Ulama Indonesia yang Mengajar di Masjidil Haram


Sebuah kebanggaan bagi muslimin Indonesia karena pernah memiliki ulama seperti Tuan Guru Abdurrahman Siddiq Al-Banjari.

Jika ulama pada umumnya belajar ke Arab Saudi, maka beliau justru ulama nusantara yang pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah. Saat kembali ke Nusantara pun, beliau menjadi soko guru yang mengenalkan tasawuf secara benar di tanah Melayu.

Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif bin Mahmud bin Jamaluddin Al-Banjari, demikian nama lengkapnya. Dilahirkan pada tahun 1857 di Kampung Dalam Pagar Martapura Kalimantan Selatan, nama lahir beliau sebenarnya hanyalah Abdurrahman.

Nama "Siddiq" beliau dapat dari seorang gurunya saat ia belajar di Makkah. Beliau merupakan cicit dari ulama ternama etnis Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Saat baru berusia tiga bulan, ibunda Abdurrahman Siddiq meninggal dunia. Ia tak sempat mendapat asuahan sang ibunda. Ia pun kemudian dirawat kakek dan neneknya. Sang kakek merupakan seorang ulama bernama Mufti H Muhammad Arsyad. Namun baru diusia setahun, sang kakek meninggal. Maka Abdurrahman Siddiq pun tumbuh dewasa hanya bersama neneknya, Ummu Salamah.

Sang nenek merupakan muslimah yang taat beribadah dan faqih beragama. Ia mendidik syaikh dengan kecintaan pada Alquran. Beranjak dewasa, nenek mengirim syekh pada guru-guru agama di kampung halamannya. Ketika dewasa, Syaikh makin giat menuntut ilmu agama.

Beliau melakukan perjalanan menuntut ilmu ke Padang, Sumatra Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di Padang pada 1882, ia masih haus ilmu. Maka pergilah syekh ke kota kelahirn Islam, Makkah pada tahun 1887.

Di tanah suci, Abdurrahman Siddiq banyak menghadiri majelis ilmu para ulama ternama Saudi. Tak hanya di Makkah, beliau pun giat bergabung di halaqah-halaqah ilmu di Masjid Nabawi di Madinah. Kegiatan tersebut ia lakukan hingga tujuh tahun lamanya. Bahkan Syekh juga sempat menjadi pengajar di Masjidil Haram selama dua tahun sebelum kemudian kembali ke tanah air.

Sepulang dari Saudi, mantaplah ilmu syekh untuk berdakwah di negeri sendiri. Ia kemudian mengabdikan diri untuk berdakwah di Martapura, kemudian pindah ke Indragiri. Ia pun kemudian banyak didatangi para penuntut ilmu, tak hanya dari tanah air, namun juga dari negari tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Beliau bahkan mendirikan sebuah masjid dan madrasah di Indragiri Martapura. Madrasah yang ia buka pun kemudian menjadi tempat para penuntutu ilmu mengambil faedah dari syaikh dengan cuma-cuma. Tak ada iuran sepeser pun yang diminta dari murid-murid madrasahnya. Syekh bergantung pada hasil kebunnya untuk membiayai operasional madrasah.

Syekh Abdurrahman Siddiq, yang juga dipanggil "Tuan Guru" tersebut dikenal sebagai ulama yang amat giat dan aktif. Tak hanya sebagai sufi yang tawadhu, namun juga sastrawan yang membumikan ilmu tasawuf di tanah Melayu. Banyak syair yang telah dihasilkan Syaikh sementara dakwah terus berjalan.

Beliau meluruskan paham tasawuf dan ilmu kalam yang seringkali dipahami secara menyimpang. Pasalnya, banyak guru tasawuf yang hanya mengacu pada hal batin semata. Maka beliau pun hadir meluruskan ilmu tasawuf yang bena

Melihat kefaqihannya, banyak pemerintah setempat yang berkeinginan menjadikan beliau sebagai pemberi fatwa atau mufti. Ia pernah ditawari jabatan mufti dari sultan Kerajaan Johor, namun ia menolaknya. Saat berkunjung ke Betawi, Syekh juga diminta menjadi mufti namun lagi-lagi beliau menolaknya.

