Cerita Hikmah 3 (Menyambut Bulan Ramadhan)

 Rasulullah saw. bersabda : "Barang siapa bergembira akan datangnya bulan Ramadhan,diharamkan Allah jasadnya menyentuh api neraka" (HR. Nasa'i)

Seorang ulama' bercerita : Dahulu ada orang bernama Muhammad,orang itu mudah teledor dan terkadang meninggalkan sholat.

Tetapi jika tiba bulan Ramadhan ,ia merapikan diri dengan pakaian yang bagus,memakai wewangian ,tekun berpuasa dan rajin shalat.

Bahkan ia sempatkan mengqodo'i kekurangan shalat-shalat yang pernah dia tinggalkan.

Ketika ditanya : " Mengapa engkau berbuat begitu ?"

Dia menjawab : "Ini bulan taubat,rahmat dan berkah.Semoga Allah memaafkan diriku dibulan Ramadhan ini dengan Karunia-Nya."

Kemudian setelah orang itu meninggal,aku bertemu dengannya di dalam mimpi,dan aku bertanya :" Bagaimana Allah swt. menyambutmu ?"

Dia menjawab : " Allah swt mengampuni dosa-dosaku sebab aku menghormati bualan Ramadhan "

Untuk itu saudaraku seiman,marilah kita senantiasa menjaga dan meningkatkan amal-amal ibadah kita,bertaubat dari dosa-dosa ma'siat karena pintu ampunan Allah senantiasa terbuka luas untuk hambanya yang mau bertaubat,sebesar apapun dosa yang kita perbuat,Insyaallah pasti mendapatkan ampunan.

(Irsyadul Ibad)


Syekh Kuro

Syekh Kuro adalah seorang tokoh sufi yang terkenal di kalangan masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di daerah Sumatera. Ia dikenal sebagai seorang ulama yang mendalam ilmunya dan memiliki pengaruh besar dalam penyebaran ajaran Islam, khususnya dalam hal tasawuf dan pendidikan agama. Meskipun banyak kisah dan cerita mengenai kehidupan Syekh Kuro, sebagian besar sumber mengenai beliau masih bersifat lisan, yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat.

Perjalanan Spiritual dan Pembelajaran Islam

Syekh Kuro lahir di sebuah desa kecil di Sumatera pada abad ke-19. Sejak kecil, ia dikenal memiliki kecerdasan luar biasa dan rasa ingin tahu yang mendalam terhadap agama. Ayahnya, seorang guru agama, sering mengajarkan dasar-dasar ilmu agama, namun Syekh Kuro merasa ada yang lebih dalam yang perlu ia cari.

Pada usia muda, Syekh Kuro memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya dan melakukan perjalanan spiritual. Ia menuju ke berbagai tempat untuk mencari ilmu dari para ulama dan sufi terkemuka. Perjalanan ini membawanya ke berbagai penjuru dunia, dari Mekkah hingga ke Mesir, dan ia belajar dari banyak guru spiritual besar di zamannya.

Di Mekkah, Syekh Kuro mendalami ilmu tasawuf dan fiqih. Di sana, ia bertemu dengan sejumlah ulama besar yang memberikan pencerahan spiritual dan memperdalam pemahaman Syekh Kuro tentang makna kehidupan dan kedekatan kepada Tuhan. Setelah bertahun-tahun belajar, Syekh Kuro merasakan panggilan untuk kembali ke tanah air dan membagikan ilmu serta pengalamannya.

Kembali ke Indonesia, Syekh Kuro mendirikan sebuah pesantren di daerah Kuro, yang menjadi pusat pendidikan agama. Pesantren ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama secara tradisional, tetapi juga mengajarkan ilmu tasawuf yang mendalam, tentang cara mendekatkan diri kepada Tuhan dengan kesederhanaan hati dan keikhlasan.

Syekh Kuro juga dikenal sebagai seorang yang sangat disiplin dalam beribadah. Ia mengajarkan bahwa dalam setiap aspek kehidupan, seseorang harus selalu menjaga hubungan dengan Tuhan dan selalu bersikap tawadhu serta sabar. Dalam mengajarkan murid-muridnya, ia menekankan pentingnya menjaga hati dan membersihkan diri dari segala bentuk penyakit hati seperti sombong, iri, dan dengki.

