Frase Umur Menurut KH.Maimun Zubair

KH Maimun Zubair ulama kenamaan Indonesia yang akrab disapa Mbah Moen menjelaskan rahasia umur manusia.

Beliau mengungkap hal ini untuk memberikan pemahaman kepada para jamaah agar tahu fase umur mulai dari 7, 28, 35, 42, 49, 56,63 hingga 70 tahun.

Orang hidup di dunia dari mulai lahir, sekolah, nikah, kerja, kaya, tua hingga meninggal, agar orang tahu dan bisa mempersiapkan bekal untuk dunia dan akhirat.

Adapun rahasia umur menurut Mbah Moen dari 7,28, 35, 42, 49, 56,63 hingga 70 tahun berikut ini penjelasannya dan tahapan manusia semasa hidup di dunia. 

Tahapan dasar orang hidup didunia yang pertama adalah lahir dan setelah usia 7 tahun sekolah (mencari ilmu).

Setelah 7 tahun harus sekolah lanjutan, 7 tahun lagi, harus sekolah yang lebih tinggi, tahapan sekolah ini sangat lama bahkan maksimalnya itu sampai 28 tahun.

7x4=28, setelah 28 harus nikah, kalau umur 28 belum nikah, namanya terlalu tua.

Setelah 28 tahun sekolah dan mencari ilmu, tahapan manusia selanjutnya yaitu mencari pekerjaan dari umur 28 sampai 35 tahun.

Setelah 28 tahun tambah 7 tahun lagi 35 tahun, harus punya pekerjaan.

Adapun pada umur 35 sampai 42 tahun akan terlihat mana orang yang ditakdirkan kaya dan mana orang yang ditakdirkan miskin.

35+7=42, kalau kaya yah terlihat kaya, kalau memang miskin ya terlihat miskin.

Kalau 42 tahun tidak kaya, maka memang tidak ditakdirkan kaya. 

Tahapan selanjutnya kata Beliau yaitu pada umur 49 tahun, dimana hidup manusia akan segera habis.

Diusia 42 sudah terlihat bagiannya, 42+7=49, sudah hampir habis usianya. 

Untuk itu pada umur 49 hingga 56 tahun, Mbah Moen menyarankan kepada semuanya untuk tidak kemana-mana.

49+7=56, sudah tidak usah kemana-mana, jangan transmigrasi karena hanya buang-buang umur saja.

Apabila ada seseorang yang sudah berumur 63 tahun, namun masih hidup. Maka orang tersebut panjang umur.

Sekarang 7x9=63, mati pantes hidup juga pantes, tambah 7 tahun lagi, 70 tahun memang sudah tua, memang jatah panjang umur. 

اَللّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِاْلاِسْلاَمِ وَاخْتِمْ لَنَا بِاْلاِيْمَانِ وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ

Artinya: Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan Islam, akhirilah hidup kami dengan membawa iman dan akhirilah hidup kami dengan husnul khotimah.

Semoga dengan keterangan beliau akan dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala

Kagem beliau : Al-fatihah 

KH. SHOLEH BANJARMELATI

 KH. SHOLEH BANJARMELATI SEZAMAN DENGAN SYAIKUNA KHALIL BANGKALAN


Beliau salah satu Pengasuh Pondok Pesantren tertua di Kota Kediri, Pesantren Banjarmelati, Mojoroto, Kota Kediri. 

Beliau adalah KH. Sholeh masih Keturunan Syaikh Abdullah Mursyad, Seorang Auliya' illah yang makamnya ada di daerah Setono Lendehan, Desa Bakalan, Kec. Banyakan, Kab. Kediri.

KH. Sholeh seorang Ulama' yang disegani pada zamannya, beliau masih sezaman Syaikhona Kholil Bangkalan Madura dan Syaikh Nawawi Banten.

KH. Sholeh Banjarmlati dikaruniai 11 orang putra-putri dan juga menantu yang Alim² para pendiri pondok pesantren di sekitar Kediri, mereka adalah:

1. Nyai Hasanah.

Istri Almaghfurlah KH. Muhammad Ma'roef (Pendiri Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri).

2. Nyai Anjar.

Istri Almaghfurlah KH. Muhammad Fadli (Pondok Pesantren Batokan, Petok, Mojo, Kediri. Beliau Ayahanda Almaghfurlah KH. Djauhari Fadli, Kras, Kediri dan juga Kakek Almaghfurlah KH. Makhsum Djauhari / Gus Makhsum Lirboyo).

3. Nyai Artimah.

Istri Almaghfurlah KH. Muhammad Dahlan (Pendiri Pondok Pesantren Jampes, Kediri. Beliau adalah Ayahanda Almaghfurlah Syaikh Ihsan, Jampes dan Almaghfurlah KH. Marzuqi Dahlan, Lirboyo).

4. Almaghfurlah KH. Muhammad.

Pondok Pesantren Bandar Kidul, Kota Kediri.

5. Nyai Nafisah.

Istri Almaghfurlah KH. Manshur (Pondok Pesantren Pucung, Blitar).

6. Nyai Khodijah atau Nyai Dlomroh.

Istri Almaghfurlah KH. Abdul Karim "Mbah Manab" (Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Mojoroto, Kota Kediri).

