jombang untuk memperdalam ilmu hadits di bawah bimbingan langsung Hadirotusy Syekh KH. Hasjim Asya’ri.

Tatkala H. Djazuli sampai di Tebuireng dan sowan ke KH. Hasjim Asya’ri untuk belajar, Hadrotusy Syekh sudah tahu siapa Djazuli yang sebenarnya, ”Kamu tidak usah mengaji, mengajar saja di sini.” H. Djazuli kemudian mengajar Tafsir Jalalain, bahkan ia kerap mewakili Tebuireng dalam bahtsul masa’il (seminar) yang diselenggarakan di Kenes, Semarang, Surabaya dan sebagainya. 

Setelah dirasa cukup, ia kemudian melanjutkan ke Pesantren Tremas yang diasuh KH. Ahmad Dimyathi (adik kandung Syeikh Mahfudz Attarmasiy). Tak berapa lama kemudian ia pulang ke kampung halaman, Ploso. Sekian lama H. Djazuli menghimpun “air keilmuan dan keagamaan”. Ibarat telaga, telah penuh. Saatnya mengalirkan air ilmu pegetahuan ke masyarakat.

Sampai di akhir hayat, KH. Ahmad Djazuli Utsman dikenal istiqomah dalam mengajar kepada santri-santrinya. Saat memasuki usia senja, Kyai Djazuli mengajar kitab Al-Hikam (tasawuf) secara periodik setiap malam Jum’at bersama KH. Abdul Madjid dan KH. Mundzir. Bahkan sekalipun dalam keadaan sakit, beliau tetap mendampingi santri-santri yang belajar kepadanya. Riyadloh yang beliau amalkan memang sangat sederhana namun mempunyai makna yang dalam. Beliau memang tidak mengamalkan wiridan-wiridan tertentu. Thoriqoh Kyai Djazuli hanyalah belajar dan mengajar “Ana thoriqoh ta’lim wa ta’allum” ,dawuh beliau berulangkali kepada para santri.

Hadratus Syaikh KH. A. Djazuli Utsman menghadap kepada yang kuasa pada jam 15.30 wib hari Sabtu wage 10 januari 1976 bertepatan dengan 10 Muharam 1396 H.

Sumber : alfalahploso

Biografi KH. Mustofa Bisri

 KH. Mustofa Bisri, yang akrab disapa Gus Mus lahir di Rembang Jawa Tengah Indonesia,pada tanggal 10 Agustus 1944,Beliau adalah seorang ulama terkemuka dan tokoh agama di Indonesia. Beliau lahir dalam keluarga pesantren, yang membentuk fondasi keagamaan dan intelektualnya sejak dini. Ayahnya, KH. Bisri Syansuri, adalah pendiri Pesantren Raudlatut Thalibin di Rembang, tempat Gus Mus menempuh pendidikan awal.

Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren keluarga, Gus Mus melanjutkan studi ke berbagai pesantren di Jawa, termasuk di bawah bimbingan ulama-ulama besar. Beliau juga sempat belajar di Universitas Al-Azhar, Mesir, yang semakin memperluas wawasan keagamaannya.

Setelah menamatkan pendidikannya, KH. Mustofa Bisri diangkat sebagai pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin, tempat ia mengajar dan membina ribuan santri. Selain aktif di dunia pendidikan, beliau juga dikenal sebagai seorang penulis dan penyair. Karya-karyanya sering kali mengangkat tema keagamaan, sosial, dan budaya, dengan bahasa yang puitis dan mudah dipahami.

Gus Mus juga terlibat dalam berbagai organisasi keagamaan, termasuk Nahdlatul Ulama (NU), di mana beliau menjadi salah satu tokoh sentral dalam mengembangkan pemikiran moderat Islam di Indonesia. Ia dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi toleransi antaragama dan memperjuangkan perdamaian serta keadilan sosial.

KH. Mustofa Bisri bukan hanya seorang ulama, tetapi juga seorang budayawan yang mencintai seni dan sastra. Beliau sering mengekspresikan pemikiran dan perasaannya melalui puisi, dan banyak karyanya yang dihargai oleh masyarakat. Gus Mus juga aktif dalam kegiatan sosial dan sering memberikan ceramah serta diskusi di berbagai forum.

Selama hidupnya, KH. Mustofa Bisri menerima banyak penghargaan, baik dari pemerintah maupun lembaga swasta, sebagai pengakuan atas kontribusinya terhadap pendidikan, sosial, dan budaya. Beliau dihormati tidak hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki pandangan progresif terhadap isu-isu sosial.

Gus Mus dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan selalu mendengarkan pandangan orang lain. Ia memiliki keluarga yang mendukung aktivitasnya sebagai ulama dan pendidik. Meskipun sibuk dengan berbagai kegiatan, beliau selalu menyempatkan waktu untuk keluarga dan santrinya.

KH. Mustofa Bisri meninggalkan warisan yang berharga dalam dunia pendidikan dan keagamaan di Indonesia. Ajaran-ajarannya yang menekankan pentingnya cinta kasih, toleransi, dan pengembangan diri terus menginspirasi generasi muda untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Beliau masih aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial, dan nama beliau akan selalu dikenang sebagai salah satu pilar Islam moderat di Indonesia.

Biografi KH. Said Aqil Siraj

KH. Said Aqil Siraj adalah seorang ulama besar dan tokoh Islam Indonesia yang sangat dihormati. Lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada tanggal 3 November 1953, beliau adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam dunia keagamaan dan sosial di Indonesia. KH. Said Aqil Siraj dikenal luas sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.

KH. Said Aqil Siraj mengawali pendidikan agamanya di lingkungan pesantren. Beliau menimba ilmu di pesantren-pesantren tradisional yang ada di sekitar Cirebon dan Jawa Barat. Pendidikan beliau berlanjut ke Madrasah Aliyah (setara dengan SMA) sebelum akhirnya melanjutkan studi ke pondok pesantren yang lebih besar. Salah satu pesantren yang memberikan pengaruh besar bagi perkembangan keilmuannya adalah Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur.

Setelah mendalami ilmu agama di berbagai pesantren, KH. Said Aqil Siraj kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar, Mesir, yang terkenal dengan kajian ilmu agama Islam. Di Al-Azhar, beliau mendapatkan kesempatan untuk belajar dari berbagai ulama ternama di dunia Islam.

KH. Said Aqil Siraj dikenal sebagai ulama yang sangat menguasai berbagai disiplin ilmu Islam, mulai dari fiqh (hukum Islam), tafsir (penafsiran Al-Qur'an), hadis, hingga sejarah Islam. Beliau juga sangat mendalami pemikiran-pemikiran keislaman moderat dan mempromosikan Islam yang ramah dan inklusif, jauh dari kekerasan dan intoleransi.

Karir beliau semakin mencuat ketika terpilih sebagai Ketua PBNU pada tahun 2010. Sebagai Ketua PBNU, KH. Said Aqil Siraj memimpin organisasi ini dengan penuh dedikasi, memperjuangkan nilai-nilai moderasi Islam, toleransi, dan kebhinekaan. Di bawah kepemimpinan beliau, NU semakin dikenal sebagai organisasi yang memperjuangkan Islam yang rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi seluruh alam), menjunjung tinggi perdamaian, dan mendukung keberagaman di Indonesia.

KH. Said Aqil juga dikenal sebagai tokoh yang vokal dalam menyuarakan pentingnya persatuan umat Islam, serta mengajak masyarakat Indonesia untuk menjaga kerukunan antar umat beragama. Beliau juga sangat aktif dalam memperjuangkan hak-hak minoritas dan menentang segala bentuk radikalisasi yang merusak kedamaian dan keberagaman di Indonesia.

Pemikiran KH. Said Aqil Siraj banyak dipengaruhi oleh pemikiran Islam tradisional yang mengedepankan moderasi dan toleransi. Beliau selalu menekankan pentingnya menghindari ekstremisme dalam beragama, baik dalam bentuk fundamentalisme agama maupun radikalisasi ideologi. KH. Said Aqil juga percaya bahwa Islam harus mampu beradaptasi dengan zaman dan menjawab tantangan sosial, politik, serta ekonomi dunia modern.

Selain itu, beliau juga dikenal sebagai pendukung kuat pendidikan Islam yang berbasis pada nilai-nilai kesederhanaan, moralitas, dan etika. Melalui berbagai forum, beliau terus mengajak masyarakat Indonesia untuk menghidupkan tradisi keilmuan Islam yang lebih inklusif dan modern.

KH. Said Aqil Siraj berasal dari keluarga yang sangat mengutamakan pendidikan agama. Beliau adalah anak dari pasangan H. Aqil Siraj dan Hj. Siti Qomariyah. Seperti halnya para ulama besar, beliau juga menanamkan pentingnya pendidikan kepada anak-anaknya, dan beberapa di antaranya mengikuti jejak beliau dalam dunia keagamaan.

KH. Said Aqil Siraj merupakan salah satu tokoh yang telah memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan Islam di Indonesia, baik dalam bidang pendidikan, sosial, maupun politik. Dedikasi beliau terhadap ajaran Islam yang moderat dan cinta damai menjadikannya sebagai panutan bagi umat Islam, terutama bagi kalangan Nahdlatul Ulama. KH. Said Aqil Siraj terus berperan aktif dalam membentuk wajah Islam Indonesia yang toleran, berkeadilan, dan rahmatan lil-‘alamin.



Syekh Kuro

Syekh Kuro adalah seorang tokoh sufi yang terkenal di kalangan masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di daerah Sumatera. Ia dikenal sebagai seorang ulama yang mendalam ilmunya dan memiliki pengaruh besar dalam penyebaran ajaran Islam, khususnya dalam hal tasawuf dan pendidikan agama. Meskipun banyak kisah dan cerita mengenai kehidupan Syekh Kuro, sebagian besar sumber mengenai beliau masih bersifat lisan, yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat.

Perjalanan Spiritual dan Pembelajaran Islam

Syekh Kuro lahir di sebuah desa kecil di Sumatera pada abad ke-19. Sejak kecil, ia dikenal memiliki kecerdasan luar biasa dan rasa ingin tahu yang mendalam terhadap agama. Ayahnya, seorang guru agama, sering mengajarkan dasar-dasar ilmu agama, namun Syekh Kuro merasa ada yang lebih dalam yang perlu ia cari.

Pada usia muda, Syekh Kuro memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya dan melakukan perjalanan spiritual. Ia menuju ke berbagai tempat untuk mencari ilmu dari para ulama dan sufi terkemuka. Perjalanan ini membawanya ke berbagai penjuru dunia, dari Mekkah hingga ke Mesir, dan ia belajar dari banyak guru spiritual besar di zamannya.

Di Mekkah, Syekh Kuro mendalami ilmu tasawuf dan fiqih. Di sana, ia bertemu dengan sejumlah ulama besar yang memberikan pencerahan spiritual dan memperdalam pemahaman Syekh Kuro tentang makna kehidupan dan kedekatan kepada Tuhan. Setelah bertahun-tahun belajar, Syekh Kuro merasakan panggilan untuk kembali ke tanah air dan membagikan ilmu serta pengalamannya.

