Syeikh Jumadil Kubro

    Syeikh Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yang hidup sebelum walisongo. Seorang penyebar Islam pertama yang mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit.

 Syeikh Jumadil Kubro bernama lengkap Syeikh Jamaluddin al-Husain al-Akbar. Beliau adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad SAW dari garis Syyidah Fatimah Az Zahrah al-Battul. Ayahnya bernama Syeikh Jalal yang karena kemuliaan akhlaknya mampu meredam pertikaian Raja Campa dengan rakyatnya. Sehingga, Syeikh Jalal diangkat sebagai raja dan penguasa yang memimpin Negara Campa.

    Syeikh Jamaluddin tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayahnya sendiri. Setelah dewasa, beliau mengembara ke negeri neneknya di Hadramaut. Di sana beliau belajar dan mendalami beragam ilmu dari beberapa ulama yang terkenal di zamannya. Bahkan keilmuan yang beliau pelajari meliputi Ilmu Syari’ah dan Tasawwuf, di samping ilmu-ilmu yang lain.

Selanjutnya, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam rangka mencari ilmu dan terus beribadah ke Mekkah dan Madinah. Tujuannya adalah mendalami beragam keilmuan, terutama ilmu Islam yang sangat variatif. Setelah sekian lama belajar dari berbagai ulama terkemuka, kemudian beliau pergi menuju Gujarat untuk berdakwah dengan jalur perdagangan. Melalui jaringan perdagangan itulah beliau bergumul dengan ulama lainnya yang juga menyebarkan Islam di Jawa.
Kemudian beliau dakwah bersama para ulama’ termasuk para putra-putri dan santrinya menuju tanah Jawa. Mereka menggunakan tiga kendaraan laut, sekaligus terbagi dalam tiga kelompok dakwah. Kelompok pertama dipimpin Syeikh Jumadil Kubro memasuki tanah Jawa melalui Semarang dan singgah beberapa waktu di Demak. Selanjutnya perjalanan menuju Majapahit dan berdiam di sebuah desa kecil bernama Trowulan yang berada di dekat kerajaan Majapahit. Kemudian jamaah tersebut membangun sejumlah padepokan untuk mendidik dan mengajarkan beragam ilmu kepada siapa saja yang hendak mendalami ilmu keislaman.

Kelompok kedua, terdapat cucunya yang bernama al-Imam Ja’far Ibrahim Ibn Barkat Zainal Abidin dibantu saudaranya yakni MalikIbrahim menuju kota Gresik. Dan kelompok ketiga adalah jamaah yang dipimpin putranya yakni al-Imam al-Qutb Sayyid Ibrahim Asmoro Qondy menuju Tuban. Namanya masyhur dengan sebutan “Pandhito Ratu” karena beliau memperoleh Ilmu Kasyf (transparansi dan keserba jelasan ilmu/ilmu yang sulit dipahami orang awam, beliau diberi kelebihan memahaminya).

Perjalanan dakwah Syeikh Jumadil Kubro berakhir di Trowulan, Mojokerto. Beliau wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H. diperkirakan hidup di antara dua Raja Majapahit (awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk). Bermula dari usul yang diajukan Syeikh Jumadil Kubro kepada penguasa Islam di Turki (Sultan Muhammad I) untuk menyebarkan Agama Islam si wilayah Kerajaan Majapahit. Pada saat itu wilayah Majapahit sangat kuat pengaruh Agama Hindu di samping keyakinan masyarakat pada arwah leluhur dan benda-benda suci. Keberadaannya di tanah Majapahit hingga ajal menjelang menunjukkan perjuangan Sayyid Jumadil Kubro untuk menegakkan Agama Islam melawan penguasa Majapahit sangatlah besar.

Karena pengaruh beliau dalam memberikan pencerahan bekehidupan yang berperadaban, Syeikh Jumadil Kubro dikenal dekat dengan pejabat Kerajaan Majapahit. Cara dakwah yang pelan tapi pasti, menjadikan beliau amat disegani. Tak heran, bila pemakaman beliau berada di antara beberapa pejabat kerajaan di antaranya adalah makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Kenconowungu, Anjasmoro, Sunana Ngudung (ayah Sunan Kudus), dan beberapa patih dan senopati yang dimakamkan bersamanya.

Lokasi kompleks makam ini berdekatan dengan Pendopo Agung Majapahit dan Pusat Informasi Majapahit yang pembangunannya menuai kontroversi. Hal itu karena proses pembangunannya diindikasikan merusak situs-situs peninggalan Majapahit yang diyakini hingga kini masih terkubur di dalam tanah kawasan Trowulan. Sekali dayung, maka semua tujuan napak tilas sejarah Majapahit bisa terpenuhi.