7. Almaghfurlah KH. Rofi'i (Beliau Wafat di Makkah)

8. Almaghfurlah KH. Ya'qub Lirboyo.

Pendiri Pondok Pesantren Haji Ya'qub, Unit Pondok Lirboyo. Ayahanda Almaghfurlah KH. Rofi'i Ya'qub, Lirboyo.

9. Almaghfurlah KH. Asy'ari.

Pondok Pesantren Sumbercangkring, Gurah, Kab. Kediri.

10. Almaghfurlah KH. Abdul Hayyi

Pondok Pesantren Alawi, Banjarmlati, Kota Kediri.

11. Almaghfurlah KH. Ibrahim

Pondok Pesantren Alawi, Banjarmalti, Kota Kediri.

Lalu apa amaliah Kyai Sholeh sehingga punya keturunan yg hebat²; Kyai Sholeh sangat sabar memiliki istri yang sangat membenci beliau. 

Dikisahkan.. Setiap Kyai Sholeh kembali ke rumah setelah i’tikaf di masjid langsung dihadang istri beliau di depan pintu rumah sembari membawa bekas air cucian beras. Air bekas cucian beras tadi langsung disiramkan ke wajah Kyai Sholeh. Meski demikian beliau tetap sabar atas perlakuan buruk istrinya.

Kesabaran Kyai Sholeh cukup lama, terjadi selama sepuluh tahun. Dari kesabaran beliau inilah menjadi sebab istri beliau menjadi tobat, dan mempunyai keturunan yg shalih-shalihah.


Beliau keturunan Panembahan Amir Hasan Bin Sunan Kudus,berikut nasab beliau :

Sayyid Husein  Jamal-ad-din Al Kubra

mempunyai anak 

Sayyid Ibrahim asmarakandi 

mempunyai anak

Sayyid Ali Murtadlo

mempunyai anak

Sunan Ngudung

mempunyai anak

Sunan Kudus wafat 1540 

mempunyai anak

Panembahan Amir Hasan / Pangeran Mekah Demak wafat 1549

mempunyai anak

Pangeran Demang II Kediri sumare ing Desa Badal Kec. Ngadiluwih Kab.Kediri

mempunyai anak

Sayyid Abdul Mursyad alias R Nidokusumo 

mempunyai anak

Kyai Ketib Anom/ Abdurohman sumare ing kalangbret

mempunyai anak

Syaikh Basyarudin Srigading tulungagung

mempunyai anak

Kyai Anbiya' kalangbret

mempunyai anak

Kyai  Muhamad. Ali Maklum banjarmelati

( Kakek Buyut kyai Sholeh Banjarmlati)

MBAH JIPANG (Muhammad Tholhah)Batokan Petok Mojo Kediri.

 MBAH JIPANG

Mbah Jipang! sebuah nama yang melegenda di Kota Kediri, sebuah nama yang menjadi ikon kecerdasan dan kealiman santri-santri Lirboyo pada masa-masa pra kemerdekaan.

Mbah Mad Jipang (Muhammad Tholhah). Beliau lahir sekitar awal tahun 1900-an dan wafat pada bulan Maret 1971 M di Batokan. Mbah Mad Jipang merupakan putra pertama dari pasangan Kyai Fadil (Pengasuh ke-3 Pesantren Batokan) dan Nyai Anjar binti Kyai Sholeh Banjarmlati. Mbah Mad Jipang memiliki 6 orang adik, diantaranya adalah Mbah Jauhari (Ayah Gus Ma'shum Lirboyo) dan Mbah Jamal (Pengasuh ke-4 Pesantren Batokan). Mbah Jipang menikah 4 kali dan dikaruniai 11 anak.

Sebuah riwayat dari Kyai Mahsun, murid Mbah Ma'ruf Kedunglo, nama Jipang ini adalah pemberian Mbah Ma'ruf. Beliau melihat kecerdasan Muhammad Tolhah dalam mengaji kitab, sehingga beliau memberi nama "jipang" yang merupakan akronim dari “Ngajine Gampang”. Sementara itu terdapat riwayat lain yang bersumber dari putri Mbah Jipang, bahwa nama Jipang tersebut diberikan oleh ayah beliau. Sebutan Jipang itu mudah diterima jika melihat kecerdasan Mbah Jipang. Menurut cerita yang dipopulerkan Gus Maksum Lirboyo, Mbah Jipang bisa mahir membaca kitab gundul hanya bermodalkan teori kitab Jurumiyah danTasrif saja. Bahkan menurut penuturan Mbah Manaf Pethuk, beliau Mbah Jipang di masa muda bisa menghafalkan puluhan bait alfiyah dalam waktu yang sangat singkat setara durasi waktu menanak nasi dan hafalan itupun bisa membekas hingga beliau sepuh tanpa lupa sedikitpun. Selain itu beliau juga memiliki trik-trik perhitungan matematis, disamping memiliki kebiasaan yang unik seperti: sering membawa meteran kemana-mana, suka mengukur benda di sekitar, mengukur putaran roda sepeda, mengisi waktu luang dengan latihan menghitung angka-angka.