Kembali ke Indonesia, Syekh Kuro mendirikan sebuah pesantren di daerah Kuro, yang menjadi pusat pendidikan agama. Pesantren ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama secara tradisional, tetapi juga mengajarkan ilmu tasawuf yang mendalam, tentang cara mendekatkan diri kepada Tuhan dengan kesederhanaan hati dan keikhlasan.

Syekh Kuro juga dikenal sebagai seorang yang sangat disiplin dalam beribadah. Ia mengajarkan bahwa dalam setiap aspek kehidupan, seseorang harus selalu menjaga hubungan dengan Tuhan dan selalu bersikap tawadhu serta sabar. Dalam mengajarkan murid-muridnya, ia menekankan pentingnya menjaga hati dan membersihkan diri dari segala bentuk penyakit hati seperti sombong, iri, dan dengki.

Kisah mengenai Syekh Kuro juga dipenuhi dengan cerita tentang mukjizat kecil yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-harinya. Misalnya, ada yang bercerita bahwa ketika ia sedang mengajar, hujan lebat tiba-tiba turun dan membuat seluruh desa banjir. Namun, rumah dan pesantren yang ia dirikan tetap kering, seolah-olah dilindungi oleh kekuatan Tuhan.


Syekh Kuro juga dikenal memiliki sifat dermawan. Ia selalu membantu orang yang membutuhkan, baik itu dengan memberikan ilmu, materi, maupun nasihat yang membangun. Banyak orang yang datang kepadanya untuk meminta petunjuk hidup, dan Syekh Kuro dengan sabar memberikan solusi dengan cara yang lembut dan penuh kasih.

Pengaruh dan Legasi

Syekh Kuro meninggal dunia pada usia yang cukup tua, namun warisannya tetap hidup dalam bentuk ilmu dan pesan-pesan moral yang ia ajarkan. Pesantrennya menjadi salah satu tempat pendidikan agama yang terkemuka di Sumatera. Banyak ulama dan cendekiawan yang pernah belajar di bawah bimbingan beliau, dan mereka menyebarkan ajaran Syekh Kuro ke seluruh penjuru Indonesia.

Hingga saat ini, masyarakat di daerah sekitar Kuro sering mengadakan peringatan untuk mengenang jasa dan perjuangan Syekh Kuro dalam menyebarkan ajaran Islam. Nama beliau terus dihormati, dan banyak orang yang datang ke makamnya untuk berziarah, meminta doa, dan memohon berkah.

Kisah Syekh Kuro adalah kisah tentang pencarian spiritual yang tak kenal lelah, pengabdian tanpa pamrih, dan perjuangan untuk menyebarkan kebaikan dan kedamaian melalui ajaran agama yang mendalam. Ia tetap menjadi teladan bagi banyak orang dalam menjalani hidup yang penuh dengan keimanan, kebijaksanaan, dan kesederhanaan.

Biografi KH. Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah)

 

Nama Lengkap: Miftah Maulana Habiburrahman 
Nama Populer: Gus Miftah
Tempat dan Tanggal Lahir: Kudus, Jawa Tengah, 10 Agustus 1976
Agama: Islam
Pekerjaan: Dai, Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Pengusaha, Penulis
Kewarganegaraan: Indonesia

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Gus Miftah adalah seorang ulama muda yang dikenal sebagai sosok yang inspiratif dan memiliki pendekatan yang terbuka terhadap dakwah Islam. Ia lahir di Kudus, Jawa Tengah, dan berasal dari keluarga yang religius. Sejak kecil, Gus Miftah sudah dikenalkan dengan dunia pesantren, berawal dari pendidikan formal di pondok pesantren dan di sekolah umum.

Setelah menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah, Gus Miftah melanjutkan pendidikan di Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Namun, dunia pesantren dan dakwah menjadi jalan hidup yang akhirnya ia pilih, mengikuti jejak banyak ulama besar.

Kiprah Dakwah

Gus Miftah dikenal sebagai dai yang aktif dalam mengajarkan Islam dengan pendekatan yang tidak kaku dan lebih santai, namun tetap menjaga nilai-nilai ajaran agama. Ia dikenal dekat dengan kalangan muda dan mampu berkomunikasi dengan mereka melalui cara yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Salah satu pencapaian besar Gus Miftah adalah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji yang berlokasi di Sleman, Yogyakarta. Pondok pesantren ini terkenal dengan pendekatannya yang modern, mengkombinasikan ajaran Islam dengan kearifan lokal dan kultur modern.

Gus Miftah juga terkenal dengan dakwahnya yang inklusif, tidak membedakan latar belakang orang yang mendengar dakwahnya, termasuk mereka yang berasal dari kalangan yang sebelumnya mungkin kurang mendapatkan perhatian dalam dunia dakwah mainstream. Ia aktif berdakwah di berbagai tempat, termasuk di media sosial, untuk menyebarkan pesan-pesan kedamaian, toleransi, dan kesederhanaan hidup dalam Islam.

Aktivitas di Dunia Sosial

Selain sebagai pendakwah, Gus Miftah juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Ia kerap melakukan pengajian di berbagai kalangan, termasuk di kalangan artis, komunitas, dan masyarakat umum. Gus Miftah dikenal memiliki karakter yang santai, humoris, dan penuh kasih sayang, yang membuatnya diterima luas oleh masyarakat berbagai kalangan.

Ia juga dikenal sebagai sosok yang tidak segan untuk berbicara tentang isu-isu sosial yang tengah berkembang di masyarakat, seperti toleransi, pemahaman agama yang moderat, dan pentingnya menjaga ukhuwah islamiyah.

Karya dan Buku

Gus Miftah tidak hanya aktif di dunia dakwah, tetapi juga menulis buku-buku yang berisi tentang kehidupan spiritual dan dakwah Islam yang moderat. Buku-bukunya banyak menginspirasi para pembaca untuk lebih memahami agama dengan cara yang lebih ringan dan tidak menghakimi.

Kehidupan Pribadi

Gus Miftah menikah dan memiliki anak, meskipun ia sering kali memilih untuk menjaga privasi keluarganya. Sebagai seorang pemuka agama muda, ia tetap menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan dakwah, serta selalu berusaha menginspirasi orang untuk hidup dengan kasih sayang dan penuh kebaikan.

Pengaruh dan Kontroversi

Gus Miftah sering menjadi pembicara di berbagai forum, baik di dalam negeri maupun internasional. Namun, pendekatan dakwahnya yang tidak selalu tradisional kadang menuai kontroversi, terutama bagi mereka yang lebih konservatif dalam pandangan agama. Meskipun demikian, ia tetap dikenal luas sebagai sosok yang dapat mendamaikan perbedaan dan membawa banyak orang kepada pemahaman agama yang lebih ramah dan toleran.

Kesimpulan

Gus Miftah adalah salah satu dai muda yang berhasil membawa perubahan dalam cara pandang masyarakat terhadap agama, terutama dalam hal bagaimana agama Islam dapat dipahami secara lebih inklusif, ramah, dan moderat. Melalui pesan-pesan dakwahnya yang selalu relevan dengan perkembangan zaman, Gus Miftah menjadi salah satu tokoh yang patut diperhitungkan dalam dunia dakwah Indonesia.

KH. SHOLEH BANJARMELATI

 KH. SHOLEH BANJARMELATI SEZAMAN DENGAN SYAIKUNA KHALIL BANGKALAN


Beliau salah satu Pengasuh Pondok Pesantren tertua di Kota Kediri, Pesantren Banjarmelati, Mojoroto, Kota Kediri. 

Beliau adalah KH. Sholeh masih Keturunan Syaikh Abdullah Mursyad, Seorang Auliya' illah yang makamnya ada di daerah Setono Lendehan, Desa Bakalan, Kec. Banyakan, Kab. Kediri.

KH. Sholeh seorang Ulama' yang disegani pada zamannya, beliau masih sezaman Syaikhona Kholil Bangkalan Madura dan Syaikh Nawawi Banten.

KH. Sholeh Banjarmlati dikaruniai 11 orang putra-putri dan juga menantu yang Alim² para pendiri pondok pesantren di sekitar Kediri, mereka adalah:

1. Nyai Hasanah.

Istri Almaghfurlah KH. Muhammad Ma'roef (Pendiri Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri).

2. Nyai Anjar.

Istri Almaghfurlah KH. Muhammad Fadli (Pondok Pesantren Batokan, Petok, Mojo, Kediri. Beliau Ayahanda Almaghfurlah KH. Djauhari Fadli, Kras, Kediri dan juga Kakek Almaghfurlah KH. Makhsum Djauhari / Gus Makhsum Lirboyo).

3. Nyai Artimah.

Istri Almaghfurlah KH. Muhammad Dahlan (Pendiri Pondok Pesantren Jampes, Kediri. Beliau adalah Ayahanda Almaghfurlah Syaikh Ihsan, Jampes dan Almaghfurlah KH. Marzuqi Dahlan, Lirboyo).

4. Almaghfurlah KH. Muhammad.

Pondok Pesantren Bandar Kidul, Kota Kediri.

5. Nyai Nafisah.

Istri Almaghfurlah KH. Manshur (Pondok Pesantren Pucung, Blitar).

6. Nyai Khodijah atau Nyai Dlomroh.

Istri Almaghfurlah KH. Abdul Karim "Mbah Manab" (Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Mojoroto, Kota Kediri).

7. Almaghfurlah KH. Rofi'i (Beliau Wafat di Makkah)

8. Almaghfurlah KH. Ya'qub Lirboyo.

Pendiri Pondok Pesantren Haji Ya'qub, Unit Pondok Lirboyo. Ayahanda Almaghfurlah KH. Rofi'i Ya'qub, Lirboyo.

9. Almaghfurlah KH. Asy'ari.

Pondok Pesantren Sumbercangkring, Gurah, Kab. Kediri.

10. Almaghfurlah KH. Abdul Hayyi

Pondok Pesantren Alawi, Banjarmlati, Kota Kediri.

11. Almaghfurlah KH. Ibrahim

Pondok Pesantren Alawi, Banjarmalti, Kota Kediri.

Lalu apa amaliah Kyai Sholeh sehingga punya keturunan yg hebat²; Kyai Sholeh sangat sabar memiliki istri yang sangat membenci beliau. 

Dikisahkan.. Setiap Kyai Sholeh kembali ke rumah setelah i’tikaf di masjid langsung dihadang istri beliau di depan pintu rumah sembari membawa bekas air cucian beras. Air bekas cucian beras tadi langsung disiramkan ke wajah Kyai Sholeh. Meski demikian beliau tetap sabar atas perlakuan buruk istrinya.

Kesabaran Kyai Sholeh cukup lama, terjadi selama sepuluh tahun. Dari kesabaran beliau inilah menjadi sebab istri beliau menjadi tobat, dan mempunyai keturunan yg shalih-shalihah.