Silsilah::
Sayyid Jumadil Kubro bin Sayyid Zainul Khusen bin Sayyid Zainul Kubro bin Sayyid Zainul Alam bin Sayyid Zainal Zainal Abidin bin Sayyid Khusen bin Siti Fatimah binti Rasulullah Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushoyi bin Kilab bin Murota bin Kaáb bin Luayyi bin Gholib bin Fihri bin Maliki bin Nadri bin Kinana bin Khuzaimah bin Mudrika bin Ilyas bin Mudhoro bin Nizar bin Maad bin Adnan bin Uddi bin Udada bin Mukowami bin Nakhuro bin Tairokhi bin Ya’rub bin Yasjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim bin Tarokha bin Nakhuro bin Syarukho bin Arghu bin Falakho bin Abaro bin Syalakho bin Arfakhsan bin Sami bin Nukh bin Lamaka bin Mutawaslikh bin Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qoinani bin Yanasy bin Syits bin Adam Alaihi Sholatuwassalam.

1. Sayyid Jumadil Kubro dikaruniai tiga putra. Adapun ketiga putra beliau itu adalah :
Sayyid Ibrahim (Ibrahim As-Samarkhandi)
Maulana Iskha’
Sunan Aspadi yang dikawin oleh Raja Rum

2. Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Candrawulan Binti Raja Kuntoro Chempa mempunyai 2 orang anak :
Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel)
Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandhito) R. Santri

3. Maulana Iskhak Bin Jumadil Kubro menikah dengan Raden Ayu Retno Kusumo Binti Raja Mundiwangi Pajajaran mempunyai 2 orang anak :
Sayyid Abdul Qodir atau disebut Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
Dewi Saroh (Istri Sunan Kalijogo)

4. Maulana Iskhak Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sekardadu Binti Prabu Minak Sembuyu Blambangan mempunyai seorang anak bernama : Raden Paku atau (Sunan Giri)

5. Sunan Aspadi tidak diketahui karena berada di Kerajaan Rum

6. Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) Bin Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Candrawati Binti Ariyotejo Adipati Tuban mempunyai 5 orang anak :
Siti Sariáh (Istri Haji Usman) Sunan Manyuran
Siti Mutmainnah (Istri Sayyid Muhsin)
Siti Khofsoh (Istri Sayyid Ahmad)
Sayyid Maqdum Ibrohim (Sunan Bonang)
Raden Qosim (Sunan Drajat)

7. Sayyid Ali Rahmatullah juga menikah dengan Dewi Karimah Binti Ki Bang Kuning, mempunyai 2 orang anak :
Dewi Murtasimah (Istri Raden Patah)
Dewi Murtasiyah (Istri Sunan Giri)

8. Sayyid Ali Murtadho (Raja Pandhito) Raden Santri Bin Sayyid Ibrahim As-Samarkhandi Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Raden Ayu Maduretno Binti Prabu Ariyo Bariben mempunyai 3 orang anak :
Haji Usman (Sunan Manyuran) Mandalika
Usman Haji (Sunan Ngudung)
Nyai Gede Tundo (Istri Sunan Kertoyoso)

9. Sayyid Abdul Qodir atau disebut Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) Bin Maulana Iskhak Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Haisah Binti Raden Jakender (Sunan Malaka) Madura mempunyai 2 orang anak :
Raden Abdul Jalil disebut Syeikh Siti Jenar tidak mau beristri
Dewi Sofiyah (Istri Raden Qosim) Sunan Drajat

10. Sayyid Maqdum Ibrahim (Sunan Bonang) Bin Raden Rahmad (Sunan Ampel) Bin sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Hiroh Binti Raden Jakender (juga mertuanya Syarif Hidayatullah) mempunyai seorang anak bernama : Dewi Rukhilah (Istri Sunan Kudus).

11. Raden Qosim (Sunan Drajat) Bin Raden Rahmad bin sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sofiyah Binti Sunan Cirebon mempunyai 3 orang anak :
Pangeran Trenggono
Pangeran Sandi
Dewi Rouyan

12. Haji Usman (Sunan Manyuran) Bin Raja Pandhito Bin sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Siti Sariah Binti Sunan Ampel mempunyai seorang anak bernama : Amir Khasan

13. Usman Haji (Sunan Ngudung) Bin Raja Pandhito Bin Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Sari Binti Tumenggung Wilatikta mempunyai 2 orang anak :
Dewi Sujinah (Istri Sunan Muria)
Amir Haji (Sayyid Ja’far Sodiq) Sunan Kudus

14. Dewi Murtasimah Binti Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Jumadil Kubro dinikah oleh Raden Patah Bin Kertawijaya (Brawijaya) mempunyai 5 orang anak :
Pangeran Purbo
Pangeran Trenggono
Raden Bagos Sedokali
Raden Kenduruhan
Dewi Ratih

15. Nyai Gede Tundo Binti Raja Pandito Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah oleh Khalifah Khusen (Sunan Kertoyoso) Madura mempunyai seorang anak bernama : Khalifah Sughro.