Saat Beliau mondok di Pondok Lirboyo. Beliau adalah santri kebanggaan Pondok Lirboyo, kepandaiannya luar biasa, dan merupakan bintang atau maestro pada eranya. 

Beliau jiga salah satu guru Gus Ma'shum, beliau bercerita bahwa selain 'alim ilmu kanuragan Mbah Jipang yang paling membahayakan adalah pukulan tangannya, berat pukulan tangannya ibarat buah kelapa yang dihantamkan bisa meremukkan kepala manusia sekali pukul. Gus Ma'shum melihat sendiri kejadian tersebut saat bentrok dengan PKI.

Pernah suatu ketika, ada seorang santri yang ingin mengaji dan mondok kepada beliau "Mbah Mad Jipang", namun beliau tidak berkenan. Dan beliau menyarankan santri tersebut untuk mengaji kepada adiknya, yaitu Kyai Jamaluddin Batokan yang juga sangat alim. Hal ini tentu bukan karena meremehkan, tapi sebagai bentuk ketawadhu'an, serta merasa diri tidak layak, walaupun sebenarnya beliau sangat layak dan sangat pandai. Itulah mungkin alasannya mengapa sebagian ulama'-ulama' besar tidak memiliki pondok pesantren.

Mbah Yai Mad Jipang juga sangat menguasai ilmu faroid atau ilmu waris. Sehingga banyak masyarakat yang mempercayakan pembagian warisnya kepada beliau. Ketika membagi warisan, beliau sangat bijaksana, teliti dan hati-hati, sehingga barang-barang rumah yang kecil dan nampaknya remeh, seperti wajan dan semacamnya, juga beliau ikut hitung kalkulasi. Karena sifat beliau yang bijaksana ini, sehingga ketika sedang membagi warisan,seluruh pihak merasa "marem" atau puas.

Memang orang yang bisa membagi harta waris itu banyak, akan tetapi yang bisa membikin masing-masing pihak bisa merasa puas ini adalah jarang, dimana kebanyakan saat ada pembagian harta waris akan ada pihak yang merasa kecewa, tapi ketika beliau yang membagi, hal ini tidak terjadi. 

Saking terkenalnya beliau dalam masalah bagi waris ini, beliau terkadang diundang untuk bagi waris hingga keluar daerah Kediri, bahkan pernah hingga sampai ke Banyuwangi.

Konon, keahlian beliau ini tidak lepas dari berkah Mbah Kiai Abdul Karim (Mbah Manaf) Lirboyo, guru utama yang masih terhitung paman beliau sendiri. Suatu hari, saat masih mondok di Lirboyo, beliau dipanggil Mbah Manaf di ndalemnya dan didawuhi: "Besok kamu ngaji ke sini, bawa kitab Syansyuriah Syarh Rahabiyah dan sabak (alat tulis-menulis kuno, semacam papan tulis kecil, mungkin dimaksudkan untuk memberikan latihan-latihan penghitungan)."

Mulai saat itu beliau mendapat pelajaran ilmu faraidh langsung dari Kiai Sepuh Lirboyo, Mbah Manaf itu. Namun uniknya, saat pelajaran itu khatam, tiba-tiba ada tamu dari keluarga berada yang berasal dari daerah sekitar Kediri yang meminta bantuan Mbah Manaf untuk membantu membagikan warisan di keluarganya. Lalu Mbah Manaf mengutus santri kesayangannya ini yang baru mengkhatamkan pelajaran ilmu faraidh untuk mewakili beliau memenuhi permintaan tamunya. Maka berangkatlah Mbah Jipang bersama tamu kiainya ini menuju rumahnya.

Esoknya, dengan wajah berseri-seri, tamu tersebut kembali ke Lirboyo menemui Mbah Manaf untuk mengucapkan terimakasih mewakili keluarganya. Keluarganya sangat gembira dan puas atas kepintaran santri beliau dalam pembagian harta warisan. Tak lupa, tamu itupun memberikan oleh-oleh yang banyak pada Mbah Manaf sebagai ungkapan terimakasihnya.

Setelah tamu itu pamit, Mbah Manaf Lirboyo segera memanggil santri kesayangannya itu dan memberikan semua oleh-oleh tamu itu padanya. Karena oleh-oleh itu diberikan langsung oleh kiainya sendiri, bukan oleh tamu tadi, tentu bukan main senangnya Mbah Jipang. Konon saking banyaknya oleh-oleh itu hingga cukup untuk biaya kebutuhan sehari-hari selama setahun di pondok.

Mbah Yai Mad Jipang adalah ulama' yang dalam berpenampilan memilih untuk apa adanya. Beliau sederhana dan bersahaja. Beliau tidak memakai baju-baju khas ulama'. Beliaupun biasa memakai blangkon atau penutup kepala khas orang Jawa kala itu.

Ulama' itu adakalanya yang lembut dan adakalanya yang "kereng" atau tegas. Dan Mbah Yai Mad Jipang ini termasuk kelompok kedua. Beliau memiliki sikap yang tegas.

Pernah suatu ketika, di desanya ada pertunjukan drumband. Dan saat itu terjadi ada seorang gadis yang naik di atas bas yang sedang dibawa oleh seorang pemuda, dan ini tentu melanggar norma, apalagi di zaman itu, maka beliaupun dengan tegas melarangnya. Akibat dari itu, kegiatan drumband di desa tersebutpun dihentikan.