Kisah mengenai Syekh Kuro juga dipenuhi dengan cerita tentang mukjizat kecil yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-harinya. Misalnya, ada yang bercerita bahwa ketika ia sedang mengajar, hujan lebat tiba-tiba turun dan membuat seluruh desa banjir. Namun, rumah dan pesantren yang ia dirikan tetap kering, seolah-olah dilindungi oleh kekuatan Tuhan.


Syekh Kuro juga dikenal memiliki sifat dermawan. Ia selalu membantu orang yang membutuhkan, baik itu dengan memberikan ilmu, materi, maupun nasihat yang membangun. Banyak orang yang datang kepadanya untuk meminta petunjuk hidup, dan Syekh Kuro dengan sabar memberikan solusi dengan cara yang lembut dan penuh kasih.

Pengaruh dan Legasi

Syekh Kuro meninggal dunia pada usia yang cukup tua, namun warisannya tetap hidup dalam bentuk ilmu dan pesan-pesan moral yang ia ajarkan. Pesantrennya menjadi salah satu tempat pendidikan agama yang terkemuka di Sumatera. Banyak ulama dan cendekiawan yang pernah belajar di bawah bimbingan beliau, dan mereka menyebarkan ajaran Syekh Kuro ke seluruh penjuru Indonesia.

Hingga saat ini, masyarakat di daerah sekitar Kuro sering mengadakan peringatan untuk mengenang jasa dan perjuangan Syekh Kuro dalam menyebarkan ajaran Islam. Nama beliau terus dihormati, dan banyak orang yang datang ke makamnya untuk berziarah, meminta doa, dan memohon berkah.

Kisah Syekh Kuro adalah kisah tentang pencarian spiritual yang tak kenal lelah, pengabdian tanpa pamrih, dan perjuangan untuk menyebarkan kebaikan dan kedamaian melalui ajaran agama yang mendalam. Ia tetap menjadi teladan bagi banyak orang dalam menjalani hidup yang penuh dengan keimanan, kebijaksanaan, dan kesederhanaan.

KISAH KH.MUHAMMAD THOIFUR MAWARDI PURWOREJO

Beliau adalah kyai yang masyhur karena kelebihannya mirip dengan Waliyulloh.  Salah satu karomah KH.Muhammad Thoifur ini adalah tidak basah meski berjalan di bawah hujan. Doa-doa yang disampaikan KH.Muhammad Thoifur Mawardi ini selalu mustajabah, banyak kyai dan ulama meminta doa dari beliau. 


Di Makkah ada sumur yg bernama bi’ru Thoifur (sumur thoifur), sumur itulah yg digunakan keperluan sehari-hari oleh para santri Abuya Sayyid Maliki di Ma’had Rusaifah,  Dahulu ketika Abuya ingin membuat sumur, beliau meminta saran kepada santri kesayangannya yaitu Abah Thoifur yg sudah menjadi kebiasaan baginya untuk bermimpi bertemu Rosululloh, agar sekiranya Rosululloh bisa memberi petunjuk dimana tempat yg memang cocok untuk dibuatkan sumur, dan akhirnya dibuatlah sumur yg sesuai dengan petunjuk dari Rosululloh lewat mimpi santri tersebut, dan atas jasanya sumur itu diabadikan dengan nama beliau. 

Bahkan dulu ketika Abuya ingin berkunjung ke luar negeri, beliau sering meminta saran kepada santrinya ini agar menanyakan kepada Rosululloh, apakah Rosululloh merestui atau tidak, jika iya maka beliau akan berangkat tapi jika tidak beliaupun tidak jadi berangkat.  Ahli mimpi bertemu Rosululloh, inilah citra yang sangat melekat pada abah Thoifur, dan kisah diatas hanya sedikit dari cerita beliau bermimpi Rosululloh, karena memang itu sudah menjadi kebiasaannya. 

Dulu beliau nyantri di Abuya selama 12 tahun, karena ke’alimannya, beliau sempat disuruh mengajar oleh Abuya dan tercatat bahwa Mbah Najih MZ pun pernah belajar kepada beliau.  Sekarang beliau menjadi Pengasuh Pesantren Darut Tauhid Kedungsari Purworejo. 