16. Siti Mutmainah Binti Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah oleh Sayyid Muhsin (dari Yaman) beliau adalah murid Sunan Ampel atas perkawinannya mempunyai seorang anak bernama : Amir Khamzah.

17. Siti Khofsoh Binti Sunan Ampel Bin sayyid Ibrahim bin Sayyid Jumadil Kubro dinikah Sayyid Ahmad (Sunan Malaka) beliau adalah murid Sunan Ampel, atas perkawinannya tidak mempunyai anak.
18. Raden Paku (Sunan Giri) Bin Maulana Ishak Bin Sayyid Jumadil Kubro kelahiran Blambangan menikah dengan Dewi Murtasiyah Binti Sunan Ampel mempunyai 4 orang anak :
Raden Prabu
Raden Milyani
Raden Kuwo
Dewi Retnowati

19. Raden Sahid (Sunan Kalijogo) Bin Raden Sahur Tumenggung Wilatikta. Beliau adalah murid Sunan Ampel, menikah dengan Dewi Saroh Binti Maulana Ishak Bin Sayyid Jumadil Kubro, mempunyai 3 orang anak :
Raden Said (Sunan Muria)
Dewi Rukoiyah
Dewi Sofiyah

20. Raden Said (Sunan Muria) Bin Raden Sahid (Sunan Kalijogo) menikah dengan Dewi Sujinah Binti Usman Haji (Sunan Ngudung) Bin Raja Pandhito Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro mempunyai seorang putra bernama : Pangeran Santri (Sunan Kadilangu).

21. Raden Amir Haji atau disebut Sayyid Ja’far Sodiq (Sunan Kudus) Bin Usman Haji (sunan Ngudung) Bin Raja Pandhito Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro menikah dengan Dewi Rukhila Binti Sayyid Maqdum Ibrahim (Sunan Bonang) Bin Sunan Ampel Bin Sayyid Ibrahim Bin Sayyid Jumadil Kubro mempunyai seorang anak bernama : Raden Amir Khasan.

22. Raden Sahur Tumenggung Wilatikta (Tuban) menikah dengan Dewi Nawang Arum Binti Ki Ageng Tarup mempunyai 2 orang anak :
Dewi Sari (Istri Sunan Ngudung)
Raden Sahid (Sunan Kalijogo)

23. Raden Jakender (Sunan Malaka) Madura menikah dengan Dewi Nawang Sari Binti Ki Ageng Tarup mempunyai 2 orang anak :
Dewi Hisah (Istri Sunan Gunung Jati)
Dewi Hiroh (Istri Sunan Bonang)

24. Prabu Kertawijaya (Brawijaya I) mempunyai istri banyak dan anaknya juga banyak sekali, namun yang terkenal dari istri Chempa mempunyai 3 orang anak :
Prabu Hadi (Istri Adipati Doyoningrat)
Lembu Peteng Madura
Raden Kukur
Dari istri Ponorogo mempunyai anak :
Betoro Katong (Ponorogo)
Ariyodamar (Adipati Palembang)
Dari istri Chempo yang lain mempunyai anak bernama : Raden Husen (Raden Patah) yang mendirikan kerajaan Islam Demak.
Dari istri dari Bakilen mempunyai anak bernama : Jaran Panoleh di Sampang Madura

Sumber :sejarah.kompasiana

Biografi Presiden Soekarno

Soekarno, yang memiliki nama lengkap Ir. Soekarno, lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur, dan meninggal pada 21 Juni 1970 di Jakarta. Ia adalah Presiden pertama Republik Indonesia dan salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Soekarno dikenal sebagai pemimpin revolusioner yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda, serta sebagai penggagas ideologi nasionalisme yang meliputi Pancasila.

Soekarno berasal dari keluarga dengan latar belakang pendidikan yang cukup baik. Ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru, sedangkan ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, berasal dari Bali. Soekarno menempuh pendidikan di berbagai sekolah di Indonesia, dan kemudian melanjutkan studinya di Technische Hoge School (sekarang Institut Teknologi Bandung) untuk mempelajari teknik sipil. Di sinilah ia memperoleh gelar insinyur, yang membuatnya dikenal dengan sebutan "Ir." di depan namanya.

Soekarno mulai terlibat dalam dunia politik sejak masa mudanya. Pada 1927, ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI), sebuah partai yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Melalui orasi dan gerakan-gerakan politiknya, Soekarno berhasil menarik perhatian masyarakat dan menjadi pemimpin yang sangat dihormati oleh rakyat Indonesia.