Mbah Mad Jipang dengan baju ala petani atau pedagang sayur dan ikat blangkon di kepala menjadi penampilannya sehari-hari. Bagi yang belum mengenalnya, tentu tidak pernah menyangka di balik penampilan yang sangat sederhana ini, bahwa beliau adalah orang yang sangat alim yang sulit dicari tandinganya, yang begitu dihormati dan disegani oleh kiai-kiai yang sudah mengenalnya. Tidak ada yang tidak mengakui kealiman beliau bagi yang sudah mengenalnya, tak terkecuali Syaikh Masduqi Lasem sekalipun. 

Saat kitab Sirajut Thalibin karya Syaikh Ihsan Dahlan Jampes sudah tersebar luas, Syaikh Masduqi Lasem sering memberikan kritik atas beberapa redaksi yang ada di kitab itu, mulai dari sisi nahwu, sharaf, balaghah dan pengertiannya yang dirasa kurang tepat atau malah mungkin keliru.

Mendengar itu, Mbah Jipang (sebagai sahabat, juga masih terhitung saudara misannya Syaikh Ihsan karena ibu beliau adalah saudari kandung ibu Syaikh Ihsan) berangkat ke Lasem dengan menyaru sebagai penjual pisang menemui Syaikh Masduqi terkait redaksi-redaksi kitab Sirajut Thalibin yang dipermasalahkan. Terjadilah perdebatan seru dan panjang di antara mereka. Hingga setelah selesainya perdebatan itu Mbah Jipang pamit, Syaikh Masduqi mengatakan pada para santrinya: "Aku tas wae kalah debatan je karo bakul gedang ko Kediri" (Saya baru saja kalah berdebat sama penjual pisang dari Kediri).

Diantara amalan yang sangat beliau utamakan, dan menjadi wirid beliau sewaktu-waktu adalah memperbanyak membaca alhamdulillah dan membaca istighfar. Pernah ada seseorang yang meneliti beliau ketika sedang membaca sesuatu dengan lirih, dan ternyata kedua bacaan inilah yang beliau perbanyak.

Kangen beliau Lahumul faatihah..

WAlloohu a'lam bissowab.

Sumber:

1. Almarhum Romo Kyai Mohammad Ustman Petok.

2. Ustadz Agus Bobang.

3. Ibu Umi Masitoh Petok.

4. AN Ang-hab

5. Akhid Nasrulloh

6. Admin

Biografi BJ Habibie


Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih dikenal dengan BJ Habibie, lahir pada 25 Juni 1936 di Parepare, Sulawesi Selatan. Ia adalah Presiden ketiga Republik Indonesia yang menjabat pada tahun 1998 hingga 1999, setelah pengunduran diri Presiden Soeharto. Habibie dikenal sebagai tokoh yang sangat berpengaruh dalam bidang teknologi, industri, dan reformasi politik di Indonesia. Selain itu, Habibie juga dihormati sebagai seorang ilmuwan, teknokrat, dan pemimpin yang membawa perubahan signifikan dalam sejarah Indonesia.

Habibie berasal dari keluarga yang sangat mendukung pendidikan. Ayahnya, Alwi Abdul Jalil Habibie, adalah seorang pegawai pemerintah, sedangkan ibunya, R.A. Tuti Marini Puspowardoyo, adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat mendukung karier pendidikan Habibie. Sejak kecil, Habibie menunjukkan minat besar dalam bidang sains dan teknologi.

Habibie melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia (UI), namun ia kemudian pindah ke Jerman untuk melanjutkan studi teknik penerbangan di Rhein-Westphalian Institute of Technology di Aachen, Jerman, pada tahun 1955. Ia berhasil meraih gelar insinyur (Diplom-Ingenieur) dalam waktu singkat, kemudian melanjutkan studi dan meraih gelar doktor dalam bidang teknologi penerbangan pada 1965.

Setelah meraih gelar doktor, Habibie bekerja di perusahaan teknologi di Jerman, terutama di bidang pengembangan pesawat terbang. Ia berhasil menciptakan berbagai inovasi dalam teknologi penerbangan, salah satunya adalah dalam pengembangan pesawat terbang dengan menggunakan material komposit. Keahliannya ini membuatnya dikenal di kalangan ilmuwan dan teknokrat internasional.

Pada 1973, Habibie diminta oleh Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia dan membantu mengembangkan industri pesawat terbang di tanah air. Ia kemudian mendirikan industri pesawat terbang di Indonesia, yang dikenal dengan nama IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara), yang kelak berhasil memproduksi pesawat terbang seperti N-250, sebuah pesawat regional yang dirancang dan diproduksi di Indonesia.

Habibie mulai terlibat dalam dunia politik pada awal 1970-an, ketika ia dipanggil oleh Presiden Soeharto untuk menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi pada 1978. Posisi ini memberikan kesempatan bagi Habibie untuk mengembangkan berbagai program penelitian dan teknologi di Indonesia. Kemampuannya dalam bidang teknologi dan manajemen industri membuatnya menjadi salah satu tokoh yang sangat dihormati dalam pemerintahan.