اللهم صل على سيد نا محمد وعلى ال سيد نا محمد

Ijazah Kubro

Biografi KH. Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah)

 

Nama Lengkap: Miftah Maulana Habiburrahman 
Nama Populer: Gus Miftah
Tempat dan Tanggal Lahir: Kudus, Jawa Tengah, 10 Agustus 1976
Agama: Islam
Pekerjaan: Dai, Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Pengusaha, Penulis
Kewarganegaraan: Indonesia

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Gus Miftah adalah seorang ulama muda yang dikenal sebagai sosok yang inspiratif dan memiliki pendekatan yang terbuka terhadap dakwah Islam. Ia lahir di Kudus, Jawa Tengah, dan berasal dari keluarga yang religius. Sejak kecil, Gus Miftah sudah dikenalkan dengan dunia pesantren, berawal dari pendidikan formal di pondok pesantren dan di sekolah umum.

Setelah menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah, Gus Miftah melanjutkan pendidikan di Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Namun, dunia pesantren dan dakwah menjadi jalan hidup yang akhirnya ia pilih, mengikuti jejak banyak ulama besar.

Kiprah Dakwah

Gus Miftah dikenal sebagai dai yang aktif dalam mengajarkan Islam dengan pendekatan yang tidak kaku dan lebih santai, namun tetap menjaga nilai-nilai ajaran agama. Ia dikenal dekat dengan kalangan muda dan mampu berkomunikasi dengan mereka melalui cara yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Salah satu pencapaian besar Gus Miftah adalah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji yang berlokasi di Sleman, Yogyakarta. Pondok pesantren ini terkenal dengan pendekatannya yang modern, mengkombinasikan ajaran Islam dengan kearifan lokal dan kultur modern.

Gus Miftah juga terkenal dengan dakwahnya yang inklusif, tidak membedakan latar belakang orang yang mendengar dakwahnya, termasuk mereka yang berasal dari kalangan yang sebelumnya mungkin kurang mendapatkan perhatian dalam dunia dakwah mainstream. Ia aktif berdakwah di berbagai tempat, termasuk di media sosial, untuk menyebarkan pesan-pesan kedamaian, toleransi, dan kesederhanaan hidup dalam Islam.

Aktivitas di Dunia Sosial

Selain sebagai pendakwah, Gus Miftah juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Ia kerap melakukan pengajian di berbagai kalangan, termasuk di kalangan artis, komunitas, dan masyarakat umum. Gus Miftah dikenal memiliki karakter yang santai, humoris, dan penuh kasih sayang, yang membuatnya diterima luas oleh masyarakat berbagai kalangan.

Ia juga dikenal sebagai sosok yang tidak segan untuk berbicara tentang isu-isu sosial yang tengah berkembang di masyarakat, seperti toleransi, pemahaman agama yang moderat, dan pentingnya menjaga ukhuwah islamiyah.

Karya dan Buku

Gus Miftah tidak hanya aktif di dunia dakwah, tetapi juga menulis buku-buku yang berisi tentang kehidupan spiritual dan dakwah Islam yang moderat. Buku-bukunya banyak menginspirasi para pembaca untuk lebih memahami agama dengan cara yang lebih ringan dan tidak menghakimi.

Kehidupan Pribadi

Gus Miftah menikah dan memiliki anak, meskipun ia sering kali memilih untuk menjaga privasi keluarganya. Sebagai seorang pemuka agama muda, ia tetap menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan dakwah, serta selalu berusaha menginspirasi orang untuk hidup dengan kasih sayang dan penuh kebaikan.

Pengaruh dan Kontroversi

Gus Miftah sering menjadi pembicara di berbagai forum, baik di dalam negeri maupun internasional. Namun, pendekatan dakwahnya yang tidak selalu tradisional kadang menuai kontroversi, terutama bagi mereka yang lebih konservatif dalam pandangan agama. Meskipun demikian, ia tetap dikenal luas sebagai sosok yang dapat mendamaikan perbedaan dan membawa banyak orang kepada pemahaman agama yang lebih ramah dan toleran.

Kesimpulan

Gus Miftah adalah salah satu dai muda yang berhasil membawa perubahan dalam cara pandang masyarakat terhadap agama, terutama dalam hal bagaimana agama Islam dapat dipahami secara lebih inklusif, ramah, dan moderat. Melalui pesan-pesan dakwahnya yang selalu relevan dengan perkembangan zaman, Gus Miftah menjadi salah satu tokoh yang patut diperhitungkan dalam dunia dakwah Indonesia.