Pada 17 Agustus 1945, setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, Soekarno bersama dengan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Soekarno menjadi Presiden pertama Republik Indonesia dan Hatta menjadi Wakil Presiden.

Soekarno memimpin Indonesia dalam masa yang sangat penuh tantangan. Pada periode awal kemerdekaan, ia menghadapi ancaman dari Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. Namun, dengan perjuangan diplomasi yang gigih, Soekarno berhasil memperoleh pengakuan kemerdekaan Indonesia pada Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949.

Selain itu, Soekarno juga mengembangkan kebijakan luar negeri yang disebut "Konfrontasi" dengan Malaysia dan memperkenalkan ideologi "Nasakom" (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) yang bertujuan untuk menyatukan berbagai kelompok di Indonesia. Soekarno dikenal dengan gaya kepemimpinan yang karismatik dan mampu menginspirasi rakyat Indonesia untuk terus berjuang membangun negara yang merdeka dan berdaulat.

Namun, masa pemerintahan Soekarno juga penuh dengan ketegangan politik dan ekonomi. Pada 1965, terjadi peristiwa Gerakan 30 September (G30S), yang berujung pada krisis politik yang besar. Sebagai akibatnya, Soekarno kehilangan dukungan dari militer dan politikus, dan akhirnya, pada tahun 1967, Soekarno digantikan oleh Soeharto, yang menjadi Presiden kedua Indonesia.

Meskipun Soekarno mengakhiri masa jabatannya dengan kontroversi, pengaruhnya dalam pembentukan negara Indonesia sangat besar. Ia adalah tokoh yang memperkenalkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, yang tetap menjadi panduan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara hingga saat ini.

Soekarno juga diingat sebagai tokoh yang mempromosikan prinsip-prinsip non-blok dalam politik internasional, di mana Indonesia berperan penting dalam Gerakan Non-Blok yang bertujuan untuk menghindari keterlibatan dalam konflik besar antara Blok Barat dan Blok Timur.

Soekarno meninggal dunia pada 21 Juni 1970 setelah lama menderita sakit. Ia dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sang proklamator.

Soekarno tetap menjadi salah satu tokoh besar dalam sejarah Indonesia. Keberaniannya, idealismenya, dan kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan membuatnya dihormati dan dikenang sebagai salah satu bapak bangsa Indonesia.

Kisah Tentang Miras dan Narkoba

Ibnu Umar ra. berkata : Abu Bakar ra,bersama Umar ra dan beberapa orang sahabat berkumpul membicarakan apakah dosa yang terbesar,namun tidak ada kata sepakat.mereka mengutusku pergi dan bertanya kepada Abdullah bin Amr ra.

Abdullah bin Amr menjawab : "Sesungguhnya dosa yang terbesar adalah minum khamr"

Ketika aku kembali dan memberitahu.Mereka menolak dan langsung mendatangi Abdullah bin Amr,maka diberitahu bahwa Rasululah saw.Bersabda :
"Dahulu ada seorang raja dari bani Isra'il menangkap seseorang,lalu raja menyuruh orang tersebut memilih salah satu dari beberapa pilihan "Minum khamr,membunuh anak,berzina,makan daging babi,atau di bunuh",maka dia memilih minum khamr karena dianggap paling ringan,dan ternyata setelah ia mabuk,maka tanpa disuruh semua perbuatan itu dilakukannya"( HR.Thabrani dan Hakim )
 

Biografi Ustadz Jefri Al-Buchori

Ustadz Jefri Al Buchori, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Uje, adalah seorang penceramah, pendakwah, dan selebriti Indonesia yang sangat populer. Lahir pada 12 April 1973 di Jakarta, Uje dikenal sebagai sosok yang menginspirasi banyak orang dengan dakwahnya yang penuh dengan semangat dan kesederhanaan. Meskipun terkenal karena kehidupan pribadinya yang penuh liku, beliau berhasil menunjukkan bahwa seseorang bisa berubah dan menjalani hidup dengan cara yang lebih baik.

Jefri Al Buchori dibesarkan dalam keluarga yang cukup religius. Ayahnya, Al Buchori, adalah seorang keturunan Arab yang juga seorang pengusaha. Sejak kecil, Uje menunjukkan minat yang besar terhadap dunia seni dan hiburan, terlebih karena beliau berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang di bidang seni. Namun, meskipun terjun ke dunia hiburan sejak muda, Jefri tidak pernah jauh dari pengaruh agama yang diberikan oleh keluarganya.

Masa muda Uje diwarnai dengan pergaulan yang cukup bebas. Beliau sempat aktif dalam dunia hiburan sebagai seorang musisi dan penyanyi, namun kehidupan ini tidak membuatnya merasa puas dan merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ia merasakan ada kehampaan meski tampak sukses di dunia hiburan.