Beliau keturunan Panembahan Amir Hasan Bin Sunan Kudus,berikut nasab beliau :

Sayyid Husein  Jamal-ad-din Al Kubra

mempunyai anak 

Sayyid Ibrahim asmarakandi 

mempunyai anak

Sayyid Ali Murtadlo

mempunyai anak

Sunan Ngudung

mempunyai anak

Sunan Kudus wafat 1540 

mempunyai anak

Panembahan Amir Hasan / Pangeran Mekah Demak wafat 1549

mempunyai anak

Pangeran Demang II Kediri sumare ing Desa Badal Kec. Ngadiluwih Kab.Kediri

mempunyai anak

Sayyid Abdul Mursyad alias R Nidokusumo 

mempunyai anak

Kyai Ketib Anom/ Abdurohman sumare ing kalangbret

mempunyai anak

Syaikh Basyarudin Srigading tulungagung

mempunyai anak

Kyai Anbiya' kalangbret

mempunyai anak

Kyai  Muhamad. Ali Maklum banjarmelati

( Kakek Buyut kyai Sholeh Banjarmlati)

DO'A TERAKHIR Syaikhina KH. Ahmad Idris Marzuqi (H-2 Haul)


الفَاتِحَة

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرّحِيْمِ الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ والسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Dengan menyebut asma Alloh Yang Maha Merahmati di dunia dan akherat. Segala puji hanya bagi Alloh Tuhan Penguasa semesta alam. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Tuan Mulianya para Nabi dan Utusan. Beserta semua keluarga dan para sahabatnya. 

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَخَطَايَانَا وَاغْفِرْ لِأَصْحَابِ الْحُقُوْقِ الْوَاجِبَاتِ عَلَيْنَا 

Ya Alloh ampunilah semua dosa-dosa kami hapuslah segala keburukan dan kesalahan kami. Dan ampunilah para pemilik hak-hak yg wajib bagi kami. 

اللّٰهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاللّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ نَسْتَعِيْنُكَ عَلَى فَسَادٍ فِيْنَا وَنَسْأَلُكَ صَلَاحَ أَمْرِنَا كُلِّهِ

Ya Alloh segala puji hanya bagimu. Hanya kepada Engkaulah tempat mengadu dan memohon pertolongan. Tiada daya dan upaya kecuali dg pertolongan Alloh yg Maha Luhur nan Maha Agung. Kami memohon pertolongan atas kerusakan pada diri kami dan kami meminta kebaikan dalam segala urusan kami. 

اللّهُمَّ اجْعَلْنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَوْلَادَنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ وَعُلَمَائِكَ العَامِلِيْنَ وَأَوْلِيَائِكَ الْمُتَّقِيْنَ وَلَا تَجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنَ الضَّالِّيْنَ الْمُضِلِّيْنَ

Ya Alloh jadikan kami, dzuriyah kami dan anak-anak kami bagian dari hamba-hambaMu yang saleh, Ulama-Mu yang mengamalkan ilmunya serta para kekasih-Mu yang bertaqwa. Jangan jadikan kami dan mereka dari golongan orang-orang sesat yang menyesatkan. 

رَبَّنَا لَاتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِْن لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ 

Ya Tuhan kami.. Jangan Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu sesungguhnya Engkau Maha Banyak Memberi Anugerah. 

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا وَعَافِيَةِ الْأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا وَنُوْرِ الْأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ 

Ya Allah curahkanlah sholawat salam kepada Tuan Mulia kami Muhammad. Sang penawar dan obat hati. Kesembuhan dan keselamatan badan. Cahaya dan penerang mata. Beserta keluarga dan para sahabatnya. 

اللّٰهُمَّ طَوِّلْ عُمْرَنَا وَحَسِّنْ أَعْمَالَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَوَسِّعْ أَرْزَاقَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا بِالْإيْمَانِ وَالتُّقَى وَالْإسْتِقَامَةِ 

Ya Alloh panjangkan usia kami, jadikanlah baik amal kami, sehatkan jasmani kami, luaskan rizki kami, terangilah hati kami dengan iman, taqwa dan istiqomah. 

رَبَّنَا لَاتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ 

Ya Tuhan kami.. Jangan Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu sesungguhnya Engkau Maha Banyak Memberi Anugerah. 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 

Ya Tuhan kami.. Berilah kami segala kebaikan di dunia dan segala kebaikan di akherat. Jagalah kami dari siksa neraka. Masukanlah kami dalam nirwana bersama orang-orang baik. Wahai Dzat yg Maha Menang. Wahai Dzat yang banyak mengampuni. Dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang Lebih mengasihi.

وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

الفاتحة

Semoga Alloh senantiasa mencurahkan sholawat  salam kepada Tuan Mulia kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Alloh Tuhan Penguasa semesta alam.

Catatan: 

1- Doa diatas adalah do'a Syaikhina pada malam ahad 10 sya'ban 1435 H.(2014) dlm sebuah acara di Aula Al-muktamar Lirboyo. Satu hari setelah itu Beliau kapundut sowan wonten ngarso Gusti. Tepatnya pagi hari, senin 11- Sya'ban. Perhatikan tangisan Beliau saat mendoakan kita semua(وذرياتنا). Beberapa kali beliau dawuh bahwa makna dzuriyah adakala dzuriyah nasab(keturunan) dan dzuriyah ilmu(murid-murid, santri, muhibbin, muridnya murid dst.) Semoga diakui sebagai murid beliau. 


2- Dalam doa Beliau ini juga terdapat do'a-do'a yang sangat sesuai dengan keadaan problem kita saat ini. Semoga berkah do'a beliau saat itu kita semua selalu diberi kesehatan dan keberkahan dalam segala hal. Mari kita dengarkan/simak dan kita amini bersama do'a Beliau. Amin


 الفاتحة أن الله يعلي درجاته في الجنة ويكثر مثوباته ويضاعف حسناته ويحفظنا به وينفعنا به ويعيد علينا من بركاته وأسراره وانواره ونفحاته وعلومه في الدين والدنيا والآخرة وإلى حضرة النبي صلى الله عليه وآله وسلّم الفاتحة.... 


Sumber:kangsantri,Denanyar Jombang 9 Sya'ban 1441 H.


Cerita Unik Abah Lutfi bin Yahya dengan Bocah Cilik

Ada sebuah pemandangan yang sangat indah di Dalem Noyontaan Pekalongan beberapa hari yang lalu

Ada salah satu seorang tamu menunggu untuk berjumpa & bertatap muka sekedar meminta barokah dari habib lutfi bin Yahya. Tamu itu duduk di ruang yang di sediakan oleh Abah (Habib Luthfi) sejak jam tujuh pagi. Dia menunggu dengan wajah yang penuh harapa agar berjumpa Sang panutan. Hingga salah seorang santri Abah melaporkan  bahwa ada tamu satu orang menunggu untuk menghadap. 

Setelah santri Abah mengajak tamu itu masuk, Abah menanyakan yang mana tamu yang di maksud, Ternyata yang menunggu menghadap penuh harapan kepada Abah itu adalah bocah laki-laki yang masih duduk di bangku kelas 5 SD. Ia berangkat dari rumahnya sebdirian mengayuh speda yang jaraknya kurang lebih 3KM. 

"Sekelas Habib Lutfi, Presiden Thoriqoh seluruh Dunia, di datangi bocah kelas 5 SD"

Semakin menarik peristiwa tersebut setelah Abah tersenyum dan mempersilahka bocah itu duduk di kursi tepat di sebelah Abah duduk. lalu percakapan di mulai. Hanya Abah santri dan tamu bocah tetangga desa itu  yang ada di dalam kamar Abah. 


Dialog Abah dengan si Bocah SD 

Abah   :Omahmu endi le? 

Bocah :  Nang kono Bah (Sambil menunjuk nama sebuah desa) 

Abah   : Lah adoh numpak opo mrene? 

Bocah : Spedah onthelku Bah Aku dewe. 

Abah   : Bapak nang endi Le? 

Bocah : Mangkat Kerjo

Abah sambil tersenyum meneruskan dialognya dengan si bocah itu. Santri Abah juga ikut tertawa mendengar jawaban dan melihat kepolosan bocah tersebut yang tanpa menggunakan bahasa halus. Bahasa yang di gunakan bahasa pekalongan (ngoko) Tapi bagi Abah, itu bukan masalah dan tidak sama sekali bermasalah

Dialog selanjutnya

Bocah: Bah jaluk dungone, aku engkok sore iki sunat

Abah   : Loh Iyo ta? Wis wani Sunat? 

Bocah: Wani Bah, Aku dewe sing jaluk, guduk bapak Bah

Abah   : hehe Iyo sing wani lah. 

Bocah: Engkok Abah tekoo ya nang omahku Bah. Acarane Bar Ashar. 

Abah   : oh iyo? Bar Ashar? Iyo engkok aku tak teko. 

Bocah: Tenan yo Bah, tak omongke mak ku Engkok Bah

Abah   : "Sambil terus tersenyum" Iyo ke engkok aku teko. 

Bocah: Wis yo Bah, Aku tak moleh "sambil mencium tangan Abah & pergi"

Namanya juga sudah Cinta, tak kenal usia dan berani menampakkan secara langsung. Bocah tersebut diberi motivasi Abah untuk menjalankan salah satu syara' yakni Berkhitan semoga bocah tersebut menjadi salah satu Ulama, Sholihin dan Bermanfaat bagi Umat kelak

Sumber: Story Imohan Suratie

Biografi KH.Dimyati Rois

Kelahiran

KH. Dimyati Rois atau yang lebih dikenal dengan panggilan Abah Dim lahir pada 5 juni 1945 di Tegal Glagah Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra kelima dari sepuluh bersaudara yaitu dari pasangan KH. Rois dan Nyai Djusminah.

Saudara-saudara beliau diantaranya Ny. Khanifah, KH.Tohari Rois, KH. Masduki Rois, H. Murai Rois, KH. Saidi Rois, Ny. Khotijah, KH. Syatori Rois, Ny. Mukoyah dan Ny. Daroroh. KH. Dimyati Rois,

Latar belakang KH. Dimyati Rois adalah asli turunan petani dan santri baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Selain itu, kedua orang tuanya selalu mengajarkan dan melatih kepada putra-putrinya untuk senantiasa taat dalam beribadah.

Keluarga

Pada 1 Januari 1978, KH. Dimyati Rois melepas masa lajangnya dengan menikahi Hj. To’ah, putri tunggal dari pasangan KH. Ibadullah dan Hj. Fatimah.

Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai sepuluh putra-putri, yaitu, H. Gus Fadlullah, H. Gus Alamudin BA., Hj. Ning Lailatul Arofah, H. Gus Qomaruzzaman, Hj. Ning Lama’atus Sobah, H.Gus Hilmi, H.Gus Thoha Mubarok, H.Gus Husni Mubarok, H.Gus M. Iqbal dan Gus Abu Khafsin Almuktafa.

KH. Dimyati Rois membekali putra-putrinya dengan nilai-nilai agama Islam, mengajari putra-putrinya untuk menuntut ilmu dan terus belajar, karena menurut beliau bahwa seseorang tidak akan menjadi pandai tanpa adanya suatu proses pembelajaran.

Pendidikan

KH. Dimyati Rois sejak kecil memang sudah terlihat berbeda jika dibandingkan dengan para saudaranya yang lain, beliau begitu pendiam, tetapi rajin, disiplin dan ulet.

Dengan sikap rajinnya tersebut, beliau memulai pendidikannya dengan belajar di di SR (Sekolah Rakyat). Di sekolah formal tersebut KH. Dimyati Rois menyelesaikannya dan mendapatkan sertifikat sebagai tanda kelulusan.