Kisah Perjuangan Jenderal Sudirman

Jenderal Sudirman adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang paling dihormati. Beliau dikenal karena perjuangannya yang gigih dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda, serta ketangguhan dan keteguhan prinsipnya yang luar biasa meskipun dalam keadaan yang sangat sulit. Kisah perjuangannya tidak hanya tentang kemenangan di medan perang, tetapi juga tentang keberanian, pengorbanan, dan semangat juang yang tidak pernah padam meskipun dalam kondisi fisik yang sangat terbatas.

Masa Muda dan Awal Karier Militer

Sudirman lahir pada tanggal 24 Januari 1916 di Purbalingga, Jawa Tengah. Beliau berasal dari keluarga sederhana, namun didorong oleh semangat untuk memperbaiki nasib bangsanya, Sudirman memutuskan untuk berjuang. Pada awalnya, ia menempuh pendidikan di sekolah dasar dan lanjut ke sekolah pendidikan guru (Hollandsch-Inlandsche School). Namun, semangatnya untuk bergabung dalam pergerakan kemerdekaan mendorongnya untuk mengikuti pendidikan militer.

Sudirman bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang didirikan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Dalam waktu singkat, ia menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang luar biasa dan berhasil meraih jabatan tinggi dalam TKR. Namun, kisahnya yang paling dikenang adalah perjuangannya dalam menghadapi Belanda yang kembali berusaha menjajah Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan.

Perjuangan Melawan Belanda dan Penderitaan Pribadi

Pada tahun 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II yang bertujuan untuk menghancurkan pemerintah Republik Indonesia dan merebut kembali wilayah Indonesia. Jenderal Sudirman, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, menghadapi ujian yang sangat besar. Pada saat yang bersamaan, beliau sedang menderita penyakit tuberkulosis (TBC) yang sangat parah. Tubuhnya lemah, namun semangatnya untuk berjuang tidak pernah goyah.

Sudirman, meskipun dalam keadaan sakit yang parah, tetap memimpin pasukannya dengan penuh keberanian. Pada saat itu, Belanda sudah menguasai banyak wilayah penting, termasuk ibu kota Yogyakarta. Namun, Jenderal Sudirman tidak pernah menyerah. Dengan tekad bulat, ia memimpin pasukan gerilya untuk melawan penjajah meskipun ia harus bergerak dengan kondisi fisik yang sangat buruk. Banyak pertempuran sengit yang terjadi, dan Sudirman selalu berada di garis depan.

Keberanian Sudirman semakin terbukti ketika ia memutuskan untuk meninggalkan Yogyakarta yang dikuasai Belanda pada 19 Desember 1948. Dalam kondisi tubuhnya yang semakin lemah, ia tetap melanjutkan perjuangan dengan bergerak secara gerilya. Ia memimpin pasukan Indonesia untuk melawan Belanda melalui serangan-serangan kecil namun efektif, yang memaksa Belanda untuk memikirkan kembali rencana mereka untuk menundukkan Republik Indonesia.

Perjuangan Gerilya dan Semangat Tanpa Batas

Sudirman memimpin perang gerilya dengan cara yang tidak biasa. Ia memilih untuk bergerak dalam kelompok-kelompok kecil yang sulit dideteksi oleh Belanda. Pada saat itu, tentara Indonesia yang terdiri dari para pejuang yang sebagian besar masih muda dan kurang dilatih, namun dengan semangat juang yang luar biasa, mampu memberikan perlawanan yang sengit. Meskipun banyak pasukan Indonesia yang harus bersembunyi di hutan, Sudirman selalu mengingatkan mereka bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan, meskipun dengan pengorbanan besar.

Setiap gerakan Sudirman selalu diperhitungkan dengan matang. Ia tidak hanya memimpin dalam pertempuran, tetapi juga menyusun strategi yang membuat musuh kewalahan. Namun, penyakitnya semakin parah. Jenderal Sudirman semakin sulit bergerak, namun semangatnya tidak pernah padam. Dalam salah satu catatan sejarah, ada kisah tentang bagaimana ia dipapah oleh para pengikutnya untuk menghadiri rapat penting meskipun kondisinya sudah sangat lemah.