Pada tahun 2000-an, Jefri Al Buchori mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Setelah terjerumus dalam gaya hidup yang kurang sehat, ia merasa adanya keinginan untuk kembali ke jalan yang benar. Pada tahun 2002, Uje memutuskan untuk mendalami agama Islam lebih serius. Ia mulai mengikuti kajian-kajian agama dan mempelajari ilmu agama secara mendalam.

Perubahan hidupnya ini memicu semangat untuk berdakwah. Uje kemudian memutuskan untuk menanggalkan kehidupannya yang penuh dengan kemewahan dunia hiburan dan mulai berfokus pada dakwah dan ajaran Islam. Sebagai seorang penceramah, Uje dikenal dengan cara penyampaian dakwah yang ringan, humoris, namun tetap mendalam dan menyentuh hati banyak orang.

Ustadz Jefri Al Buchori mulai dikenal luas setelah ia sering tampil dalam berbagai acara televisi yang mengangkat tema keagamaan. Ia dikenal memiliki gaya ceramah yang tidak kaku dan mampu menyampaikan pesan-pesan agama dengan cara yang mudah dipahami, bahkan oleh kalangan muda. Ia mengajarkan tentang pentingnya ketaatan pada Allah, bagaimana menjalani hidup yang lebih baik, serta bagaimana menghadapi tantangan hidup dengan kesabaran dan keikhlasan.

Uje juga menjadi salah satu penceramah yang sering mengisi acara-acara keagamaan di masjid-masjid dan berbagai tempat lainnya. Beliau tak jarang menyentuh hati banyak orang melalui ceramah-ceramah yang menggugah jiwa, banyak yang merasa terbantu dan terinspirasi untuk berubah menjadi lebih baik.

Selain berdakwah, Uje juga dikenal sebagai seorang selebriti yang dekat dengan masyarakat. Meskipun hidup sebagai seorang selebriti, beliau selalu berusaha untuk menjaga kesederhanaan hidupnya dan selalu menekankan pentingnya hidup dengan penuh rasa syukur. Uje memiliki banyak penggemar dari berbagai kalangan, terutama kalangan muda, karena ia mampu menggabungkan dunia hiburan dengan dakwah secara harmonis.

Ustadz Jefri Al Buchori menikah dengan seorang wanita bernama Pipik Dian Irawati pada tahun 1999. Dari pernikahannya, Uje dikaruniai beberapa anak yang juga menjadi bagian penting dalam hidupnya. Beliau sering berbagi cerita tentang keluarga dan kehidupan rumah tangganya yang sederhana namun penuh dengan kebahagiaan.

Kehidupan Uje harus berakhir tragis ketika ia meninggal dunia pada 26 April 2013, setelah mengalami kecelakaan sepeda motor di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Kehilangan Uje menjadi duka mendalam bagi banyak orang, terutama bagi para pengikut dakwahnya. Sebelum meninggal, Uje sempat menyelesaikan berbagai kegiatan dakwah dan meninggalkan banyak karya ceramah yang tetap dikenang hingga kini.

Kepergian Uje meninggalkan banyak kenangan indah dan pelajaran hidup. Meskipun kehidupannya singkat, namun pengaruhnya dalam dunia dakwah dan di kalangan masyarakat sangat besar. Uje tetap dikenang sebagai sosok yang menginspirasi banyak orang untuk menjalani hidup lebih baik, berpegang pada ajaran Islam, dan selalu bersyukur dalam menghadapi segala cobaan hidup.

Ustadz Jefri Al Buchori tidak hanya meninggalkan kenangan bagi penggemarnya, tetapi juga meninggalkan warisan dalam dunia dakwah. Ceramah-ceramahnya yang penuh dengan hikmah dan kebaikan terus menginspirasi banyak orang hingga sekarang. Melalui media sosial dan rekaman ceramahnya, banyak orang yang terus mengambil manfaat dari pesan-pesan yang beliau sampaikan.

Uje telah menjadi simbol perubahan bagi banyak orang, khususnya para generasi muda. Melalui dakwahnya yang penuh kasih sayang, ketulusan, dan humor, Uje tetap menjadi salah satu tokoh yang paling dikenang dalam sejarah dakwah di Indonesia.

Ulama Indonesia yang Mengajar di Masjidil Haram


Sebuah kebanggaan bagi muslimin Indonesia karena pernah memiliki ulama seperti Tuan Guru Abdurrahman Siddiq Al-Banjari.

Jika ulama pada umumnya belajar ke Arab Saudi, maka beliau justru ulama nusantara yang pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah. Saat kembali ke Nusantara pun, beliau menjadi soko guru yang mengenalkan tasawuf secara benar di tanah Melayu.