Pada 1998, ketika Indonesia menghadapi krisis ekonomi yang mendalam dan ketegangan politik yang tinggi, Presiden Soeharto mengundurkan diri setelah memerintah selama 32 tahun. BJ Habibie yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden, menggantikan Soeharto sebagai Presiden Indonesia pada 21 Mei 1998.

Selama masa kepresidenannya yang singkat (1998-1999), Habibie dikenal sebagai pemimpin yang memprioritaskan reformasi politik dan demokrasi. Salah satu langkah besar yang diambilnya adalah mengizinkan kebebasan pers dan membuka ruang untuk munculnya partai politik baru. Habibie juga memberikan kebebasan kepada rakyat Indonesia untuk menyuarakan pendapat mereka, yang sebelumnya terkekang selama era Orde Baru.

Selain itu, Habibie juga melaksanakan kebijakan desentralisasi dengan memberikan otonomi lebih besar kepada pemerintah daerah. Salah satu keputusan besar yang diambil adalah mengadakan referendum di Timor Timur pada 1999, yang akhirnya mengarah pada kemerdekaan Timor Leste.

Namun, di sisi lain, masa pemerintahan Habibie juga menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan sosial akibat krisis finansial yang melanda Asia pada 1997-1998. Pada tahun 1999, Habibie memutuskan untuk tidak mencalonkan diri lagi dalam pemilihan umum dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) setelah pemilu yang berlangsung di bawah pengawasan reformasi demokrasi.

Setelah masa jabatannya, Habibie tetap aktif dalam dunia pendidikan dan teknologi. Ia mendirikan lembaga-lembaga yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengembangan teknologi di Indonesia, seperti Habibie Center. Selain itu, Habibie juga menjadi figur penting dalam dunia internasional dan sering berbicara di berbagai forum internasional mengenai isu-isu teknologi, demokrasi, dan perdamaian.

BJ Habibie dikenal sebagai tokoh yang sangat berpengaruh dalam membangun fondasi demokrasi di Indonesia, meskipun masa kepemimpinannya sangat singkat. Ia dihormati bukan hanya sebagai seorang ilmuwan dan teknokrat, tetapi juga sebagai pemimpin yang berani mengambil langkah-langkah berani dalam proses reformasi politik di Indonesia.

BJ Habibie menikah dengan Ainun Habibie, seorang dokter yang juga sangat berpengaruh dalam hidupnya. Ainun adalah teman hidup yang sangat berarti bagi Habibie, dan mereka dikenal sebagai pasangan yang saling mendukung dalam berbagai aspek kehidupan. Habibie sangat kehilangan Ainun yang meninggal dunia pada 2010.

BJ Habibie mengakhiri hidupnya pada 11 September 2019 di Jakarta, setelah berjuang melawan penyakit. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Habibie dikenang sebagai salah satu tokoh besar dalam sejarah Indonesia yang menggabungkan keahlian dalam teknologi dengan dedikasinya terhadap kemajuan bangsa.

BJ Habibie tetap menjadi simbol perubahan, teknologi, dan demokrasi, serta warisan besar yang ditinggalkan bagi generasi Indonesia berikutnya.

 

DO'A TERAKHIR Syaikhina KH. Ahmad Idris Marzuqi (H-2 Haul)


الفَاتِحَة

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرّحِيْمِ الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ والسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Dengan menyebut asma Alloh Yang Maha Merahmati di dunia dan akherat. Segala puji hanya bagi Alloh Tuhan Penguasa semesta alam. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Tuan Mulianya para Nabi dan Utusan. Beserta semua keluarga dan para sahabatnya. 

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَخَطَايَانَا وَاغْفِرْ لِأَصْحَابِ الْحُقُوْقِ الْوَاجِبَاتِ عَلَيْنَا 

Ya Alloh ampunilah semua dosa-dosa kami hapuslah segala keburukan dan kesalahan kami. Dan ampunilah para pemilik hak-hak yg wajib bagi kami. 

اللّٰهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاللّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ نَسْتَعِيْنُكَ عَلَى فَسَادٍ فِيْنَا وَنَسْأَلُكَ صَلَاحَ أَمْرِنَا كُلِّهِ

Ya Alloh segala puji hanya bagimu. Hanya kepada Engkaulah tempat mengadu dan memohon pertolongan. Tiada daya dan upaya kecuali dg pertolongan Alloh yg Maha Luhur nan Maha Agung. Kami memohon pertolongan atas kerusakan pada diri kami dan kami meminta kebaikan dalam segala urusan kami. 

اللّهُمَّ اجْعَلْنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَأَوْلَادَنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ وَعُلَمَائِكَ العَامِلِيْنَ وَأَوْلِيَائِكَ الْمُتَّقِيْنَ وَلَا تَجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنَ الضَّالِّيْنَ الْمُضِلِّيْنَ

Ya Alloh jadikan kami, dzuriyah kami dan anak-anak kami bagian dari hamba-hambaMu yang saleh, Ulama-Mu yang mengamalkan ilmunya serta para kekasih-Mu yang bertaqwa. Jangan jadikan kami dan mereka dari golongan orang-orang sesat yang menyesatkan. 