Baru setelah tawaran datang dari Kerajaan Indragiri Riau, beliau menerimanya. Itupun setelah pihak kerajaan terus menerus memohon kesediaannya. Maka diterimalah jabatan tersebut, namun dengan syarat tanpa mendapat bayaran darinya. Beliau menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri sejak tahun 1919 hingga 1939 yang berkantor di kawasan Rengat.

Selama hidupnya, Syekh banyak menghasilkan karya bermutu. Sedikitnya tercatat 20 buah karya kitab yang ia hasilkan. Tak hanya buku agama, namun ia pun menulis banyak karya sastra. Syekh memang dikenal sebagai ulama, mufti, sekaligus sebagai sastrawan dan pujangga.

Salah satu kitab beliau yang populer yakni Risalah 'Amal Ma'rifah. Diselesaikan pada tahun 1332, kitab tersebut disusun beliau karena minimnya rujukan tasawuf yang mumpuni bagi para alim ulama di masa itu. Maka kitab tasawuf itu pun lahir menjadi rujukan para penuntut ilmu, diajarkan para ulama dan guru agama di banyak majelis dan sekolah. Pada saat itu, kitab beliaulah yang relevan dalam ilmu tasawuf.

Adapun sebagai pujangga, karya sastra beliau yang terkenal terdapat dalam "Syair Ibarat Kabar Kiamat". Buku yang berisi kumpulan syair tersebut diterbitkan oleh Ahmadiyyah Press Singapura pada tahun 1915.

Dalam menulis sastra, Syekh memang beraliran religi. Karya-karya lain beliu yang populer pun terhitung banyak, diantaranya "Fath Al-Alim fi Tartib Al-Ta'lim" tentang adab menuntut ilmu, "Majmu' al Ayah wa al Hadist fi fada-il al ilmi wa al 'ulama wa al Muta'allimin wa al Mustami'in" yang terbit di Singapura, "Bai`Al-Hayawah li Al-Kafirin" berisi fikih perdagangan, dan karya lain yang sangat populer saat itu.

Namun sayangnya, sekian banyak karya syekh saat ini sulit didapat. Pasalnya, banyak karya beliau yang terbakar saat terjadi agresi militer Belanda di nusantara.

Begitu banyak kiprah yang ia lakukan dalam dakwah di nusantara, khususnya di Kalimantan dan Melayu. Seluruh usianya beliau habiskan untuk menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu. Setelah banyak hal yang ia lakukan untuk umat, sang Tuan Guru mendapati ajalnya. Beliau meninggal di Sapat, Indragiri Hilir, pada 10 Maret 1930 di usia 72 tahun.

Meski jasadnya telah terpendam bumi, namanya masih selalu dikenang. Masjid yang ia dirikn saat ini masih tegak berdiri. Pemikirannya dan ajaran tasawufnya masih menjadi perhatian untuk dipelajari. Beliau dimakamkan di dekat masjid yang ia dirikan untuk madrasah gratis para penuntut ilmu. Hingga kini, makam beliau selalu ramai dikunjungi muslimin tak hanya etnis Banjar ataupun etnis Melayu saja, namun muslimin nusantara.

Sumber : REPUBLIKA,Oleh Afriza Hanifa
 

KH. Maksum Jauhari Lirboyo Kediri Jawa Timur


Cerita tentang seorang kiai bukan saja jago mengaji ayat Alquran tetapi juga sakti bak pendekar silat, sungguh, bukanlah isapan jempol atau semata kisah sinetron dan film.

 Bukti itu bisa dilihat saat kelompok musik Kantata Takwa Samsara menggelar konsernya di Parkir Timur, Senayan, Senin malam, 6 Juli 1998.Primadona grup musik yang dimotori pengusaha Setiawan Djody ini adalah Iwan Fals, yang kerap melantunkan syair lagu yang penuh muatan kritik sosial. Buktinya, massa penonton yang beringas itu kemudian merangsek ke atas panggung dan menyeret-nyeret , sebetulnya berebut menyalami dan memeluk Iwan, sehingga bekas pengamen jalanan itu pun kerepotan karena ternyata dia pun tak mampu meredam keberingasan massa itu. Apalagi massa lainnya kemudian juga melempar berbagai benda yang ada di sekitar mereka: botol plastik, kaleng minuman, dan lain-lain. 