Syekh Abdurrahman Siddiq bin Muhammad 'Afif bin Mahmud bin Jamaluddin Al-Banjari, demikian nama lengkapnya. Dilahirkan pada tahun 1857 di Kampung Dalam Pagar Martapura Kalimantan Selatan, nama lahir beliau sebenarnya hanyalah Abdurrahman.

Nama "Siddiq" beliau dapat dari seorang gurunya saat ia belajar di Makkah. Beliau merupakan cicit dari ulama ternama etnis Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Saat baru berusia tiga bulan, ibunda Abdurrahman Siddiq meninggal dunia. Ia tak sempat mendapat asuahan sang ibunda. Ia pun kemudian dirawat kakek dan neneknya. Sang kakek merupakan seorang ulama bernama Mufti H Muhammad Arsyad. Namun baru diusia setahun, sang kakek meninggal. Maka Abdurrahman Siddiq pun tumbuh dewasa hanya bersama neneknya, Ummu Salamah.

Sang nenek merupakan muslimah yang taat beribadah dan faqih beragama. Ia mendidik syaikh dengan kecintaan pada Alquran. Beranjak dewasa, nenek mengirim syekh pada guru-guru agama di kampung halamannya. Ketika dewasa, Syaikh makin giat menuntut ilmu agama.

Beliau melakukan perjalanan menuntut ilmu ke Padang, Sumatra Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan di Padang pada 1882, ia masih haus ilmu. Maka pergilah syekh ke kota kelahirn Islam, Makkah pada tahun 1887.

Di tanah suci, Abdurrahman Siddiq banyak menghadiri majelis ilmu para ulama ternama Saudi. Tak hanya di Makkah, beliau pun giat bergabung di halaqah-halaqah ilmu di Masjid Nabawi di Madinah. Kegiatan tersebut ia lakukan hingga tujuh tahun lamanya. Bahkan Syekh juga sempat menjadi pengajar di Masjidil Haram selama dua tahun sebelum kemudian kembali ke tanah air.

Sepulang dari Saudi, mantaplah ilmu syekh untuk berdakwah di negeri sendiri. Ia kemudian mengabdikan diri untuk berdakwah di Martapura, kemudian pindah ke Indragiri. Ia pun kemudian banyak didatangi para penuntut ilmu, tak hanya dari tanah air, namun juga dari negari tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Beliau bahkan mendirikan sebuah masjid dan madrasah di Indragiri Martapura. Madrasah yang ia buka pun kemudian menjadi tempat para penuntutu ilmu mengambil faedah dari syaikh dengan cuma-cuma. Tak ada iuran sepeser pun yang diminta dari murid-murid madrasahnya. Syekh bergantung pada hasil kebunnya untuk membiayai operasional madrasah.

Syekh Abdurrahman Siddiq, yang juga dipanggil "Tuan Guru" tersebut dikenal sebagai ulama yang amat giat dan aktif. Tak hanya sebagai sufi yang tawadhu, namun juga sastrawan yang membumikan ilmu tasawuf di tanah Melayu. Banyak syair yang telah dihasilkan Syaikh sementara dakwah terus berjalan.

Beliau meluruskan paham tasawuf dan ilmu kalam yang seringkali dipahami secara menyimpang. Pasalnya, banyak guru tasawuf yang hanya mengacu pada hal batin semata. Maka beliau pun hadir meluruskan ilmu tasawuf yang bena

Melihat kefaqihannya, banyak pemerintah setempat yang berkeinginan menjadikan beliau sebagai pemberi fatwa atau mufti. Ia pernah ditawari jabatan mufti dari sultan Kerajaan Johor, namun ia menolaknya. Saat berkunjung ke Betawi, Syekh juga diminta menjadi mufti namun lagi-lagi beliau menolaknya.

Baru setelah tawaran datang dari Kerajaan Indragiri Riau, beliau menerimanya. Itupun setelah pihak kerajaan terus menerus memohon kesediaannya. Maka diterimalah jabatan tersebut, namun dengan syarat tanpa mendapat bayaran darinya. Beliau menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri sejak tahun 1919 hingga 1939 yang berkantor di kawasan Rengat.

Selama hidupnya, Syekh banyak menghasilkan karya bermutu. Sedikitnya tercatat 20 buah karya kitab yang ia hasilkan. Tak hanya buku agama, namun ia pun menulis banyak karya sastra. Syekh memang dikenal sebagai ulama, mufti, sekaligus sebagai sastrawan dan pujangga.

Salah satu kitab beliau yang populer yakni Risalah 'Amal Ma'rifah. Diselesaikan pada tahun 1332, kitab tersebut disusun beliau karena minimnya rujukan tasawuf yang mumpuni bagi para alim ulama di masa itu. Maka kitab tasawuf itu pun lahir menjadi rujukan para penuntut ilmu, diajarkan para ulama dan guru agama di banyak majelis dan sekolah. Pada saat itu, kitab beliaulah yang relevan dalam ilmu tasawuf.