Pada tahun 1950, Jenderal Sudirman akhirnya harus mundur dari medan perang. Namun, perjuangannya selama perang gerilya telah memberikan dampak besar bagi moral bangsa Indonesia. Meskipun harus menerima kenyataan bahwa Indonesia belum sepenuhnya bebas dari ancaman Belanda, perjuangan Jenderal Sudirman telah membuka jalan menuju kebebasan yang lebih nyata bagi bangsa Indonesia.

Akhir Hayat dan Warisan Perjuangan

Jenderal Sudirman meninggal dunia pada tanggal 29 Januari 1950, hanya beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Penyakit yang dideritanya selama perang gerilya akhirnya menyebabkan beliau wafat. Namun, meskipun tubuhnya telah tiada, semangat dan perjuangannya tetap hidup dalam sanubari rakyat Indonesia.

Jenderal Sudirman dikenang sebagai simbol keteguhan, keberanian, dan semangat juang tanpa pamrih. Namanya terukir dalam sejarah Indonesia sebagai salah satu pahlawan terbesar yang tak kenal lelah berjuang untuk kemerdekaan bangsa. Tidak hanya sebagai seorang pemimpin militer, beliau juga dikenal sebagai seorang pemimpin yang bijaksana dan penuh kasih kepada sesama.

Perjuangan Jenderal Sudirman mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan bukanlah hasil dari kekuatan fisik semata, tetapi juga berasal dari tekad dan semangat juang yang tidak pernah padam. Meskipun menghadapi banyak rintangan, termasuk sakit dan penderitaan, beliau tetap berjuang demi kebebasan tanah airnya.


Pentingnya Tawakal

 Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Amir. Ia dikenal sebagai sosok yang pekerja keras, tetapi kehidupannya selalu penuh tantangan. Amir memiliki impian besar untuk membangun usaha pertanian yang bisa meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Namun, setiap kali ia mencoba, selalu ada rintangan yang menghadang, mulai dari cuaca buruk hingga gagal panen.

Suatu ketika, Amir mendengar kisah seorang petani sukses di desa sebelah yang mampu mengubah ladangnya menjadi sumber rezeki yang melimpah. Terkagum, Amir memutuskan untuk pergi menemui petani tersebut dan memohon nasihatnya. Petani itu dengan sabar mendengarkan keluh kesah Amir dan berkata, “Amir, yang terpenting adalah tawakal. Setelah berusaha, serahkan hasilnya kepada Allah SWT. Dia yang menentukan.”

Dengan penuh semangat, Amir kembali ke desanya. Ia mulai merencanakan usaha pertaniannya dengan lebih matang. Ia belajar dari pengalaman sebelumnya, mencari cara-cara baru untuk merawat tanamannya, dan tidak pernah lelah berdoa. Namun, seperti biasanya, tantangan kembali datang. Musim kemarau yang panjang membuat tanahnya kering dan tanamannya layu.

Meski hatinya berat, Amir tidak menyerah. Ia terus berusaha mencari solusi, hingga akhirnya ia menemukan cara untuk mengalirkan air dari sungai terdekat. Dengan kerja keras dan kerjasama dari penduduk desa, mereka berhasil membangun saluran irigasi sederhana. Tanah yang sebelumnya kering kini mulai subur kembali.

Ketika musim panen tiba, hasilnya melimpah. Tanaman Amir tumbuh dengan baik, dan ia panen lebih banyak dari yang ia bayangkan. Kabar suksesnya menyebar ke seluruh desa, dan orang-orang datang untuk belajar dari Amir. Ia tidak hanya berhasil membangun usaha pertanian, tetapi juga menginspirasi banyak orang untuk tidak mudah menyerah dan selalu tawakal.

Amir pun menyadari, bahwa tawakal bukan berarti pasrah tanpa berusaha. Tawakal adalah keyakinan bahwa setelah berusaha maksimal, kita harus menyerahkan hasilnya kepada Tuhan dengan penuh keikhlasan. Dengan prinsip ini, hidupnya berubah menjadi lebih bermakna, dan ia terus membantu orang lain yang menghadapi tantangan serupa.

Kisah Amir menjadi pelajaran bagi semua orang di desa itu: betapa pentingnya menjaga semangat dan tawakal dalam menghadapi setiap cobaan hidup. Dengan iman dan usaha, segala sesuatu mungkin untuk dicapai.