Di saat yang gawat itulah muncul KH Maksum Jauhari, kiai Nahdatul Ulama dari Kediri, Jawa Timur, yang sehari sebelumnya mengikutiistigotsah kubro bersama para nahdliyin di tempat yang sama. Dengan sekali sentakan tangannya, berbagai benda tadi jatuh ke tanah sebelum sempat menyentuh Iwan dan kawan-kawannya di panggung: Setiawan Djody, Sawung Jabo, Yockie Suryoprayogo, penyair Rendra, dan lain-lain. Bukan hanya itu, massa yang kain brutal itu pun terjengkang ke tanah bak dihempas sabetan topan. Dan, sungguh, semuanya bukanlah adegan film yang penuh trik macam yang diperankan Jet Li dalam berbagai sekuel Once Upon Time in China itu.

Sesungguhnya, kiai nyentrik, karena suka berpakaian "semau gue"ini tidak berencana mengeluarkan aji-aji kesaktiannya. "Aku tahu, risikonya berat," kilah pengasuh pondok pesantren di Lirboyo, Kediri, ini dalam dialek Jawa Timur yang kental.
Hanya karena dia ngenes melihat Iwan yang ditarik-tarik massa hingga tidak berdaya itu, maka dengan terpaksa dia keluarkan ilmu tenaga dalamnya: tanpa menyentuh, orang-orang pun terjungkal. "Mana aku tega mendiamkan orang-orang mengusik Iwan di depan mataku sendiri. Padahal aku tahu pasti, Iwan berusaha menenangkan penggemarnya. Eh, mereka malah nekat, nggak peduli dan terus memaksa Iwan," kisahnya.

Sejak awal kerusuhan sebisa mungkin Gus Maksum mencoba menenangkan massa. Dibujuknya massa agar ikut melafalkan shalawat. Karena bujukannya tidak digubris, dan massa terus merangsek, Pak Kiai berteriak lantang, "Silakan maju, kalau berani! Aku juga wong Arek yang bisa memecahkan kepala kalian!"
Ucapan itu mungkin tak terdengar  dianggap angin lewat. Massa tambah beringas dan terkesan balik menantang. Maka, ya… begitu itulah, tenaga dalamlah yang lantas bicara.
Menurut Pak Kiai yang berambut gondrong ini, sebetulnya dia pantang mengeluarkan ilmunya. Katanya, itu sama saja dengan melanggar kesepakatannya dengan gurunya. "Teapi karena waktunya terdesak, masa aku pasrah. Ya, itung-itung bela diri," ucapnya sambil tertawa dan mengelus-elus jenggotnya yang panjang. Dia mengaku, esoknya badannya menjadi pegal. "Mungkin aku juga kualat, karena seharusnya tak perlu mengeluarkan jurus jitu," sambungnya terkekeh.

Bukan sekarang ini saja dia mengeluarkan rapalannnya. Dua tahun sebelumnya, saat pesantrennya disatroni orang yang mencurigakan, orang yang menyatroni itu itu pun terpental karena sabetan tangan KH Maksum.

Eh, omong-omong, siapa sih guru Pak Kiai? Awalnya, dia menggeleng, sebelum kemudian berbisik perlahan, "Guruku Gusti Allah."
Sumber :tempo

Syeikh Jumadil Kubro

Syeikh Jumadil Kubro adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam, terutama dalam tradisi sufisme. Ia dikenal sebagai seorang wali yang memiliki karamah (kemampuan luar biasa) dan pengikut yang banyak. Berikut adalah kisah singkat mengenai beliau:

Syeikh Jumadil Kubro lahir di sebuah desa kecil di wilayah yang kini dikenal sebagai Irak. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan kecerdasan dan ketertarikan yang besar terhadap ilmu pengetahuan, khususnya agama. Setelah mendapatkan pendidikan dasar dari ayahnya yang juga seorang ulama, ia memutuskan untuk mengembara ke berbagai tempat untuk mencari ilmu.