رَبَّنَا لَاتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِْن لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ 

Ya Tuhan kami.. Jangan Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu sesungguhnya Engkau Maha Banyak Memberi Anugerah. 

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا وَعَافِيَةِ الْأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا وَنُوْرِ الْأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ 

Ya Allah curahkanlah sholawat salam kepada Tuan Mulia kami Muhammad. Sang penawar dan obat hati. Kesembuhan dan keselamatan badan. Cahaya dan penerang mata. Beserta keluarga dan para sahabatnya. 

اللّٰهُمَّ طَوِّلْ عُمْرَنَا وَحَسِّنْ أَعْمَالَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَوَسِّعْ أَرْزَاقَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا بِالْإيْمَانِ وَالتُّقَى وَالْإسْتِقَامَةِ 

Ya Alloh panjangkan usia kami, jadikanlah baik amal kami, sehatkan jasmani kami, luaskan rizki kami, terangilah hati kami dengan iman, taqwa dan istiqomah. 

رَبَّنَا لَاتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ 

Ya Tuhan kami.. Jangan Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu sesungguhnya Engkau Maha Banyak Memberi Anugerah. 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 

Ya Tuhan kami.. Berilah kami segala kebaikan di dunia dan segala kebaikan di akherat. Jagalah kami dari siksa neraka. Masukanlah kami dalam nirwana bersama orang-orang baik. Wahai Dzat yg Maha Menang. Wahai Dzat yang banyak mengampuni. Dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang Lebih mengasihi.

وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

الفاتحة

Semoga Alloh senantiasa mencurahkan sholawat  salam kepada Tuan Mulia kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Alloh Tuhan Penguasa semesta alam.

Catatan: 

1- Doa diatas adalah do'a Syaikhina pada malam ahad 10 sya'ban 1435 H.(2014) dlm sebuah acara di Aula Al-muktamar Lirboyo. Satu hari setelah itu Beliau kapundut sowan wonten ngarso Gusti. Tepatnya pagi hari, senin 11- Sya'ban. Perhatikan tangisan Beliau saat mendoakan kita semua(وذرياتنا). Beberapa kali beliau dawuh bahwa makna dzuriyah adakala dzuriyah nasab(keturunan) dan dzuriyah ilmu(murid-murid, santri, muhibbin, muridnya murid dst.) Semoga diakui sebagai murid beliau. 


2- Dalam doa Beliau ini juga terdapat do'a-do'a yang sangat sesuai dengan keadaan problem kita saat ini. Semoga berkah do'a beliau saat itu kita semua selalu diberi kesehatan dan keberkahan dalam segala hal. Mari kita dengarkan/simak dan kita amini bersama do'a Beliau. Amin


 الفاتحة أن الله يعلي درجاته في الجنة ويكثر مثوباته ويضاعف حسناته ويحفظنا به وينفعنا به ويعيد علينا من بركاته وأسراره وانواره ونفحاته وعلومه في الدين والدنيا والآخرة وإلى حضرة النبي صلى الله عليه وآله وسلّم الفاتحة.... 


Sumber:kangsantri,Denanyar Jombang 9 Sya'ban 1441 H.


Cerita Unik Abah Lutfi bin Yahya dengan Bocah Cilik

Ada sebuah pemandangan yang sangat indah di Dalem Noyontaan Pekalongan beberapa hari yang lalu

Ada salah satu seorang tamu menunggu untuk berjumpa & bertatap muka sekedar meminta barokah dari habib lutfi bin Yahya. Tamu itu duduk di ruang yang di sediakan oleh Abah (Habib Luthfi) sejak jam tujuh pagi. Dia menunggu dengan wajah yang penuh harapa agar berjumpa Sang panutan. Hingga salah seorang santri Abah melaporkan  bahwa ada tamu satu orang menunggu untuk menghadap. 

Setelah santri Abah mengajak tamu itu masuk, Abah menanyakan yang mana tamu yang di maksud, Ternyata yang menunggu menghadap penuh harapan kepada Abah itu adalah bocah laki-laki yang masih duduk di bangku kelas 5 SD. Ia berangkat dari rumahnya sebdirian mengayuh speda yang jaraknya kurang lebih 3KM. 

"Sekelas Habib Lutfi, Presiden Thoriqoh seluruh Dunia, di datangi bocah kelas 5 SD"

Semakin menarik peristiwa tersebut setelah Abah tersenyum dan mempersilahka bocah itu duduk di kursi tepat di sebelah Abah duduk. lalu percakapan di mulai. Hanya Abah santri dan tamu bocah tetangga desa itu  yang ada di dalam kamar Abah. 


Dialog Abah dengan si Bocah SD 

Abah   :Omahmu endi le? 

Bocah :  Nang kono Bah (Sambil menunjuk nama sebuah desa) 

Abah   : Lah adoh numpak opo mrene? 

Bocah : Spedah onthelku Bah Aku dewe. 

Abah   : Bapak nang endi Le? 