Adapun sebagai pujangga, karya sastra beliau yang terkenal terdapat dalam "Syair Ibarat Kabar Kiamat". Buku yang berisi kumpulan syair tersebut diterbitkan oleh Ahmadiyyah Press Singapura pada tahun 1915.

Dalam menulis sastra, Syekh memang beraliran religi. Karya-karya lain beliu yang populer pun terhitung banyak, diantaranya "Fath Al-Alim fi Tartib Al-Ta'lim" tentang adab menuntut ilmu, "Majmu' al Ayah wa al Hadist fi fada-il al ilmi wa al 'ulama wa al Muta'allimin wa al Mustami'in" yang terbit di Singapura, "Bai`Al-Hayawah li Al-Kafirin" berisi fikih perdagangan, dan karya lain yang sangat populer saat itu.

Namun sayangnya, sekian banyak karya syekh saat ini sulit didapat. Pasalnya, banyak karya beliau yang terbakar saat terjadi agresi militer Belanda di nusantara.

Begitu banyak kiprah yang ia lakukan dalam dakwah di nusantara, khususnya di Kalimantan dan Melayu. Seluruh usianya beliau habiskan untuk menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu. Setelah banyak hal yang ia lakukan untuk umat, sang Tuan Guru mendapati ajalnya. Beliau meninggal di Sapat, Indragiri Hilir, pada 10 Maret 1930 di usia 72 tahun.

Meski jasadnya telah terpendam bumi, namanya masih selalu dikenang. Masjid yang ia dirikn saat ini masih tegak berdiri. Pemikirannya dan ajaran tasawufnya masih menjadi perhatian untuk dipelajari. Beliau dimakamkan di dekat masjid yang ia dirikan untuk madrasah gratis para penuntut ilmu. Hingga kini, makam beliau selalu ramai dikunjungi muslimin tak hanya etnis Banjar ataupun etnis Melayu saja, namun muslimin nusantara.

Sumber : REPUBLIKA,Oleh Afriza Hanifa
 

KH. Maksum Jauhari Lirboyo Kediri Jawa Timur


Cerita tentang seorang kiai bukan saja jago mengaji ayat Alquran tetapi juga sakti bak pendekar silat, sungguh, bukanlah isapan jempol atau semata kisah sinetron dan film.

 Bukti itu bisa dilihat saat kelompok musik Kantata Takwa Samsara menggelar konsernya di Parkir Timur, Senayan, Senin malam, 6 Juli 1998.Primadona grup musik yang dimotori pengusaha Setiawan Djody ini adalah Iwan Fals, yang kerap melantunkan syair lagu yang penuh muatan kritik sosial. Buktinya, massa penonton yang beringas itu kemudian merangsek ke atas panggung dan menyeret-nyeret , sebetulnya berebut menyalami dan memeluk Iwan, sehingga bekas pengamen jalanan itu pun kerepotan karena ternyata dia pun tak mampu meredam keberingasan massa itu. Apalagi massa lainnya kemudian juga melempar berbagai benda yang ada di sekitar mereka: botol plastik, kaleng minuman, dan lain-lain. 

Di saat yang gawat itulah muncul KH Maksum Jauhari, kiai Nahdatul Ulama dari Kediri, Jawa Timur, yang sehari sebelumnya mengikutiistigotsah kubro bersama para nahdliyin di tempat yang sama. Dengan sekali sentakan tangannya, berbagai benda tadi jatuh ke tanah sebelum sempat menyentuh Iwan dan kawan-kawannya di panggung: Setiawan Djody, Sawung Jabo, Yockie Suryoprayogo, penyair Rendra, dan lain-lain. Bukan hanya itu, massa yang kain brutal itu pun terjengkang ke tanah bak dihempas sabetan topan. Dan, sungguh, semuanya bukanlah adegan film yang penuh trik macam yang diperankan Jet Li dalam berbagai sekuel Once Upon Time in China itu.

Sesungguhnya, kiai nyentrik, karena suka berpakaian "semau gue"ini tidak berencana mengeluarkan aji-aji kesaktiannya. "Aku tahu, risikonya berat," kilah pengasuh pondok pesantren di Lirboyo, Kediri, ini dalam dialek Jawa Timur yang kental.
Hanya karena dia ngenes melihat Iwan yang ditarik-tarik massa hingga tidak berdaya itu, maka dengan terpaksa dia keluarkan ilmu tenaga dalamnya: tanpa menyentuh, orang-orang pun terjungkal. "Mana aku tega mendiamkan orang-orang mengusik Iwan di depan mataku sendiri. Padahal aku tahu pasti, Iwan berusaha menenangkan penggemarnya. Eh, mereka malah nekat, nggak peduli dan terus memaksa Iwan," kisahnya.