Selama perjalanan tersebut, Syeikh Jumadil Kubro bertemu dengan banyak guru, termasuk beberapa ulama dan sufi terkenal pada masa itu. Ia belajar tentang tasawuf, akhlak, dan ilmu agama lainnya. Keahliannya dalam berdoa dan melakukan zikir membuatnya dikenal sebagai seorang yang dekat dengan Allah.

Setelah menyelesaikan pencariannya, Syeikh Jumadil Kubro menetap di sebuah desa yang sunyi. Di sana, ia mendirikan sebuah pesantren yang menjadi tempat belajar bagi para murid yang datang dari berbagai penjuru. Ia mengajarkan nilai-nilai keislaman, keteladanan, dan pentingnya hubungan yang baik dengan Tuhan.

Karamah Syeikh Jumadil Kubro mulai dikenal luas ketika ia mampu menyembuhkan orang-orang yang sakit hanya dengan doanya. Suatu ketika, seorang raja yang mendengar tentang kemampuannya datang untuk meminta pertolongan. Sang raja mengalami masalah yang serius, dan Syeikh Jumadil Kubro dengan penuh keyakinan mengucapkan doa, lalu masalah tersebut teratasi dengan sendirinya.

Beliau dikenal sangat rendah hati, meskipun banyak pengikutnya yang datang untuk belajar. Syeikh Jumadil Kubro selalu mengingatkan mereka untuk tidak terjebak dalam pujian dan kesombongan. Ia mengajarkan bahwa yang terpenting adalah selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah dan akhlak yang baik.

Kisah hidup Syeikh Jumadil Kubro menjadi inspirasi bagi banyak orang, dan ajarannya masih dikenang hingga saat ini. Beliau meninggal dengan tenang dan dikebumikan di tempat yang kini menjadi lokasi ziarah bagi para peziarah yang ingin menghormati dan memohon berkahnya.

Kisah Syeikh Jumadil Kubro menggambarkan dedikasi seorang wali dalam menyebarkan ilmu dan mengamalkan ajaran Islam, serta pentingnya sifat tawadhu dan kerendahan hati dalam perjalanan spiritual.

KH. Ahmad Dahlan


Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta pada 1 Agustus 1868 lalu wafat di Yogyakarta pada 23 Februari 1923. Beliau adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.

Nama kecil K.H. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991).

 Adapun silsilahnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadla bin Kyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana 'Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6). 

 Pada umur 15 tahun, beliau pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. 

 Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, beliau sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, K.H. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta. Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991).

 Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9). Beliau dimakamkan di KarangKajen, Yogyakarta. Pengalaman Organisasi Disamping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga tidak lupa akan tugasnya sebagai pribadi yang mempunyai tanggung jawab pada keluarganya. 

Disamping itu, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi entrepreneurship yang cukup menggejala di masyarakat. Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits. 

Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 Nopember 1912. Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan. Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. la dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kyai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut. Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. 

Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Itulah sebabnya kegiatannya dibatasi. Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari dan Imogiri dan lain-Iain tempat telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk mengatasinya, maka KH. Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Ujung Pandang dengan nama Al-Munir, di Garut dengan nama Ahmadiyah. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama'ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam.

 Perkumpulan-perkumpulan dan Jama'ah-jama'ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang diantaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta'awanu alal birri, Ta'ruf bima kanu wal- Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi (Kutojo dan Safwan, 1991: 33). Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya.

 Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

 Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921. Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan dua belas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah AIgemeene Vergadering (persidangan umum). 