Bocah : Mangkat Kerjo

Abah sambil tersenyum meneruskan dialognya dengan si bocah itu. Santri Abah juga ikut tertawa mendengar jawaban dan melihat kepolosan bocah tersebut yang tanpa menggunakan bahasa halus. Bahasa yang di gunakan bahasa pekalongan (ngoko) Tapi bagi Abah, itu bukan masalah dan tidak sama sekali bermasalah

Dialog selanjutnya

Bocah: Bah jaluk dungone, aku engkok sore iki sunat

Abah   : Loh Iyo ta? Wis wani Sunat? 

Bocah: Wani Bah, Aku dewe sing jaluk, guduk bapak Bah

Abah   : hehe Iyo sing wani lah. 

Bocah: Engkok Abah tekoo ya nang omahku Bah. Acarane Bar Ashar. 

Abah   : oh iyo? Bar Ashar? Iyo engkok aku tak teko. 

Bocah: Tenan yo Bah, tak omongke mak ku Engkok Bah

Abah   : "Sambil terus tersenyum" Iyo ke engkok aku teko. 

Bocah: Wis yo Bah, Aku tak moleh "sambil mencium tangan Abah & pergi"

Namanya juga sudah Cinta, tak kenal usia dan berani menampakkan secara langsung. Bocah tersebut diberi motivasi Abah untuk menjalankan salah satu syara' yakni Berkhitan semoga bocah tersebut menjadi salah satu Ulama, Sholihin dan Bermanfaat bagi Umat kelak

Sumber: Story Imohan Suratie

Biografi KH.Dimyati Rois

Kelahiran

KH. Dimyati Rois atau yang lebih dikenal dengan panggilan Abah Dim lahir pada 5 juni 1945 di Tegal Glagah Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra kelima dari sepuluh bersaudara yaitu dari pasangan KH. Rois dan Nyai Djusminah.

Saudara-saudara beliau diantaranya Ny. Khanifah, KH.Tohari Rois, KH. Masduki Rois, H. Murai Rois, KH. Saidi Rois, Ny. Khotijah, KH. Syatori Rois, Ny. Mukoyah dan Ny. Daroroh. KH. Dimyati Rois,

Latar belakang KH. Dimyati Rois adalah asli turunan petani dan santri baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Selain itu, kedua orang tuanya selalu mengajarkan dan melatih kepada putra-putrinya untuk senantiasa taat dalam beribadah.

Keluarga

Pada 1 Januari 1978, KH. Dimyati Rois melepas masa lajangnya dengan menikahi Hj. To’ah, putri tunggal dari pasangan KH. Ibadullah dan Hj. Fatimah.

Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai sepuluh putra-putri, yaitu, H. Gus Fadlullah, H. Gus Alamudin BA., Hj. Ning Lailatul Arofah, H. Gus Qomaruzzaman, Hj. Ning Lama’atus Sobah, H.Gus Hilmi, H.Gus Thoha Mubarok, H.Gus Husni Mubarok, H.Gus M. Iqbal dan Gus Abu Khafsin Almuktafa.

KH. Dimyati Rois membekali putra-putrinya dengan nilai-nilai agama Islam, mengajari putra-putrinya untuk menuntut ilmu dan terus belajar, karena menurut beliau bahwa seseorang tidak akan menjadi pandai tanpa adanya suatu proses pembelajaran.

Pendidikan

KH. Dimyati Rois sejak kecil memang sudah terlihat berbeda jika dibandingkan dengan para saudaranya yang lain, beliau begitu pendiam, tetapi rajin, disiplin dan ulet.

Dengan sikap rajinnya tersebut, beliau memulai pendidikannya dengan belajar di di SR (Sekolah Rakyat). Di sekolah formal tersebut KH. Dimyati Rois menyelesaikannya dan mendapatkan sertifikat sebagai tanda kelulusan.

Setelah selesai pendidikan formal, kemudian pada sekitar tahun 1956 beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren APIK, Kauman, Kaliwungu, Kendal yang diasuh oleh KH. Ahmad Ru’yat. Beliau mondok di Pondok Pesantren APIK selama kurang lebih 14-15 tahun.

Setelah selesai di Pondok Pesantren APIK, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya dengan berguru kepada KH. Mahrus Aly di Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, akan tetapi itu hanya sebentar dan setelah itu kemudian beliau melanjutkan berguru pada Mbah Imam, pengasuh Pondok Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah, di sana beliau hanya belajar kurang lebih sekitar 5 tahun.

Namun, setelah beberapa tahun berkelana menuntut ilmu di daerah Rembang, Tuban dan Kediri, pada akhirnya beliau kembali lagi ke Pondok Pesantren APIK, Kauman, Kaliwungu, Kendal. Tak berapa lama kemudian, beliau diangkat menjadi Lurah Pondok oleh Pengasuh Pondok Pesantren APIK, yaitu KH. Humaidullah Irfan (kakak KH. Ibadullah Irfan).