Setelah selesai pendidikan formal, kemudian pada sekitar tahun 1956 beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren APIK, Kauman, Kaliwungu, Kendal yang diasuh oleh KH. Ahmad Ru’yat. Beliau mondok di Pondok Pesantren APIK selama kurang lebih 14-15 tahun.

Setelah selesai di Pondok Pesantren APIK, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya dengan berguru kepada KH. Mahrus Aly di Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, akan tetapi itu hanya sebentar dan setelah itu kemudian beliau melanjutkan berguru pada Mbah Imam, pengasuh Pondok Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah, di sana beliau hanya belajar kurang lebih sekitar 5 tahun.

Namun, setelah beberapa tahun berkelana menuntut ilmu di daerah Rembang, Tuban dan Kediri, pada akhirnya beliau kembali lagi ke Pondok Pesantren APIK, Kauman, Kaliwungu, Kendal. Tak berapa lama kemudian, beliau diangkat menjadi Lurah Pondok oleh Pengasuh Pondok Pesantren APIK, yaitu KH. Humaidullah Irfan (kakak KH. Ibadullah Irfan).

Ilmu-ilmu yang beliau pelajari selama beliau di pondok antara lain ilmu nahwu, sorof, ushul fiqh, kitabnya Imam Al-Ghazali dan masih banyak lagi kitab-kitab yang lainnya. Kecerdasan KH. Dimyati Rois telah nampak diwaktu masih belajar di pondok yang beliau singgahi, selama beliau di pondok tidak ada waktu yang terlewati dengan sia-sia. Melainkan digunakan untuk belajar, maka tidak aneh jika KH. Dimyati Rois memiliki wawasan yang luas tentang keislaman.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Pada waktu Muktamar NU di Jombang, KH. Dimyati Rois terpilih menjadi salah satu ulama yang tergabung dalam tim Ahlul Hal Wal Aqdi (AHWA) yang berjumlah 9 ulama khos se-Indonesia.

Dalam ormas NU, kiprah beliau tidak diragukan lagi. Beliau pernah menduduki kepengurusan dari mulai tingkat PCNU Kendal, PWNU Jawa Tengah, hingga PBNU. Beliau pernah menjadi pengurus Tanfidziyah, Syuriyah hingga Mustasyar PBNU. Di samping sebagai ulama yang ‘alim, beliau juga dikenal sebagai mubaligh yang ulung. Maka tidaklah mengherankan jika beliau banyak dikenal di kalangan santri dan kaum nahdliyin.

Selain itu, dalam dunia politik, beliau juga pernah menjadi pengurus DPW PPP Jawa Tengah, DPP PKB dan DPP PKD. Pada masa Orde Baru, beliau pernah menjadi anggota MPR RI melalui jalur Utusan Golongan yang diajukan PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Setelah Orde Baru tumbang dan muncullah era Reformasi, para politisi dan pengurus PBNU bergerak membentuk partai baru sebagai usulan kaum nahdliyin yang ingin aspirasinya tertampung.

Beliau masuk dalam jajaran pengurus PBNU yang ikut mendeklarasikan lahirnya PKB. Beliau bersama KH. Cholil Bisri, KH. Mustofa Bisri, KH. Abdurrahman Wahid, KH. Munasir Ali, KH. Muchit Muzadi, KH. Ma’ruf Amin, KH. Ilyas Ruchiyat dan ulama lainnya menjadi Deklarator PKB. Setelah Gus Dur dilengserkan dalam Sidang Istimewa (SI MPR RI) dan memasuki pemilu kedua di era Reformasi, mulai muncullah riak-riak dalam dunia perpolitikan Indonesia termasuk menimpa PKB.

Dalam tubuh PKB terpecah belah menjadi beberapa partai, diantaranya PNU, PKNU dan Partai Kejayaan Demokrasi (PKD). Dalam kubu Pondok Pesantren Langitan, Pondok Pesantren Lirboyo dan Pondok Pesantren Tegalrejo melahirkan PKNU. Sedangkan kubu Matori Abdul Jalil melahirkan PKD dan Ketua Dewan Syuranya dipegang oleh beliau. Namun, PKD tidak masuk dalam parpol yang lolos verifikasi KPU sehingga dengan sendirinya bubar.

Setelah vakum dalam dunia politik beberapa tahun, beliau kembali didapuk oleh Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar, untuk menjadi pengurus Dewan Syura DPP PKB. Di kemudian hari, Ketua Dewan Syura DPP PKB kosong sepeninggal KH. Aziz Manshur. Tidak butuh waktu lama, Muhaimin Iskandar selaku Ketua Umum DPP PKB memohon agar beliau berkenan menjadi Ketua Dewan Syura DPP PKB menggantikan KH. Aziz Manshur. Dengan berat hati, beliau pun menyanggupinya demi kebesaran PKB.

Teladan

Sebagai seorang ulama KH. Dimyati Rois memiliki kepribadian yang sangat baik dan penuh kesederhanaan, baik dengan para pengikut (santrinya) maupun dengan masyarakat yang lain. Kesederhanaan beliau ditunjukan dengan berpakaian yang sederhana, dan beliau juga tidak akan makan apabila tidak benar-benar lapar.

Selain itu beliau juga suka bergaul dengan siapapun, baik dengan pedagang, pejabat, orang kaya, orang miskin, buruh bahkan anak-anak. Beliau terkenal sebagai seorang yang sabar, pemurah dan ramah, disamping itu beliau tidak mengajarkan sesuatu yang tidak beliau kerjakan, dengan kata lain segala sesuatu yang beliau ajarkan atau berikan pada muridnya sudah atau sedang ia kerjakan sendiri.

Hal ini merupakan salah satu faktor yang membuat para santri maupun jamaahnya simpatik terhadap kepribadian beliau, sehingga petuah dan ajaran-ajarannya dapat diterima dan sangat diperhatikan oleh para jamaah pada umumnya dan oleh para santri pada khususnya.

Salah satu kelebihan yang tidak banyak dimiliki kiai lain adalah kemampuannya dalam kewirausahaan. Tak hanya mengajar mengaji, beliau memiliki berbagai usaha yang menghasilkan uang sekaligus melatih para santrinya untuk bisa berwirausaha, terutama dalam bidang pertanian dan perikanan. Beliau juga dikenal sebagai kiai yang banyak memiliki ilmu hikmah atau ilmu kesaktian. Hal ini menambah kewibawaannya di kalangan masyarakat.

Beliu meninggal pada tanggal 10 Juni 2022 di usia 77 tahun.

Ulama Indonesia yang Mengajar di Masjidil Haram


Sebuah kebanggaan bagi muslimin Indonesia karena pernah memiliki ulama seperti Tuan Guru Abdurrahman Siddiq Al-Banjari.

Jika ulama pada umumnya belajar ke Arab Saudi, maka beliau justru ulama nusantara yang pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah. Saat kembali ke Nusantara pun, beliau menjadi soko guru yang mengenalkan tasawuf secara benar di tanah Melayu.

Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif bin Mahmud bin Jamaluddin Al-Banjari, demikian nama lengkapnya. Dilahirkan pada tahun 1857 di Kampung Dalam Pagar Martapura Kalimantan Selatan, nama lahir beliau sebenarnya hanyalah Abdurrahman.

Nama "Siddiq" beliau dapat dari seorang gurunya saat ia belajar di Makkah. Beliau merupakan cicit dari ulama ternama etnis Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Saat baru berusia tiga bulan, ibunda Abdurrahman Siddiq meninggal dunia. Ia tak sempat mendapat asuahan sang ibunda. Ia pun kemudian dirawat kakek dan neneknya. Sang kakek merupakan seorang ulama bernama Mufti H Muhammad Arsyad. Namun baru diusia setahun, sang kakek meninggal. Maka Abdurrahman Siddiq pun tumbuh dewasa hanya bersama neneknya, Ummu Salamah.

Sang nenek merupakan muslimah yang taat beribadah dan faqih beragama. Ia mendidik syaikh dengan kecintaan pada Alquran. Beranjak dewasa, nenek mengirim syekh pada guru-guru agama di kampung halamannya. Ketika dewasa, Syaikh makin giat menuntut ilmu agama.

Beliau melakukan perjalanan menuntut ilmu ke Padang, Sumatra Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di Padang pada 1882, ia masih haus ilmu. Maka pergilah syekh ke kota kelahirn Islam, Makkah pada tahun 1887.

Di tanah suci, Abdurrahman Siddiq banyak menghadiri majelis ilmu para ulama ternama Saudi. Tak hanya di Makkah, beliau pun giat bergabung di halaqah-halaqah ilmu di Masjid Nabawi di Madinah. Kegiatan tersebut ia lakukan hingga tujuh tahun lamanya. Bahkan Syekh juga sempat menjadi pengajar di Masjidil Haram selama dua tahun sebelum kemudian kembali ke tanah air.

Sepulang dari Saudi, mantaplah ilmu syekh untuk berdakwah di negeri sendiri. Ia kemudian mengabdikan diri untuk berdakwah di Martapura, kemudian pindah ke Indragiri. Ia pun kemudian banyak didatangi para penuntut ilmu, tak hanya dari tanah air, namun juga dari negari tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Beliau bahkan mendirikan sebuah masjid dan madrasah di Indragiri Martapura. Madrasah yang ia buka pun kemudian menjadi tempat para penuntutu ilmu mengambil faedah dari syaikh dengan cuma-cuma. Tak ada iuran sepeser pun yang diminta dari murid-murid madrasahnya. Syekh bergantung pada hasil kebunnya untuk membiayai operasional madrasah.

Syekh Abdurrahman Siddiq, yang juga dipanggil "Tuan Guru" tersebut dikenal sebagai ulama yang amat giat dan aktif. Tak hanya sebagai sufi yang tawadhu, namun juga sastrawan yang membumikan ilmu tasawuf di tanah Melayu. Banyak syair yang telah dihasilkan Syaikh sementara dakwah terus berjalan.

Beliau meluruskan paham tasawuf dan ilmu kalam yang seringkali dipahami secara menyimpang. Pasalnya, banyak guru tasawuf yang hanya mengacu pada hal batin semata. Maka beliau pun hadir meluruskan ilmu tasawuf yang bena

Melihat kefaqihannya, banyak pemerintah setempat yang berkeinginan menjadikan beliau sebagai pemberi fatwa atau mufti. Ia pernah ditawari jabatan mufti dari sultan Kerajaan Johor, namun ia menolaknya. Saat berkunjung ke Betawi, Syekh juga diminta menjadi mufti namun lagi-lagi beliau menolaknya.

Baru setelah tawaran datang dari Kerajaan Indragiri Riau, beliau menerimanya. Itupun setelah pihak kerajaan terus menerus memohon kesediaannya. Maka diterimalah jabatan tersebut, namun dengan syarat tanpa mendapat bayaran darinya. Beliau menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri sejak tahun 1919 hingga 1939 yang berkantor di kawasan Rengat.

Selama hidupnya, Syekh banyak menghasilkan karya bermutu. Sedikitnya tercatat 20 buah karya kitab yang ia hasilkan. Tak hanya buku agama, namun ia pun menulis banyak karya sastra. Syekh memang dikenal sebagai ulama, mufti, sekaligus sebagai sastrawan dan pujangga.