Dari kisah diatas dapat disimpulkan bahwa,Tawakal secara bahasa berarti pasrah. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebut tawakal dengan “Pasrah diri kepada kehendak Allah SWT; percaya dengan sepenuh hati kepada Allah SWT.” Sedangkan sebagian masyarakat memahami tawakal sebagai menyerah pada keadaan dan kenyataan tanpa sebab/upaya/ikhtiar/syariat. Pemahaman sebagian orang tersebut perlu ditanggapi. Pada Kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyah diterangkan sebagai berikut:

واعلم أن التوكل محله القلب، والحركة بالظاهر لا تنافي التوكل بالقلب، بعد ما تحقق العبد أن التقدير من قبل الله تعالى؛ فإن تعسر شيء فبتقديره، وإن اتفق شيء فبتيسيره

 

Artinya, “Ketahuilah, tawakal bertempat di hati. Sedangkan gerakan fisik lahiriah tidak menafikan kerja tawakal di hati setelah keyakinan seorang hamba mantap di hati bahwa takdir berasal dari Allah SWT. Jika suatu kenyataan itu tampak sulit, maka berlaku takdir-Nya. Tetapi jika suatu kenyataan sesuai dengan keinginannya, maka itu terjadi berkat kemudahan yang diberikan Allah.” (Abul Qasim Al-Qusyairi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, [Kairo, Darus Salam: 2010 M/1431 H], halaman 92).

Dari sini kita mendapatkan penjelasan bahwa tawakal di satu sisi adalah sikap batin yang tenang karena menyerahkan urusan kepada Allah. Sedangkan sebab/upaya/ikhtiar/syariat adalah aktivitas lahiriah fisik untuk menuju keinginan yang diidealkan di sisi lain.

Cerita Hikmah 2 ( Mi'raj Nabi)

 Setelah melakukan Isra' yakni perjalanan (diberangkatkan)nya Nabi Muhammad saw.,oleh Allah swt dari Masjidil Haram sampai Masjidil Aqsa.

Kemudian beliau disertai malaikat Jibril as,melakukan Mi'raj yaitu dinaikannya Nabi Muhammad saw,ke langit hingga Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi untuk berjumpa dengan Allah swt.

Dari peristiwa yang sangat penting dan berharga itu,Nabi Muhammad saw mendapat perintah langsung shalat lima waktu.

Allah swt,berfirman :

وَلَقَدۡ رَاٰهُ نَزۡلَةً اُخۡرٰىۙ‏ ١٣

Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,

عِنۡدَ سِدۡرَةِ الۡمُنۡتَهٰى‏ ١٤

(yaitu) di Sidratilmuntahā,

عِنۡدَهَا جَنَّةُ الۡمَاۡوٰىؕ‏ ١٥

di dekatnya ada surga tempat tinggal,

اِذۡ يَغۡشَى السِّدۡرَةَ مَا يَغۡشٰىۙ‏ ١٦

(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratilmuntahā diliputi oleh sesuatu yang meliputinya,

مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَمَا طَغٰى‏ ١٧

penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.

لَقَدۡ رَاٰى مِنۡ اٰيٰتِ رَبِّهِ الۡكُبۡرٰى‏ ١٨

Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.

(QS An-Najm : 13-18)


Setelah Nabi Muhammad saw melewati telaga Al-Kautsar,surga dan neraka kemudian beliau menuju sidratul muntaha.

Dan Allah swt. berfirman kepada Nabi Muhammad saw. :

" Wahai Muhammad "

Nabi Muhammad menjawab dengan sabdanya "Labaik wahai Rabbku "

Allah swt. berfirman lagi :

" Mintalah sesuka hatimu"

Nabi Muhammad saw bersabda :

"Ya Allah ,Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil (teman dekat),Engkau mengajak bicara Musa,Engkau berikan Dawud kerajaan dan kekuasaan yang besar,

Engkau berikan Sulaiman kerajaan agung lalu ditundukkan kepadanya jin,manusia,syaitan serta angin,

Engkau ajarkan Isa at Taurat dan Injil dan Engkau jadikan dia dapat mengobati orang yang buta dan belang serta menghidupkan orang mati".

Kemudian Allah swt berfirman :

"Sungguh Aku telah menjadikanmu sebagai kekasihku"

SAHABAT NABI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

  A. Nama dan Asal Usul Abu Bakar Ash-Shiddiq Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan sanga...