 Menjadi Pahlawan Nasional Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut: 
  1. KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat; 
  2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam;
  3. Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan
  4. Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria. 
 Sumber :facebook.com/kh.ahmad.dahlan

nasab dan keluarga imam syafi'i


Imam syafi'i lahir dari keluarga yang sangat mulia baik dari ayah atau ibunya.
Silsilah dari ayahnya ialah : Al imam abi muhammad bin idris bin al abas bin utsman bin syafi'i bin sa'ib bin abdullah bin abdul yuazid bin hasyim bin al muthollib bin abdul manaf bin qushoyyi al qurosyiyyi al mutholiby al syafi'i al hijaziyi al makiyyi.
Sedangkan silsilah dari ibunya ialah : Muhammad bin fatimah binti abdillah bin al hasan bin ali bin abi tholib.

Ali Yafie


Lahir di Donggala, Sulawesi Tengah, pada 1928. Pendidikan pertamanya adalah sekolah dasar umum, yang dilanjutkan dengan pendidikan madrasah di Sulawesi Selatan (di Madrasah As'adiyah yang terkenal di Singkang). Spesialisasinya adalah fiqh dan dikenal luas sebagai seorang ahli yang canggih dalam bidang ini, bacaannya lebih luas daripada yang lain. Dia mengabdikan diri sebagai hakim di pengadilan agama Ujung Pandang sejak 1959 sampai 1962, kemudian inspektorat pengadilan agama Indonesia Timur (1962-65). Sejak 1965 hingga 1971 dia menjadi dekan di fakultas Ushuluddin IAIN Ujung Pandang, dan aktif di NU tingkat propinsi. Dia mulai aktif di tingkat nasional pada 1971. 

Pada muktamar NU 1971 di Surabaya dia terpilih menjadi Rois Syuriyah, dan setelah pemilu diangkat menjadi anggota DPR. Dia tetap menjadi anggota DPR sampai 1987, ketika Naro, tidak lagi memasukkannya dalam daftar calon. Sejak itu dia mengajar di berbagai lembaga pendidikan tinggi Islam di Jakarta, dan semakin aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pada muktamar NU di semarang (1979) dan Situbondo (1984), dia terpilih kembali sehagai Rois, dan di muktamar Krapyak (1989) sebagai wakil Rois Aam. Setelah Kiai Achmad Siddiq meninggal dunia pada 1991 dia bertindak sebagai Rois Aam. tetapi setelah terlibat konflik dengan Abdurrahman Wahid dia menarik diri dari PBNU.

KH. Ali Ma'shum (1915-1989)

Lahir di Lasem sebagai putra Kiai Ma'shum yang terkenal itu. Belajar delapan tahun di pesantren Tremas (Pacitan, Jawa Timur) dan kembali ke Lasem untuk mengajar. Menikah dengan putri Kiai Munawwir dari Krapyak, Yogyakarta, seorang teman ayahnya.
 Kemudian menghabiskan waktu dua tahun di Mekkah (1938-40). Ketika bapak mertuanya meningal pada 1942, Kiai Ali diminta menggantikannya sebagai pimpinan pesantren. Dia mengembangkannya menjadi sebuah pesantren sangat terkenal di Jawa Timur. Keterlibatan aktif Kiai Ali di NU dimulai agak terlambat dan tetap sangat bersahaja. Pada akhir l96O-an, dia menjadi ketua Syuriyah cabang Yogyakarta, posisi yang hampir tidak dapat dito- laknya karena dia secara umum diakui sebagai ulama yang paling berilmu di wilayah tersebut. Walaupm dia tetap menghindar agar tidak menjadi pusat perhatian, pada sekitar 1980 dia menjadi salah seorang ulama senior yang paling dihormati dan, karena sama sekali tidak berambisi, menjadi figur kompromi yang ideal untuk menggantikan Kiai Bisri Syansuri sebagai Rois Aam pada 1982. Setelab berhenti menjabat Rois Aam pada 1984, dia kembali berusaha sedapat mungkin agar tidak menonjolkan diri. Penyelenggaraan Muktamar NU ke-28 di pesantrennya merupakan sebuah tanda penghormatan yang diberikan kemudian. Beberapa minggu setelah muktamar, dia meninggal dunia. (Mukhdlor 1989).

SAHABAT NABI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

  A. Nama dan Asal Usul Abu Bakar Ash-Shiddiq Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan sanga...