Salah satu kitab beliau yang populer yakni Risalah 'Amal Ma'rifah. Diselesaikan pada tahun 1332, kitab tersebut disusun beliau karena minimnya rujukan tasawuf yang mumpuni bagi para alim ulama di masa itu. Maka kitab tasawuf itu pun lahir menjadi rujukan para penuntut ilmu, diajarkan para ulama dan guru agama di banyak majelis dan sekolah. Pada saat itu, kitab beliaulah yang relevan dalam ilmu tasawuf.

Adapun sebagai pujangga, karya sastra beliau yang terkenal terdapat dalam "Syair Ibarat Kabar Kiamat". Buku yang berisi kumpulan syair tersebut diterbitkan oleh Ahmadiyyah Press Singapura pada tahun 1915.

Dalam menulis sastra, Syekh memang beraliran religi. Karya-karya lain beliu yang populer pun terhitung banyak, diantaranya "Fath Al-Alim fi Tartib Al-Ta'lim" tentang adab menuntut ilmu, "Majmu' al Ayah wa al Hadist fi fada-il al ilmi wa al 'ulama wa al Muta'allimin wa al Mustami'in" yang terbit di Singapura, "Bai`Al-Hayawah li Al-Kafirin" berisi fikih perdagangan, dan karya lain yang sangat populer saat itu.

Namun sayangnya, sekian banyak karya syekh saat ini sulit didapat. Pasalnya, banyak karya beliau yang terbakar saat terjadi agresi militer Belanda di nusantara.

Begitu banyak kiprah yang ia lakukan dalam dakwah di nusantara, khususnya di Kalimantan dan Melayu. Seluruh usianya beliau habiskan untuk menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu. Setelah banyak hal yang ia lakukan untuk umat, sang Tuan Guru mendapati ajalnya. Beliau meninggal di Sapat, Indragiri Hilir, pada 10 Maret 1930 di usia 72 tahun.

Meski jasadnya telah terpendam bumi, namanya masih selalu dikenang. Masjid yang ia dirikn saat ini masih tegak berdiri. Pemikirannya dan ajaran tasawufnya masih menjadi perhatian untuk dipelajari. Beliau dimakamkan di dekat masjid yang ia dirikan untuk madrasah gratis para penuntut ilmu. Hingga kini, makam beliau selalu ramai dikunjungi muslimin tak hanya etnis Banjar ataupun etnis Melayu saja, namun muslimin nusantara.

Sumber : REPUBLIKA,Oleh Afriza Hanifa
 

KH. Maksum Jauhari Lirboyo Kediri Jawa Timur


Cerita tentang seorang kiai bukan saja jago mengaji ayat Alquran tetapi juga sakti bak pendekar silat, sungguh, bukanlah isapan jempol atau semata kisah sinetron dan film.

 Bukti itu bisa dilihat saat kelompok musik Kantata Takwa Samsara menggelar konsernya di Parkir Timur, Senayan, Senin malam, 6 Juli 1998.Primadona grup musik yang dimotori pengusaha Setiawan Djody ini adalah Iwan Fals, yang kerap melantunkan syair lagu yang penuh muatan kritik sosial. Buktinya, massa penonton yang beringas itu kemudian merangsek ke atas panggung dan menyeret-nyeret , sebetulnya berebut menyalami dan memeluk Iwan, sehingga bekas pengamen jalanan itu pun kerepotan karena ternyata dia pun tak mampu meredam keberingasan massa itu. Apalagi massa lainnya kemudian juga melempar berbagai benda yang ada di sekitar mereka: botol plastik, kaleng minuman, dan lain-lain. 

Di saat yang gawat itulah muncul KH Maksum Jauhari, kiai Nahdatul Ulama dari Kediri, Jawa Timur, yang sehari sebelumnya mengikutiistigotsah kubro bersama para nahdliyin di tempat yang sama. Dengan sekali sentakan tangannya, berbagai benda tadi jatuh ke tanah sebelum sempat menyentuh Iwan dan kawan-kawannya di panggung: Setiawan Djody, Sawung Jabo, Yockie Suryoprayogo, penyair Rendra, dan lain-lain. Bukan hanya itu, massa yang kain brutal itu pun terjengkang ke tanah bak dihempas sabetan topan. Dan, sungguh, semuanya bukanlah adegan film yang penuh trik macam yang diperankan Jet Li dalam berbagai sekuel Once Upon Time in China itu.

Sesungguhnya, kiai nyentrik, karena suka berpakaian "semau gue"ini tidak berencana mengeluarkan aji-aji kesaktiannya. "Aku tahu, risikonya berat," kilah pengasuh pondok pesantren di Lirboyo, Kediri, ini dalam dialek Jawa Timur yang kental.
Hanya karena dia ngenes melihat Iwan yang ditarik-tarik massa hingga tidak berdaya itu, maka dengan terpaksa dia keluarkan ilmu tenaga dalamnya: tanpa menyentuh, orang-orang pun terjungkal. "Mana aku tega mendiamkan orang-orang mengusik Iwan di depan mataku sendiri. Padahal aku tahu pasti, Iwan berusaha menenangkan penggemarnya. Eh, mereka malah nekat, nggak peduli dan terus memaksa Iwan," kisahnya.

Sejak awal kerusuhan sebisa mungkin Gus Maksum mencoba menenangkan massa. Dibujuknya massa agar ikut melafalkan shalawat. Karena bujukannya tidak digubris, dan massa terus merangsek, Pak Kiai berteriak lantang, "Silakan maju, kalau berani! Aku juga wong Arek yang bisa memecahkan kepala kalian!"
Ucapan itu mungkin tak terdengar  dianggap angin lewat. Massa tambah beringas dan terkesan balik menantang. Maka, ya… begitu itulah, tenaga dalamlah yang lantas bicara.
Menurut Pak Kiai yang berambut gondrong ini, sebetulnya dia pantang mengeluarkan ilmunya. Katanya, itu sama saja dengan melanggar kesepakatannya dengan gurunya. "Teapi karena waktunya terdesak, masa aku pasrah. Ya, itung-itung bela diri," ucapnya sambil tertawa dan mengelus-elus jenggotnya yang panjang. Dia mengaku, esoknya badannya menjadi pegal. "Mungkin aku juga kualat, karena seharusnya tak perlu mengeluarkan jurus jitu," sambungnya terkekeh.

Bukan sekarang ini saja dia mengeluarkan rapalannnya. Dua tahun sebelumnya, saat pesantrennya disatroni orang yang mencurigakan, orang yang menyatroni itu itu pun terpental karena sabetan tangan KH Maksum.

Eh, omong-omong, siapa sih guru Pak Kiai? Awalnya, dia menggeleng, sebelum kemudian berbisik perlahan, "Guruku Gusti Allah."
Sumber :tempo

KH. Ahmad Dahlan


Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta pada 1 Agustus 1868 lalu wafat di Yogyakarta pada 23 Februari 1923. Beliau adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.

Nama kecil K.H. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991).

 Adapun silsilahnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadla bin Kyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana 'Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6). 

 Pada umur 15 tahun, beliau pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. 

 Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, beliau sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, K.H. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta. Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991).

 Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9). Beliau dimakamkan di KarangKajen, Yogyakarta. Pengalaman Organisasi Disamping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga tidak lupa akan tugasnya sebagai pribadi yang mempunyai tanggung jawab pada keluarganya. 

Disamping itu, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi entrepreneurship yang cukup menggejala di masyarakat. Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits. 

Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 Nopember 1912. Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan. Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. la dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kyai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut. Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. 

Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Itulah sebabnya kegiatannya dibatasi. Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari dan Imogiri dan lain-Iain tempat telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk mengatasinya, maka KH. Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Ujung Pandang dengan nama Al-Munir, di Garut dengan nama Ahmadiyah. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama'ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam.

 Perkumpulan-perkumpulan dan Jama'ah-jama'ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang diantaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta'awanu alal birri, Ta'ruf bima kanu wal- Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi (Kutojo dan Safwan, 1991: 33). Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya.

 Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

 Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921. Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan dua belas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah AIgemeene Vergadering (persidangan umum). 

 Menjadi Pahlawan Nasional Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut: 
  1. KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat; 
  2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam;
  3. Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan
  4. Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria. 
 Sumber :facebook.com/kh.ahmad.dahlan

Abu Hamed Muhammad bin Muhammad al-Ghazali


Abu Hamed Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (1058-1019 Desember 1111 ) (Persia / Arab: ابو حامد محمد ابن محمد الغزالي), sering Algazel dalam bahasa Inggris, adalah seorang teolog Islam, ahli hukum, filsuf, kosmologi, psikolog dan mistik asal Persia, dan merupakan salah satu ulama paling terkenal dalam sejarah pemikiran Islam Sunni.

Dia dianggap sebagai pelopor methodic keraguan dan skeptisisme,dan dalam salah satu karya besar, The inkoherensi dari para filsuf, ia mengubah program filsafat Islam awal, pergeseran itu jauh dari metafisika Islam dipengaruhi oleh Yunani kuno dan Helenistik filsafat, dan menuju filsafat Islam berdasarkan sebab-akibat dan-yang ditentukan oleh Allah atau malaikat perantara, sebuah teori yang sekarang dikenal sebagai occasionalism. Ia lahir dan meninggal di Tus, di provinsi Khorasan Persia. Ghazali kadang-kadang telah diakui oleh para sejarawan sekuler seperti William Montgomery Watt menjadi Muslim terbesar setelah Muhammad (biasanya di kalangan umat Islam, yang terbesar umat Islam setelah Nabi, menurut hadits otentik, adalah generasi orang sezamannya). Selain karyanya yang berhasil mengubah program filsafat Islam-awal Islam Neoplatonisme yang dikembangkan atas dasar filsafat Helenistik, misalnya, begitu berhasil membantah dengan Ghazali yang tidak pernah sembuh-ia juga membawa Islam ortodoks waktunya di kontak dekat dengan Sufisme.

Para teolog ortodoks masih pergi cara mereka sendiri, dan begitu juga dengan mistik, tapi keduanya mengembangkan rasa saling menghargai yang memastikan bahwa tidak ada penghukuman menyapu bisa dilakukan oleh satu untuk praktek-praktek yang lain.Ghazali memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan pandangan sistematis Sufisme dan integrasi dan penerimaan dalam Islam mainstream. Namun, ia memilih posisi yang sedikit berbeda dibandingkan dengan Asharites; keyakinan dan pikirannya berbeda, dalam beberapa aspek, dari sekolah Asharite.

Ghazali lahir pada 1058 di Tus, sebuah kota di provinsi Khorasan di Persia. Ayahnya, seorang sufi tradisional, meninggal ketika ia dan adiknya, Ahmad Ghazali, masih muda. Salah satu teman ayah mereka merawat mereka selama beberapa tahun ke depan. Pada 1070, Ghazali dan saudaranya pergi ke Gurgan untuk mendaftar di sebuah madrasah (seminari Islam). Di sana, ia mempelajari fikih (hukum Islam) di samping Muhammad ibn Ahmad Abul Qasim Rādkānī dan Jurjānī. Setelah sekitar 7 tahun belajar, ia kembali ke Tus.
perjalanan penting pertama-Nya untuk Nisyapur terjadi sekitar 1080 ketika dia hampir 23 tahun. Ia menjadi murid dari ulama terkenal Abul Ma'ālī Juwaini, yang dikenal sebagai Imam al-Haramayn. Setelah kematian Al-Juwaini pada tahun 1085, Ghazali diundang untuk pergi ke pengadilan Nizamul Mulk Tusi, wazir kuat dari sultan Saljuk. wazir itu begitu terkesan dengan beasiswa Ghazali bahwa pada 1091 ia ditunjuk sebagai kepala profesor di Al-nizamiyyah Baghdad. Dia digunakan untuk kuliah untuk lebih dari 300 siswa, dan partisipasi dalam perdebatan Islam dan diskusi membuatnya populer di seluruh wilayah Islam.