Sejak awal kerusuhan sebisa mungkin Gus Maksum mencoba menenangkan massa. Dibujuknya massa agar ikut melafalkan shalawat. Karena bujukannya tidak digubris, dan massa terus merangsek, Pak Kiai berteriak lantang, "Silakan maju, kalau berani! Aku juga wong Arek yang bisa memecahkan kepala kalian!"
Ucapan itu mungkin tak terdengar  dianggap angin lewat. Massa tambah beringas dan terkesan balik menantang. Maka, ya… begitu itulah, tenaga dalamlah yang lantas bicara.
Menurut Pak Kiai yang berambut gondrong ini, sebetulnya dia pantang mengeluarkan ilmunya. Katanya, itu sama saja dengan melanggar kesepakatannya dengan gurunya. "Teapi karena waktunya terdesak, masa aku pasrah. Ya, itung-itung bela diri," ucapnya sambil tertawa dan mengelus-elus jenggotnya yang panjang. Dia mengaku, esoknya badannya menjadi pegal. "Mungkin aku juga kualat, karena seharusnya tak perlu mengeluarkan jurus jitu," sambungnya terkekeh.

Bukan sekarang ini saja dia mengeluarkan rapalannnya. Dua tahun sebelumnya, saat pesantrennya disatroni orang yang mencurigakan, orang yang menyatroni itu itu pun terpental karena sabetan tangan KH Maksum.

Eh, omong-omong, siapa sih guru Pak Kiai? Awalnya, dia menggeleng, sebelum kemudian berbisik perlahan, "Guruku Gusti Allah."
Sumber :tempo

Syeikh Jumadil Kubro

Syeikh Jumadil Kubro adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam, terutama dalam tradisi sufisme. Ia dikenal sebagai seorang wali yang memiliki karamah (kemampuan luar biasa) dan pengikut yang banyak. Berikut adalah kisah singkat mengenai beliau:

Syeikh Jumadil Kubro lahir di sebuah desa kecil di wilayah yang kini dikenal sebagai Irak. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan kecerdasan dan ketertarikan yang besar terhadap ilmu pengetahuan, khususnya agama. Setelah mendapatkan pendidikan dasar dari ayahnya yang juga seorang ulama, ia memutuskan untuk mengembara ke berbagai tempat untuk mencari ilmu.

Selama perjalanan tersebut, Syeikh Jumadil Kubro bertemu dengan banyak guru, termasuk beberapa ulama dan sufi terkenal pada masa itu. Ia belajar tentang tasawuf, akhlak, dan ilmu agama lainnya. Keahliannya dalam berdoa dan melakukan zikir membuatnya dikenal sebagai seorang yang dekat dengan Allah.

Setelah menyelesaikan pencariannya, Syeikh Jumadil Kubro menetap di sebuah desa yang sunyi. Di sana, ia mendirikan sebuah pesantren yang menjadi tempat belajar bagi para murid yang datang dari berbagai penjuru. Ia mengajarkan nilai-nilai keislaman, keteladanan, dan pentingnya hubungan yang baik dengan Tuhan.

Karamah Syeikh Jumadil Kubro mulai dikenal luas ketika ia mampu menyembuhkan orang-orang yang sakit hanya dengan doanya. Suatu ketika, seorang raja yang mendengar tentang kemampuannya datang untuk meminta pertolongan. Sang raja mengalami masalah yang serius, dan Syeikh Jumadil Kubro dengan penuh keyakinan mengucapkan doa, lalu masalah tersebut teratasi dengan sendirinya.

Beliau dikenal sangat rendah hati, meskipun banyak pengikutnya yang datang untuk belajar. Syeikh Jumadil Kubro selalu mengingatkan mereka untuk tidak terjebak dalam pujian dan kesombongan. Ia mengajarkan bahwa yang terpenting adalah selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah dan akhlak yang baik.

Kisah hidup Syeikh Jumadil Kubro menjadi inspirasi bagi banyak orang, dan ajarannya masih dikenang hingga saat ini. Beliau meninggal dengan tenang dan dikebumikan di tempat yang kini menjadi lokasi ziarah bagi para peziarah yang ingin menghormati dan memohon berkahnya.

Kisah Syeikh Jumadil Kubro menggambarkan dedikasi seorang wali dalam menyebarkan ilmu dan mengamalkan ajaran Islam, serta pentingnya sifat tawadhu dan kerendahan hati dalam perjalanan spiritual.

SAHABAT NABI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

  A. Nama dan Asal Usul Abu Bakar Ash-Shiddiq Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan sanga...