Ilmu-ilmu yang beliau pelajari selama beliau di pondok antara lain ilmu nahwu, sorof, ushul fiqh, kitabnya Imam Al-Ghazali dan masih banyak lagi kitab-kitab yang lainnya. Kecerdasan KH. Dimyati Rois telah nampak diwaktu masih belajar di pondok yang beliau singgahi, selama beliau di pondok tidak ada waktu yang terlewati dengan sia-sia. Melainkan digunakan untuk belajar, maka tidak aneh jika KH. Dimyati Rois memiliki wawasan yang luas tentang keislaman.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Pada waktu Muktamar NU di Jombang, KH. Dimyati Rois terpilih menjadi salah satu ulama yang tergabung dalam tim Ahlul Hal Wal Aqdi (AHWA) yang berjumlah 9 ulama khos se-Indonesia.

Dalam ormas NU, kiprah beliau tidak diragukan lagi. Beliau pernah menduduki kepengurusan dari mulai tingkat PCNU Kendal, PWNU Jawa Tengah, hingga PBNU. Beliau pernah menjadi pengurus Tanfidziyah, Syuriyah hingga Mustasyar PBNU. Di samping sebagai ulama yang ‘alim, beliau juga dikenal sebagai mubaligh yang ulung. Maka tidaklah mengherankan jika beliau banyak dikenal di kalangan santri dan kaum nahdliyin.

Selain itu, dalam dunia politik, beliau juga pernah menjadi pengurus DPW PPP Jawa Tengah, DPP PKB dan DPP PKD. Pada masa Orde Baru, beliau pernah menjadi anggota MPR RI melalui jalur Utusan Golongan yang diajukan PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Setelah Orde Baru tumbang dan muncullah era Reformasi, para politisi dan pengurus PBNU bergerak membentuk partai baru sebagai usulan kaum nahdliyin yang ingin aspirasinya tertampung.

Beliau masuk dalam jajaran pengurus PBNU yang ikut mendeklarasikan lahirnya PKB. Beliau bersama KH. Cholil Bisri, KH. Mustofa Bisri, KH. Abdurrahman Wahid, KH. Munasir Ali, KH. Muchit Muzadi, KH. Ma’ruf Amin, KH. Ilyas Ruchiyat dan ulama lainnya menjadi Deklarator PKB. Setelah Gus Dur dilengserkan dalam Sidang Istimewa (SI MPR RI) dan memasuki pemilu kedua di era Reformasi, mulai muncullah riak-riak dalam dunia perpolitikan Indonesia termasuk menimpa PKB.

Dalam tubuh PKB terpecah belah menjadi beberapa partai, diantaranya PNU, PKNU dan Partai Kejayaan Demokrasi (PKD). Dalam kubu Pondok Pesantren Langitan, Pondok Pesantren Lirboyo dan Pondok Pesantren Tegalrejo melahirkan PKNU. Sedangkan kubu Matori Abdul Jalil melahirkan PKD dan Ketua Dewan Syuranya dipegang oleh beliau. Namun, PKD tidak masuk dalam parpol yang lolos verifikasi KPU sehingga dengan sendirinya bubar.

Setelah vakum dalam dunia politik beberapa tahun, beliau kembali didapuk oleh Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar, untuk menjadi pengurus Dewan Syura DPP PKB. Di kemudian hari, Ketua Dewan Syura DPP PKB kosong sepeninggal KH. Aziz Manshur. Tidak butuh waktu lama, Muhaimin Iskandar selaku Ketua Umum DPP PKB memohon agar beliau berkenan menjadi Ketua Dewan Syura DPP PKB menggantikan KH. Aziz Manshur. Dengan berat hati, beliau pun menyanggupinya demi kebesaran PKB.

Teladan

Sebagai seorang ulama KH. Dimyati Rois memiliki kepribadian yang sangat baik dan penuh kesederhanaan, baik dengan para pengikut (santrinya) maupun dengan masyarakat yang lain. Kesederhanaan beliau ditunjukan dengan berpakaian yang sederhana, dan beliau juga tidak akan makan apabila tidak benar-benar lapar.

Selain itu beliau juga suka bergaul dengan siapapun, baik dengan pedagang, pejabat, orang kaya, orang miskin, buruh bahkan anak-anak. Beliau terkenal sebagai seorang yang sabar, pemurah dan ramah, disamping itu beliau tidak mengajarkan sesuatu yang tidak beliau kerjakan, dengan kata lain segala sesuatu yang beliau ajarkan atau berikan pada muridnya sudah atau sedang ia kerjakan sendiri.

Hal ini merupakan salah satu faktor yang membuat para santri maupun jamaahnya simpatik terhadap kepribadian beliau, sehingga petuah dan ajaran-ajarannya dapat diterima dan sangat diperhatikan oleh para jamaah pada umumnya dan oleh para santri pada khususnya.

Salah satu kelebihan yang tidak banyak dimiliki kiai lain adalah kemampuannya dalam kewirausahaan. Tak hanya mengajar mengaji, beliau memiliki berbagai usaha yang menghasilkan uang sekaligus melatih para santrinya untuk bisa berwirausaha, terutama dalam bidang pertanian dan perikanan. Beliau juga dikenal sebagai kiai yang banyak memiliki ilmu hikmah atau ilmu kesaktian. Hal ini menambah kewibawaannya di kalangan masyarakat.

Beliu meninggal pada tanggal 10 Juni 2022 di usia 77 tahun.

SAHABAT NABI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

  A. Nama dan Asal Usul Abu Bakar Ash-Shiddiq Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan sanga...