Dia melewati krisis spiritual dalam 1095, meninggalkan karirnya, dan meninggalkan Baghdad dengan dalih akan berziarah ke Mekah. Membuat pengaturan untuk keluarganya, ia dibuang kekayaan dan mengadopsi kehidupan seorang sufi miskin. Setelah beberapa waktu di Damaskus dan Yerusalem, dengan kunjungan ke Madinah dan Mekah pada 1096, ia menetap di Tus menghabiskan beberapa tahun berikutnya dalam pengasingan. Dia mengakhiri pengasingan nya untuk jangka waktu singkat mengajar di Nizamiyyah dari Nisyapur di 1106. Kemudian ia kembali ke Tus di mana dia tinggal sampai kematiannya pada 19 Desember 1111.

Ghazali menulis lebih dari 70 buku tentang ilmu-ilmu, filsafat Islam awal, psikologi Islam, Kalam dan tasawuf. buku abad ke-11 berjudul Nya inkoherensi dari para filsuf menandai gilirannya besar dalam epistemologi Islam, seperti Ghazali efektif menemukan skeptisisme filosofis yang tidak akan sering terlihat di Barat sampai René Descartes, George Berkeley dan David Hume.


KH. Achmad Siddiq ( Jember Jawa Timur )


A.  Kehidupan KH. Achmad Siddiq

KH. Achmad Shiddiq yang nama kecilnya Achmad Muhammad Hasan, lahir di Jember pada hari Ahad Legi 10 Rajab 1344 (tanggal 24 Januari 1926). Beliau adalah putra bungsu Kyai Shiddiq dari lbu Nyai H. Zaqiah (Nyai Maryam) binti KH. Yusuf.
Achmad ditinggal abahnya dalam usia 8 tahun. Dan sebelumnya pada usia 4 tahun, Achmad sudah ditinggal ibu kandungnya yang wafat ditengah perjalanan di laut, ketika pulang dari menunaikan ibadah haji. Jadi, sejak usia anak-anak, Kyai Achmad sudah yatim piatu. Karena itu, Kyai Mahfudz Shiddiq kebagian tugas mengasuh Achmad, sedangkan Kyai Halim Shiddiq mengasuh Abdullah yang masih berumur10 tahun. Ada yang menduga, bahwa bila Achmad terkesan banyak mewarisi sifat dan gaya berfikir kakaknya (Kyai Mahfudz Shiddiq). Kyai Achmad memiliki watak sabar, tenang dan sangat cerdas. Wawasan berfilkirmya amat luas baik dalam ilmu agama maupun pengetahuan umum.

Kyai Achmad belajar mengajinya mula-mula kepada Abahnya sendiri, Kyai Shiddiq. Kyai Shiddiq sebagaimana uraian-uraian sebelumnya, dalam mendidik terkenal sangat ketat (strength) terutama dalam hal sholat. Beliau wajibkan semua putra-putranya sholat berjama'ah 5 waktu. Selain mengaji pada abahnya, Kyai Achmad juga banyak menimba ilmu dari Kyai Machfudz, banyak kitab kuning yang diajarkan oleh kakaknya,

Sebagaimana lazimnya putra kyai, lebih suka bila anaknya dikirim untuk ngaji pada kyai-kyai lain yang masyhur kemampuannya. Kyai Mahfudzpun mengirim Kyai Achmad menimba i1mu. di Tebuireng. Semasa di Tebuireng, Kyai Hasyim melihat potensi kecerdasan pada Achmad, sehingga, kamarnya pun dikhususkan oleh Kyai Hasyim. Achmad dan beberapa putra-putra kyai dikumpulkan dalam satu. kamar. Pertimbangan tersebut bisa dimaklumi, karena para putra kyai (dipanggil Gus atau lora atau Non) adalah putra mahkota yang akan meneruskan pengabdian ayahnya di pesantren, sehingga pengawasan, pengajaran dan pembinaannyapun cenderung dilakukan secara, khusus/lain dari santri urnumnya.

Pribadinya yang tenang itu. menjadikan Kyai Achmad disegani ol eh teman-temannya. Gaya bicaranya yang khas dan memikat sehingga dalam setiap khitobah, banyak santri yang mengaguminya. Selain itu, Kyai Achmad juga seorang kutu buku/ kutu kitab (senang baca). Di pondok Tebuireng itu pula, Kyai Achmad berkawan dengan Kyai Muchith Muzadi. Yang kemudian hari menjadi mitra diskusinva dalam merumuskan konsep-konsep strategis, khususnya menyangkut ke-NU-an, seperti buku Khittah Nandliyah, Fikroh Nandliyah, dan sebagainya.

Kecerdasan dan kepiaNvaiannya berpidato, menjadikan Kyai Achmad sangat dekat hubungannya dengan Kyai Wahid Hasyim.

Kyai Wahid telah membinbing Kyai Achmad dalam Madrasah Nidzomiyah. Perhatian Gus Wahid pada. Achmad sangat besar. Gus Wahid juga mengajar ketrampilan mengetik dan membimbing pembuatan konsep-konsep.

Bahkan ketika Kyai Wahid Hasyim memegang jabatan ketua. MIAI, ketua NU dan Menteri Agama, Kyai Achmad juga yang dipercaya sebagai sekretaris pribadinya. Bagi Kyai Achmad Shiddiq, tidak hanya ilmu KH. Hasyim Asy'ari yang diterima, tetapi juga ilmu dan bimbingan Kyai Wachid Hasyim direnungkannya secara mendalam. Suatu pengalaman yang sangat langka, bagi seorang santri.

B. Ketokohan Kyai Achmad
Ketokohan Kyai Achmad terbaca masyarakat sejak menyelesaikan belajar di pondok di Tebuireng, Kyai Achmad Shiddiq muda mulai aktiv di GPII (Gabungan Pemuda Islam Indonesia) Jember. Karirnya di GPII melejit sampai di kepengurusan tingkat Jawa Timur, dan pada Pemilu 1955, Kyai Achmad terpilih sebagai anggota DPR Daerah sementara di Jember.

Perjuangan Kyai Achmad dalam mempertahankan kemerdekaan '45 dimulai dengan jabatannya sebagai Badan Executive Pemerintah Jember, bersama A Latif Pane (PNI), P. Siahaan. (PBI) dan Nazarudin Lathif (Masyumi). Pada saat itu, bupati dijabat oleh "Soedarman, Patihnya R Soenarto dan Noto Hadinegoro sebagai sekretaris Bupati.

Selain itu, Kyai Achmad juga berjuang di pasukan Mujahidin (PPPR) pada tahun 1947. Saat itu Belanda. melakukan Agresi Militer yang pertama. Belanda merasa kesulitan membasmi PPPR, karena anggotanya adalah para Kyai. Agresi tersebut kemudian menimbulkan kecaman internasional terhadap Belanda sehingga muncullah Perundingan Renville. Renville memutuskan sebagai berikut:

1. Mengakui daerah-daerah berdasar perjanjian Linggarjati
2. Ditambah daerah-daerah yang diduduki Belanda lewatAgresi harus diakui Indonesia.

Sebagai konsekwensinya perjanjian Renville, maka pejuang-pejuang di daerah kantong (termasuk Jember) harus hijrah. Para pejuang dari Jember kebanyakan mengungsi ke Tulung Agung. Di sanalah Kyai Achmad mempersiapkan pelarian bagi para pejuang yang mengungsi tersebut.

Pengabdiannya di pemerintahan dimulai sebagai kepala KUA (Kantor Urusan Agama) di Situbondo. Saat itu di departemen Agama dikuasai oleh tokoh-tokoh NU. Menteri Agama adalah KH. Wahid Hasyim (NU). Dan karirnya di pemerintahan melonjak cepat. Dalam waktu singkat, Kyai Achmad Shiddiq menjabat sebagai kepala, kantor Wilayah Departemen Agama di Jawa Timur.

Di NU sendiri, karir Kyai Achmad bermula di Jember. Tak berapa lama, Kyai Achmad sudah aktiv di kepengurusan tingkat wilayah Jawa Timur, sehingga di NU saat itu ada 2 bani Shiddiq yaitu: Kyai Achmad dan Kyai Abdullah (kakaknya). Bahkan pada Konferensi NU wilayah berikutnya, pasangan kakak beradik tersebut dikesankan saling bersaaing dan selanjutnya Kyai Achmad Shiddiq muncul sebagai ketua wilayah NU Jawa Timur

Tetapi Kyai Achmad merasa tidak puas dengan kiprahnya selama ini. Panggilan suci untuk mengasuh pesantren (tinggalan Kyai Shiddiq) menuntut kedua Shiddiq tersebut mengadakan komitmen bersama. Keputusannya adalah Kyai Abdullah Shiddiq lebih menekuni pengabdian di NU Jawa Timur, sedangkan Kyai Achmad Shiddiq mengasuh pondok pesantrennya,

Kyai Achmad Shiddiq termasuk ulama yang berpandangan moderat dan unik sebagai tokoh NU dan kyai, ia tidak hanya alim tetapi juga memiliki apresiasi seni yang mengagumkan. Beliau tidak hanya menyukai suara Ummi Kultsum, bahkan juga suka suara musik Rock seperti dilantunkan Michael Jackson. "Manusia itu memiliki rasa keindahan, dan seni sebagai salah-satu jenis kegiatan manusia tidak dapat dilepaskan dari pengaturan dan penilaian agama (Islam). Oleh karena itu, apresiasi seni hendaknya ditingkatkan mutunya. "Apresiasi seni itu harus diutamakan mutu dari seni yang hanya mengandung keindahan menuju seni yang mengandung kesempurnaan, lalu menuju seni yang mengandung keagungan.Selanjutnya Kyai Achmad memberikan penjelasan sebagai berikut, Seni itu sebaiknya :

1 . Ada seni yang diutamakan seperti sastra dan kaligrafi.
2. Ada seni yang dianjurkan seperti irama lagu dan seni suara.
3. Ada seni yang dibatasi seperti seni tari.
4. Ada seni yang dihindari seperti pemahatan patung dan seni yang merangsang nafsu

Dalam memberikan nama untuk anak-anak-nya, Kyai Achmad senantiasa mengkaitkan calon nama yang bernuansa seni dengan pengabdian atau peristiwa-penstiwa penting. Seperti kelahiran putranya yang lahir bersamaan dengan karimya sebagai anggota DPR Gotong-Royong, yaitu Mohammad Balya Firjaun Barlaman, demikian juga Ken Ismi Asiati Afrik Rozana, lahir bertepatan dengan konferensi Asia Afrika.

Kyai Achmad menikah dengan Nyai H. Sholihah binti Kyai Mujib pada tanggal 23 Juni 1947, dan dikaruniai 5 orang anak, yaitu:
1. KH. Mohammad Farid Wajdi (Jember)
2. Drs. H. Mohammad Rafiq Azmi (Jember)
3. Hj. Fatati Nuriana (istri Mohammad Jufri Pegawai PEMDA Jember).
4. Mohammad Anis Fuaidi (wafat kecil), clan
5. KH. Farich Fauzi (pengasuh pondok pesantren Al-Ishlah Kediri).

Nyai Sholihah tidak berumur panjang, Allah memanggilnya ketika putra-putrinya masih kecil. Sehingga keempat anaknya itu di asuh oleh Nyai Hj. Nihayah (adik kandung ketiga Nyai Sholihah). Melihat eratnya hubungan anak-anak dengan bibinya, maka Nyai Zulaikho (kakaknya) kemudian mendesak Kyai Achmad agar melamar Nihayah. Dan Kyai Mujib pun menerima lamaran tersebut. Pernikahan Kyai Achmad Shiddiq dengan Nyai Hj. Nihayah binti KH. Mujib (Tulung Agung) memnpunyai 8 orang putra, yaitu:
1. Asni Furaidah (isteri Zainal Arifin, SE.)
2. Drs. H. Moh. Robith Hasymi (Jember).
3. Ir. H. Mohammad Syakib Sidqi (Dosen di Sumatra Barat)
4. H. Mohammad Hisyarn Rifqi (suami Tahta Alfina Pagelaran, Kediri).
5. Ken Ismi Asiati Afrik Rozana, BA (istri Drs. Nurfaqih, guru SMA Jember).
6. Dra. Nida, Dusturia (istri Tijani Robert Syaifun Nuwas bin Kyai Hamim Jazuli).
7. H. Mohammad Balya Firjaun Barlaman (pengasuh PP. Al Falah Ploso Kediri).
8. Mohammad Muslim Mahdi (wafat kecil)

Aktivitas pengajian Kyai Achmad mendapatkan sambutan hangat di masyarakat. Pesan-pesan agama disampaikannya dengan bahasa dan logika yang sederhana sehingga mudah dicerna. semua kalangan. Pengajian-pengajiannya dikemas secara khusus, seperti yang peruntukkan untuk masyarakat umum (kalangan awam) pada setiap malam senin sudah dirintisnya sejak tahun 1970-an dan tetap berlangsung hingga sekarang, Pengajian setiap malam Selasa, yang diperuntukkan bagi kalangan intelektual, sarjana, dosen dan tokoh-tokoh masyarakat membahas secara, kontemporer dan apresiatif kitab Ihya' Ulumiddin karangan Imam Ghozali.

Pengajian-pengajian Kyai Achmad banyak bernuansa Tasawwuf. Ada 3 unsur utarna dari tasawwuf yang dapat menuntun seseorang untuk bertasawwuf dari tingkat rendah menuju peningkatan diri secara bertahap, yaitu:
1. Al Istiqomah: yang berarti; tekun, telaten, terus-menerus tidak bosan-bosan mengamalkan apa saja yang dapat diamalkan Mungkin baca Yasin tiap malam Jum'at, mungkin baca Istighfar sekian kali dalam setiap malam, dan sebagainya.
2. Az Zuhd: yang berarti terlepas dari ketergantungan hati /batin dengan harta benda kekuasaan, kesenangan, dan sebagainya, yang ada, di tangannya sendiri, apalagi yang ada di tangan orang lain. Tidak tergantung berbeda dengan tidak memiliki, berbeda, dengan tidak punya. Seorang "Zahid" bisa saja kaya, tetapi hatinya tidak tergantung pada kekayaannya. Barang siapa yang tidak berputus asa karena sesuatu yang terlepas dari tangannya dan tidak bergembira, (melewati batas) dengan sesuatu yang diterimanya dari Allah maka dia sudah mendapatkan zuhud pada, kedua belah ujungnya.
3. Al Faqir: artinya, selalu menyadari kebutuhan diri kepada Allah. Kesadaran yang mendalam dan terus-menerus, tentang "dirinya membutuhkan Allah" tidak selalu ada pada setiap orang. Pada suatu saat kesadarannya, akan tinggi tetapi saat lain kesadarannya menurun.

C. Dzikrul Ghofilin

Pengajian malam Senin tersebut itu dinamakan "Majlis Dzikrul Ghofilin" yang artinya, majlis dzikirnya orang-orang lupa. Maksudnya orang-orang yang lupa adalah sifat relatif pada manusia yang selalu lupa. (agar selalu ingat Allah) sehingga perlu selalu diingatkan melalui Dzikir tersebut. Pada acara-acara tersebut, selain mengamalkan sholat tasbih, dzikir, Kyai Achmad biasanya mendahului menyampaikan ceramah agamanya.

Majlis Dzikrul Ghafilin yang dirintis pada awal tahun 1970-an tersebut 20 tahun berikutnya telah dilkuti oleh sekitar 20.000 orang Jamaah yang tersebar diseluruh Jawa, dan selanjutnya Jamaah pada setiap daerah mengembangkannya lebih lanjut dikawasan masing-masing.Secara historis, pada tahun 1973 Kyai Achmad mendapat ijazah dari Kyai Hamid untuk membaca Fatihah 100 kali setiap hari. Selanjutnya. Kyai Achmad mengadakan riyadlah di PPI. Ashtra beberapa tahun, baru setelah itu bacaan fatihah 100 kali dipadukan dengan bacaan lain untuk diwiridkan bersama-sama. Kemudian cara mernbacanya bisa dibagi dan dicicil dengan ketentuan: Subuh 30 kali, Dhuhur 25 kali, Ashar 20 kali, Maghrib 15 kali dan Isya' 10 kali. Dzikrul Ghafilin paling afdhal jika dibaca setelah sholat dan dibaca dengan hati yang talus ikhlas. Ada ceritera menarik antara Kyai Achmad dan Kyai Hamid: "Setiap memasuki tapal batas Pasuruan, Kyai Achmad selalu mengucapkan salam kepada Kyai Harnid. Ketika bertemu, Kyai Hamid menyatakan bahwa beliau selalu menjawab salam Kyai Achmad".

Dzikrul Ghafilin yang namanya diambil dari Al-Qur'an surat Al-'Araf 172 dan 265 menurut Kyai Achmad adalah wirid biasa, bukan wirid. thariqat. Jika tariiqat dengan bai'at, kalau tidak menegakkan pasti dosa, sedang dzikrul ghafilin adalah dengan ijazah. Pengamalannya tanpa menimbulkan efek camping dan isi bacaannya terdiri dari Al-Fatihah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Istighfar, Sholawat dan tahlil

Ada 3 orang Kyai yang ikut meramu bacaan-bacaan dalam dzikrul ghafilin, yaitu: KH. Abdul Hamid bin Abdullah (Pasuruan), KH. Achmad Shiddiq (Jember) dan KH. Hamim Jazuli (Gus Mik, Kediri). Bahkan menurut Gus Mik, ada tiga tokoh lagi yang ikut andil dalam wirid dzikrul ghafilin, yaitu Mbah Kyai Dalhar (Gunung Pring Muntilan Magelang), Mbah Kyai Mundzir (Banjar Kidul Kediri), dan Mbah Kyai Hamid (Banjar Agung Magellang).

Tawashul bil Fatihah, dalam kitab dzikrul ghafilin ditujukan kepada:
1 . Rasulullah Muhammad Saw.
2. Malaikat Jibril, Mikail, Isrofil, Izroil, Penjaga Arsy, dan Malaikat Muqorrobin.
3. Nabi-nabi dan Rasul-rasul
4. Ulul Azmi (Nabi Nuh As, Nabi lbrohim As, Nabi Musa As, Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw)
5. Istri-istri Nabi (Siti Aisyah, Siti Hafsoh. Siti Sa'udah, Siti Shofiayh, Siti Maimunah, Siti Roulah, Siti Hindun,Siti Zainab, dan Siti Zuwairiyah)
6. Putra-putri Nabi (Qosyim, Abdullah, Ibrohim, Fatimah, Zainab,Ruqoyyah dan Ummi Kultsum).
7. Keturunan (Dzurriyah) Nabi saw.
8. KeluargaNabi saw.
9. Shahabat Nabi saw, khususnya Ahli Badar (yang wafat saat perang Badar, dari Muhajirin dan Anchor)
10. Pengikut Nabi saw yaitu para Syuhada', 'ulama, 'auliya', sholihin, mushonniffin, muallifin, Mbah-mbah,orang tua (bapak dan ibu) dan orang-orang yang benar.
11. Nabi Khodliri Abi Abbas Balya bin Malkan As.
12. Sultonil' Auhya' Awwal yaitu:
a. Abi Muhammad Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib
b. Sayyidina Husein ra.
c. Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra.
d. Sayyidatina. Fatimah Az-Zahro ra,
13. Sayyid Syech Muhyiddin Abu Muhammad (Sultonil' Auliya' Syech Abdul Qodir Al-Jilani ra) bin Abi Sholih Musa jangkadusat
14. Sayyid Syech Ali Muhammad Bahauddin Naqsabandi ra.
15. Sayyid Syech Abu Hamid Muhammad Al-Ghozali ra.
16. Sayyid Syech Achmad Ghozali (adik Imam Ghozali)
17. Sayyid Syech Abi Bakar As-Syibbli ra.
18. Sayyid Syech Qutub Ghowtsi Habib Abdillah bin Alwi Haddad ra.
19. Sayyid Syech Abi Yazid Toymuri bin lsa Bustomi ra.
20. Sayyid Syech Muhammad Hanafi.
21. Sayyid Syech Yusuf bin Ismail A-Nabhani ra.
22. Sayyid Syech Jalaluddin As-Suyuti ra.
23. Sayyid Syech Abu Zakariya Yahya bin Sarafinnawawi ra.
24. Sayyid Syech Abdul Wahhab As-Syaroni ra.
25. Sayyad Syech Ali Nuruddin Asy-Syowni ra.
26. Sayyid Syech Abi Abbas Achmad bin Ali Al-Buni ra.
27. Sayyid Svech Ibrohim bin Adhama ra.
28. Sayyid Syech Ibrohim. Ad-Dasuqi ra.
29. Sayyid Syech Abu Abbas Syihabuddin Achmad bin Umar Anshori Al-Anshori Al-Mursiy
30. Sayyid Syech Sa'id Abdul Karim Al-Bushiri.
31. Sayyid Syech Abu Hasan Al-Bakri.
32. Sayyid Syech Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Buchori.
33. Sayyid Syech Zainuddin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani.
34. Sayyid Syech Tajuddin bin Athoillah Al-Askandari ra.
35. Mazhab Ernpat, Khususnya:
      a. Sayyid Syech Imam Muhammad bin Idris As-Syafi'i
      b. Sayyid Syech Abu Hafsin Umar As-Suhrawardi
      c. Sayyid Syech Abi Madyan
      d. Sayyid Syech Ibnu Maliki Al-Andalusi
      e. Sayyid Syech Abu Abdulloh Muhammad bin SulaimanAl - Jazuli
      f. Sayyid Syech Muhyiddin bin Al-Arabi
      g. Sayyid Syech Imon bin Husayni ra.
36. Al Qutub Al Kabir Sayyid Syech Abdussalam 1bnu Masyisyi
37. Sayyid Syech Abu Hasani. Ali bin Abdillah bin Abdul Jabbar As-Syadzi1i
38. Sayyid Syech Abi Mahfudz Ma'ruf Al-Karkhiy
39. Sayyid Syech Abi Hasani Sari As-Saqofi
40. Sayyid Syech Abu Qosim Al-Imam Junaidi Al-Baghdadi
41. Sayyid Syech Abu `Abbas Ahmad Badawi
42. Sayyid Syech Abu Husain Rifa'i
43. Sayyid Syech Abu Abdillah Nu' man
44. Sayyid Syech Imam Hasani bin Abu Hasani Abi Sa'id Bashri
45. Sayyidati Robi'ah Al-Adawiyah ra.
46. Sayyidati Ubaidah binti Abi Kilab ra
47. Sayyid Syech Abu Sulaiman Ad-Daroni ra
48. Sayyid Syech Abu Abdillah Al-Harits bin Asadi Al-Muhasibi ra.
49. Sayyid Syech Abi Faydl dzinnun Al-Misry ra,
50. Sayyid Syech Abi Zakariyya. Yahya bin Mu'adz Ar-Rozy ra
51. Sayyid Syech Abi Sholih Hamdun an-Naisabur.
52. Sayyid Syech Husaini bin Mansur Al-Hallaj ra.
53. Sayyid Syech Jalaluddin Ar-Rumy ra.
54. Sayyid Syech Abi Hafsin Syarafiddin Umar bin Farid Al- Hamawiy Al-Mirsi ra.
55. Ikhwan Dzikrul Ghafilin
56. Orang yang hidup dan mati baik itu:
      a. Orang-orang shalihin
      b. Auliya Rijalillah
      c. Orang-orang yang Arif
      d. Ulama Amilin
      e. Para Auliya Jawa dan Madura khususnya Wali Songo
       f. Kaum Sufi Muhaqiqin

Tentang "Tawassul", Kyai Achmad memberikan penjelasan bahwa do' a tawashul ada dua macam:

1. Doa yang harus "dikatrol", yaitu. Yaitu orang yang tidak faham dan tidak maqbul do' anya akan dikatrol (ditolong) oleh orang faham dan khusyu' dalam berdo'a Hal ini sama dengan sholat berjama'ah tersebut. Bila salah satu diterima amal sholatnya maka diterima semua yang berjama'ah tersebut. Karena itu sholat berjama'ah lebih baik dari sholat sendiri. Bahkan Imam Hambali menghukumi Fardlu Ain. Ada Hadits Nabi sebagai berikut: "Nabi didatangi seorang sahabat. Sahabat menyampaikan bahwa ia sering lupa do'a yang sudah diajarkan Nabi. Lalu Nabi mengatakan, "Bacalah do'a di bawah ini" maka nilainya sama".
"Ya Allah aku tidak tabu apa yang di doakan oleh Nabi Tapi aku juga ikut mohon doa itu. Dan apa yang diminta NAbi untuk dijauhkan dari bahaya, aku juga mohon ya Allah".

4. Doa yang bersifat "dorongan" yaitu: orang yang berdoa tidak maqbul karna jiwanya tidak bersih, sehingga perlu didorong atau di amini oleh orang yang maqbul doanya dan bersih hatinya ,Ada hadits sebagai berikut "Ada tiga orang sahabat yang sedang berzikir di masjid. Salah satunya adalah Abu Hurairah yang masih muda usia. Lalu masuklah Nabi sambil bersabda: berdoalah kamu dan aku mengamininya. Satu persatu mereka berdoa dan di amini oleh Nabi. Giliran ketiga pada Abu Hurairah berdoa sebagai berikut: "Ya Allah semua yang diminta sahabat yang pertama, aku mohon juga. Begitu pula yang diminta sahabat yang kedua aku mohon juga Sekarang aku mohon untuk diriku sendiri. Ya Allah sejak kecil aku ini pelupa, aku mohon agar dapat hafal semua yang diajarkan Nabi". Doa Abu Hurairah inipun di amini Nabi, maka sejak itulah la menjadi penghafal/perawi Hadits terbanyak. Ini karena dorongan amin Nabi yang langsung di terima Allah".

Pengajian Dzikrul Ghafilin ini semakin lengkap dan dilkuti oleh ribuan muslimin/muslimat, setelah digabung dengan sema'an Al-Qur'an Mantab" yang dirintis oleh Gus Mik, dan kini dikoordinasi oleh KH. Farid Wajdi (putra Sulung Kyai Achmad). Pengajian "Dzikrul Ghafillin dan Istima'ul Qur'an" ini tidak hanya dilakukan di Jember, bahkan hampir semua Kabupaten di Jawa Timur dan Jawa Tengah (ternasuk Kraton Yogya dan kantor-kantor pemerintah pun) sudah mengadakan kegiatan ini secara rutin.

Kedekatan KH. Achmad Shiddiq dengan Gus Mik tidak hanya pada penggabungan Dzikrul Ghofilin dengan sema' an Qur' an Mantab saja. Bahkan eratnya hubungan itu terikat rapat setelah kedua tokoh itu "besanan". Putra Kyai Achmad (Gus Hisyam Rifqi) menikah dengan putri Gus Mik (Tahta Alfina Pagelaran) sedang Ning Nida Dusturia (Putri Kyai Achmad) Dinikahkan dengan Gus Robert Syaifun Nuwas (putra Gus Mik), lebih dari itu Gus Firjaun (putera Bungsu Kyai Achmad) menikah dengan Ning Sofratul Lailiyah (Ponaan Gus Mik).

Dengan dzikrul ghafilin Kyai Achmad berikhtiar menciptakan suasana religius guna membentengi masyarakat dalam memasuki kehidupan modern, karena modernisasi menurut Kyai Achma cenderung membawa mudirrunisasi. yakni suatu proses yan mengarah kepada sesuatu yang memudharatkan, sehingga pengembangan suasana religius merupakan kondisi yang harus mendapatkan prioritas.

D. Bintang Kyai Achmad
Pada Munas Ulama NU di Situbondo pada bulan Desember 1983, KH. Achmad Shiddiq menjelaskan makalahnya tentang "Penerimaan Azas Tunggal Pancasila bagi NU". Beliau menyampaikan pokok-pokok fikiran dan berdialog tanpa kesan apolog: Beliau ungkap argumentasi secara mendasar dan rasional dari segi agama, historis maupun politik. "Pancasila dan Islam adalah hal yang dapat sejalan dan saling menunjang. Keduanya tidak bertentangan dan jangan dipertentangkan",kata Kyai Achmad.

Lebih lanjut ditegaskan: "NU menerima Pancasila berdasar pandangan syari'ah. bukan semata-mata berdasar pandangan politik. Dan NU tetap berpegang pada ajaran aqidah dan syariat Islam. Ibarat makanan, Pancasila itu sudah kita makan selama 38 tahun, kok baru sekarang kita persoalkan halal dan haramnya katanya setengah bergurau penuh diplomatic. Sungguh luar biasa, ratusan kyai yang sejak awal menampik Pancasila sebagai satu-satunya Azas organisasi, berangsur-angsur berobah sikap dan menyepakatinya. Sejak saat itulah, sejarah mencatat NU menjadi ormas keagamaan yang pertama menerima Pancasila sebagai satu-satunya Azas.

Nama Kyai Achmad melejit bak "Bintang Kejora", dalam Munas NU itu. Dan tak heran, dalam Muktamar NU ke 27 di Situbondo itu, Kyai Achmad Shiddiq terpilih sebagai Ro'is Aam PBNU, sedang KH. Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum Tanfidziahnya, bentuk pasangan yang, ideal.

Duet Kyai Achmad dan Gus Dur temyata marnpu mengangkat pamor NU ke permukaan. Beberapa. kali NU bisa selamat ketika menghadapi setiap persoalan besar dan pelik berkat kepemimpinan keduanya. Semisal goncangan, ketika Kyai As' ad yang kharismatik mengguncang NU dengan sikap mufaroqohnya terhadap kepemimpinan Gus Dur. Dalam Munas NU di cilacap tahun 1987, Kyai As' ad menginginkan Gus Dur dijadikan agenda Munas, dan diganti. Namur demikian, Kyai Achmad Shiddiq dan Kyai Ali Ma'shum tampil membelanya.

Kyai Achmad dalam posisi sulit dan menentukan itu mampu meyakinkan warga NU untuk tetap kukuh dengan khittah NU 1926. Pada Muktamar ke-28 di Yogyakarta pada tahun 1989 Kyai Achmad menegaskan pendiriannya tentang Khittah. "NU ibarat kereta, api, bukan taksi yang bisa, dibawa, sopirya, ke mana, saja. Rel NU sudah tetap", ujarnya bertamsil. Dengan tamsil ini pula Muktamar Yogyakarta dapat mempertahankan duet Kyai Achmad dengan Gus Dur.

Dan kepulangan Kyai Achmad dari Muktamar Yogyakarya, Kyai Achmad sakit Diabetes Melitus (kencing manis yang parsh). Kyai Achmad dirawat di RS. Dr. Sutomo, Surabaya.
"Tugasku di NU sudah selesai", kata Kyai Achmad Shiddiq pada rombongan PBNU yang membesuknya di RSU Dr. Sutomo, Ternyata isyarat itu benar. Tanggal 23 Januari 1991, Kyai Achmad Shiddiq wafat. Rois Aam PBNU yang berwajah sejuk itu menanggalkan beberapa jabatan penting:
1. Anggota DPA (Dewan Pertimbanzan Agung)
2. Anggota BPPN (Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional)

KH Achmad Shiddiq dimakamkan di kompleks makam Auliya, Tambak Mojo, Kediri. Di makam itu juga sudah dimakamkan 2 orang Auliya sebelumnya. "Aku seneng di sini Besok kalau aku mati dikubur sini saja", wasiat Kyai Achmad pada istri dan anak-anaknya. Walaupun berat hati karena jauhn dari Jember, keluarganyapun merelakannya sebagai penghormatan pada bapak yang sangat di cintainya

Ribuan muslimin dan muslimat melayat ke pemakaman Kyai Achmad Shiddiq. Jenazah terlebih dulu disemayamkan di rumah duka (kompleks Pesantren Ashtra. Talangsari) dan keesok harinya, barulah beriring-iringan mobil yang berjumlah seratus itu mengantarkannya di tempat yang jauh, tetapi menyenangkannya. Sang Bintang Kejora itu jauh dari Jember tetapi sinarnya tetap cemerlang dari pemakaman Tambak Ngadi Mojo Kediri Jawa Timur.

Sekitar 5 tahun setelah wafatnva, tepatnya pada tanggal 9 Nopember 1995, Kyai Achmad masih mendapatkan penghargaan "Bintang Maha Putera NARARYA, dari Pemerintah dan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional Mantan Tokoh NU. (pondokpesantren)

Biografi Syech Wasil Kediri

Pendahuluan Di antara tokoh penyebar Islam yang sangat dihormati oleh masyarakat Kediri, nama Syekh Wasil Syamsuddin menempati posisi yang...